Kamis, 05 November 2009

Tukang perahu dan cendikiawan

TUKANG PERAHU DAN SANG CENDIKIAWAM
oleh IMB Arjana

PROLOG

Seorang cendikiawan yang sangat tersohor dan terkenal dengan kemampuan intektualnya akan melakukan suatu perjalanan untuk memenuhi tugas lembaga yang mengutusnya dalam rangka memberikan siraman rohani. Daerah yang akan dituju sangatlah jauh dan sarana tranportasi untuk menuju daerah tersebut hanya dapat ditempuh dengan mengunakan perahu tradisional. Perjalanan menuju daerah tersebut membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam dengan mengarungi sungai yang luas dan dalam serta arusnyapun cukup deras. Sebagai seorang inteletual ia merasa terpanggil untuk mencerdaskan masyarakat di daerah itu. Itu sebabnya ia memutuskan pergi mengemban tugas mulia itu.
Perlu diketahui bahwa cendikiawan tersebut mempunyai karakter dan kebiasaan yang selalu menonjolkan ego pribadinya tanpa mempunyai rasa empati kepada orang lain. Sang cendikiawan juga sangat bangga akan kemampuan intelektualnya, dalam ceramah-ceramah agama ia selalu merasa unggul, demikian juga dalam diskusi-diskusi ilmiah, seminar dan kegiatan-kegiatan akademik lainnya. Kemampuan intektual yang ia miliki merupakan suatu kebanggan tersendiri bagi dirinya.
Dalam perjalanannya sarana tranfortasi berupa mobil hanya sampai pada ujung desa, yang selanjutnya perjalanan akan dilanjutkan dengan tranportasi perahu. Sang cendikiawan sangat terkejut melihat bentangan sungai yang sangat luas dan arus yang begitu deras akibat cuaca yang sedang tidak bersahabat. Akhirnya sang cendikiawan menyewa tukang perahu tradisional untuk menghantarkannya pada tujuan. Dalam perjalanan itulah terjadi dialog antara sang cendikiawan dan tukang perahu .




DIALOG
Sambil berkacak pinggang sang cendikiawan dengan sun glassnya menyapa tukang perahu paruh baya yang sedang .bercengkrama dengan putranya ditepi sungai yang sedang menunggu penumpang. Sang cendikiawan berkata dengan nada yang sedikit congkak .
Cendikiawan : Pak tukang perahu, antarkan saya ke desa seberang ?
Sambil tertunduk-tunduk memberi hormat dan dengan bahasa yang sangat sopan tukang perahu menjawab.
Tukang perahu : Swastyastu pak, saya dengan senang hati akan menghantarkan bapak sampai ke tujuan.
Lalu tukang perahu melepaskan tali pengikat perahunya, kemudian mempersiapkan perahunya dan membantu sang cendikiawan naik perahunya serta dengan hati-hati membawa barang-barang sang cedikiawan.
Sambil menikmati pemandangan alam sekitar sungai sang cendikiawan mulai berbicara dengan tukang perahu.
Cendikiawan : Perahu bapak sudah sangat tua, lagi pula alat yang bapak gunakan masih sangat primitif sekali (maksudnya dayung) kenapa bapak tidak menggantinya dengan yang baru saja dan dengan teknologi yang lebih canggih untuk kelancarannya laju perahunya ( maksudnya mesin boat)
Tukang Perahu : Perahu saya ini adalah warisan dari almarhum ayah saya dan merupakan satu-satu penopang hidup keluarga saya. Jangankan untuk mengantinya dengan yang baru, untuk makan sehari-haripun kami sangat susah. Tetapi saya sangat mensyukuri hidup saya ini, dan saya tidak pernah menyesal akan semua ini.
Dengan keringat dibadan tukang perahu terus mendayung perahu tuanya karena secara tiba-tiba angin bertiup dari arah berlawanan, sehinnga memperlambat laju perahunya.

Cendikiawan : Wah…. angin bertiup cukup kencang, Saya bisa terlambat ini. Sedangkan saya harus secepatnya sampai ke sana karena misi saya ini sangatlah penting.
Tukang perahu lalu menanyakan maksud kedatangan sang cendikiawan ke desa seberang itu.
Tukang perahu : Maaf pak, kalau boleh saya tahu, tujuan bapak ke desa seberang untuk apa ?
Sang cendikiawan lalu menceritakan maksud kedatangannya, dan sebelum itu dengan bangganya ia memperkenalkan diri, bahwa ia adalah seorang cendikiawan terkenal dan tersohor dan dikagumi oleh semua orang.
Cendikiawan : Tujuan saya adalah untuk mencerdaskan kehidupan spitritual masyarakat di desa itu, khususnya pemahaman tentang nilai-nilai kehidupan keagamaan, selama ini saya dikenal oleh masyarakat pandai dalam hal tersebut. (sambil membanggakan diri)
Tukang Perahu : Maaf pak cendikiawan, memangnya ada apa dengan kehidupan spiritual masyarakat desa itu, setahu saya kehidupan keagamaan masyarakat desa itu baik-baik saja, mereka tiap hari sembahyang dan hubungan socialnya juga sangat baik.
Dengan nada tinggi sang cendikiawan menjawab.
Cendikiawan : Wah… gimana bapak ini, saya ditugaskan ke sana justru ingin membenahi pemahaman agama masyarakat desa itu, selama ini budaya-budaya keagamaan masyarakat desa itu tidak sesuai dengan ajaran Veda. Saya ingin agar ajaran Veda ditegakkan didesa itu, dan tidak berdasarkan ajaran-ajaran yang mule keto.
Tukang Perahu : O…. begitu pak ya! (dengan nada heran) Saya sendiri tidak mengerti Veda, tetapi saya dan masyarakat di desa juga masih menganut budaya agama leluhur saya. Dan selama ini hampir tidak pernah terjadi konplik-konplik internal diantara kami, hidup kami rukun dan damai.
Sang cendikiawan memulai ceramahnya.
Cendikiawan : Bapak ini gimana sih…Bapak sebagai penganut Hindu seharusnya membantu saya dalam memperbaiki pemahaman keagaamaan masyarakat desa bapak, aktivitas-aktivitas keagamaan, budaya-budaya agama yang semestinya dilakukan harus kembali pada kitab suci Veda dan bukan mempertahankan budaya-budaya primitif. Jika demikian adanya maka sia-sialah hidup bapak ini, duapuluh lima persen dari hidup bapak sudah anda tenggelamkan di sungai ini.
Sang cendikianwan mencontohkan budaya-budaya veda secaara tekstual, dengan membaca sloka-sloka Veda seperti jenis pemujaan, sarana pemujaan, cara pemujaan, makanan yang boleh dikonsumsi dll. Tukang perahu hanya bisa mengangukan kepalanya sebagai ekpresi ketidakmengertiannya, karena ia tidak berani menyanggah pernyaatan sang cendikiawan.
Tukang Perahu : Mohon maaf pak, saya orang bodoh dan tidak berpendidikan, tetapi apakah saya salah masih menghormati dan mempertahankan budaya-budaya leluhur saya?
Sang cendikiawan langsung memvonis bahwa aktivitas-aktivitas yang tidak mengacu pada veda adalah salah.apa.
Cendikiawan : Sudah tentu salah. Apalagi anda tidak berpendidikan. sudah tentu anda tidak bisa mambaca dan menulis, berarti lima puluh persen hidup bapak terbuang percuma dan anda tenggelamkan sendiri di sungai ini. Bagaimana orang yang tidak berpendidikan mendapatkan suatu kecerdasan? Coba bapak pikir itu?
Sambil membagakan diri sang cendikiawan bercerita tentang pendidikan dan gelar akademik yang disandangnya. Bahwa ia telah belajar sampai ke negeri seberang untuk mendalami ajaran agama.
Sembari mendayung perahunya, ia terus mendengarkan pembicaraan sang cendikiawan yang nota bene awam dan belum dipahami sama sekali.
Tukang Perahu : Pak, mungkin perjalanan kita terlambat, karena angin yang bertiup cukup kencang.
Tukang perahu terus berjuang melawan derasnya arus akibat tiupan angin, sementara perahu yang di tumpangi sang cendikiawan sudah mulai oleng ke kiri dan kekanan, terkadang air sungai sudah masuk kedalam perahu. Sehingga sebagian barang bawaan sang cendikiawan mulai basah.
Sang cendikiawan dalam hatinya mulai cemas akan perjalanan ini tetapi ia dapat menyembunyikan ekpresi kecemasannya itu. Ia terus mengumandangkan tentang ajaran-ajaran yang dianutnya, seperti pentingnya pemujaan pada salah satu dewa pavorit saja, tentang sarana-sarana pemujaan yang digunakan saat upacara keagaammaan, pentingnya vegetarian, dana punya dan lain sebagainya.
Kemudian secara tiba-tiba keadaan cuaca membaik kembali.
Cendikiawan : Benarkan ….apa yang saya katakan tadi Tuhan telah mendengarkan semuanya. secara tiba-tiba cuaca yang tadinya tidak bersahabat sekarang sudah cukup baik. Apakah bapak mendengarkan apa yang tadi saya katakana ?
Tukang Perahu : Ya pak.
Sebenarnya tukang perahu sama sekali tidak mendengarkan apa yang telah dikatakan sang cendikiawan, karena konsentrasi tukang perahu hanya tertuju pada perahunya agar tidak terbawa arus dan tenggelam akibat tiupan angin.
Sementara itu sang cendikian merasa bangga akan dirinya, ia beranggapan berkat wejangan-wejangan agama yang telah ia katakan dapat merubah cuaca yang tadinya tidak bersahabat menjadi normal kembali. Sang cendikian tidak menyadari bahwa musibah besar akan mengganti suasana yang kondusif itu akibat dari penomena alam.
Cendikiawan : Itu adalah suatu bukti, bahwa saya lebih unggul dari siapapun, dengan doa-doa yang saya lantunkan Tuhan telah mendengarkannya, dan secara langsung merubah kondisi menjadi lebih baik. Oleh karena itu bapak harus mengikuti apa yang telah saya sarankan mulai dari perjalanan tadi hingga sampai ke tujuan nanti. Ngomong-ngomong sekarang menunjukan pukul berapa dan berapa menit lagi kita akan sampai pak ?
Tukang Perahu perahu melihat ke atas melihat posisisi matahari.
Tukang perahu : Sekarang baru pukul tiga sore dan setenggah jam lagi kita akan sampai pada tujuan.
Sang cendikiawan merasa heran, kenapa tukang perahu melihat ke atas dan berani berspekulasi bahwa sekarang pukul. tiga sore. Lalu ia menyarankan untuk membeli sebuah arloji agar tahu ketepatan waktu. Secara kebetulan arloji sang cendikiawan rusak akibat terkena air.
Cendikiawan : Jika bapak memiliki sebuah arloji di tangan, bapak tidak perlu lagi melihat posisi matahari sehingga ketepatan waktu akan akurat, karena bagaimanapun juga time is money kata sang cendikiawan. apalagi disaat-saat penting dalam suatu upacara keagamaan, mulai dari surya sewana sampai sandya sewana maka doa-doa yang akan kita haturkan akan terarah pada tujuan, sehinngg doa-doa kita akan terkabul. Ini berarti bapak menhia-nyiakan waktu, ini artinya hidup bapak terpotong lagi dua puluh lima persen, sehingga menjadi tujuh puluh lima persen dari hidup anda , anda sis-siakan dan tenggelamkan di sungai ini.
Tukang Perahu hanya menganggukan kepalanya, karena sebentar lagi akan datang angin ribut yang dapat menenggelamkan perahunya dan membayakan jiwanya. ia terus berdoa dalam hati semoga ia dan tamunya selamat, sembari berusaha mengendalikan perahunya yang sudah mulai oleng. sementara itu sang cendikiawan terus saja mengoceh tanpa menyadari keadaan yang sebentar lagi tiba dan akan membahayakan jiwanya. Dan akhirnya tukang perahu memberanikan diri mengajukan pertanyaan pada sang cendikiawan.
Tukang Perahu : Maaf ..pak saya akan mengajukan pertanyaan terakhir sebelum perahu ini tenggelam. Apakah bapak cendikiawan pernah belajar berenang?
Cendikiawan : Maksud kamu apa ? Selama ini saya tidak pernah belajar berenang.
Tukang sepatu : Sebentar lagi keadaan cuaca akan berubah dengan hebatnya. kemungkinan saya tidak bisa mengendalikan perahu saya ini. akibat angin ribut yang segera datang, dan kemungkinan perahu ini akan pecah berkeping-keping di hantam arus dan gelompang yang cukup deras.
Sang cendikiawan mulai ketakutan dan tidak henti-hentinya berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan, tanpa berusaha untuk menyelamatkan diri. sementara itu air sudah memenuhi dek perahu, dan angin semakin kencang
Cendkiawan : Gimana ini pak…tolong saya pak, saya tidak bisa berenang.
Sang cendikiawan sangat panic sekali .
Tukang sepatu : Maaf pak, karena bapak tidak bisa berenang, maka seratus persen hidup bapak, atau seluruh hidup bapak akan bapak tenggelamkan di sungai ini.
Dan akhirnya apa yang ditakutkan datang. Perahu terbalik. tukang perahu dapat menyelamatkan dirinya dengan cara berenang dan menumpang pada pecahan kayu perahu ke tepi, sedangkan sang cendikiawan tenggelam kedasar sungai yang dalam dengan membawa kesombong-kesombongannya.




EPILOG
Dari dialog antara tukang perahu dan sang cendikiawan tersebut diatas, maka pesan atau makna yang dapat dipetik adalah “ bila kita bepergian melalui sungai yang luas dengan arus yang deras, maka pengetahuan yang paling penting adalah bisa berenang. Karena bisa berenang lebih penting dari pengetahuan-pengetahuan yang hanya mengandalkan intektual saja seperti yang dialami oleh sang cendikiawan itu. Jika kita tidak bisa berenang, segala jenis pengetahuan yang kita bangga-banggakan akan sia-sia.
Dalam perjalanan hidup manusia akan selalu melewati sungai yang deras, penuh dengan gelombang –gelombang kehidupan dan tidak dapat diramalkan, dan kita harus mengetahui cara agar tetap berada diatas air dan bisa berenang ketepian. Untuk menyeberangi dengan selamat kita harus mempunyai pengetahuan tenyang atma dan kita harus mengembangkan kemampuan agar mengetahui apa yang berguna dan apa yang tidak berguna untuk menyeberangi sungai kehidupan duniawi. Bila kita tidak mempunyai kemampuan dalam bidang ini maka, tidak akan ada jalan bagi kita untuk sukses dalam hidup ini. Selama kekayaan material dan kemampuan rasio sebagai dasar tujuan hidup, manusia tidak akan pernah mendapatkan atau menikmati kebahagiaan sejati.
Tujuan membacaan mitologi keagamaan adalah untuk mengendapkan penonjolan rasio yang berlebihan dalam menghayati kesucian agama. Letak penghatan agama diatas kekuatan rasio. Meraih kesucian Tuhan tidak dapat dengan ketajaman rasio semata-mata. bahkan kalau rasio mendominir dalam proses penghayatan itu, akan menghantarkan seseorang kapada keragu-raguan dalam menyakini kesucian Tuhan.
Kemampuan dan ketajaman rasio (intelektual) bagi manusia adalah sangat penting dalam memenuhi kebutuhan duniawi, dan juga dapat dipakai unsur pembantu pada proses keagamaan agar tidak kehilangan arah atau pegangan yang benar. Oleh karena itu kaum cendikiawan yang memiliki kemampuan dan ketajaman rasio, juga dituntut memiliki ilmu pengetahuan sejati tentang jiwa (spirit), agar tidak tenggelam dalam mengarungi lautan kehidupan.
Kesimpualan akhir dari dialog itu adalah bahwa kesombongan akan membawa petaka bagi yang menbawanya, dan kerendahan hati yang diiringi dengan usaha keras serta selalu menyukuri hidup adalah merupakan modal utama menuju kebahagia sejati.
Melalui ilustrasi cerita itu, ada substansi yang dapat ditarik sebagi cermin kehidupan manusia yaitu : “ we can be prosfer at any level of income and our daily life is our true temple” yang artinya “ kita bisa sejahtera di setiap tingkatan pendapatan berapapun dan kehidupan sehari-hari kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar