Kamis, 05 November 2009

MENGGAGAS EKSISITENSI PASRAMAN
SEBAGAI MODEL PENDIDIKAN ALTERNATIF
DALAM MASYARAKAT HINDU INDONESIA YANG MAJEMUK
Oleh ; IBM Arjana

A. PENDAHULUAN
Pasraman adalah lembaga pendidikan khusus bidang agama Hindu. Lembaga ini merupakan alternatif, karena pendidikan agama Hindu yang diajarkan di sekolah formal dari tingkat sekolah dasar sampai dengan di sekolah Tinggi agama Hindu. Pada sekolah formal agama Hindu diajarkan sebagai ilmu pengetahuan, sedangkan di Pasraman tidak sebatas ilmu pengetahuan, melainkan sebagai bentuk latihan disiplin spiritual dan latihan menata hidup yang baik.
Studi tentang Pasraman di Kota Mataram menemukan bahwa pengelolaan Pasraman di Kota Mataram sangat sederhana bahkan terkesan masih bersifat kekeluargaan, identik dengan sistem pendidikan Guru Kula (Sistem pendidikan Pasraman di India), padahal Pasraman mengemban visi yang sangat baik, yaitu membangun dan meningkatkan prilaku yang baik (spiritual) dari peserta didik. Dengan demikian diperlukan suatu cara untuk menggagas pengelolaan pasraman agar dapat dikelola dengan baik.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Pasraman
Kata pasraman berasal dari kata “asrama” (sering ditulis dan di baca ashram) yang artinya tempat berlangsungnya proses belajar mengajar atau pendidikan. Pendidikan pasraman menekankan pada disiplin diri, mengembangkan akhlak mulia dan sifat-sifat yang rajin, suka bekerja keras, pengekangan hawa nafsu dan gemar untuk menolong orang lain. Konsep pasraman yang berkembang sekarang diadopsi dari sitim pendidikan Hindu jaman dahulu di India, sebagaimana disuratkan dalam kitab suci Veda dan hingga kini masih tetap terpelihara (Tim Penyusun, 2006 : 11). Sistim ashram menggambarkan hubungan yang akrab antara para guru (acarya) dengan para sisyanya, bagaikan dalam sebuah keluarga, oleh karena itu sistim ini dikenal pula dengan dengan para nama sistim pendidikan gurukula. Beberapa anak didik tinggal di pasraman bersama para guru sebagai anggota keluarga dan para guru bertindak sebagai orang tua siswa sendiri. Proses pendidikan di pasraman dari masa lampau itu masih tetap berlangsung sampai saat ini dikenal pula dengan istilah lainnya yakni parampara, di Jawa dan di Bali dikenal dengan istilah padepokan atau aguron-guron. Dewasa ini di India terdapat ribuan pasraman yang diasuh oleh guru-guru kerohanian, bahkan cabang-cabang perguruan ini telah berkembang di Eropa dan di Indonesia
Kini di Indonesia telah muncul dan berkembang banyak pasraman untuk mengantisipasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh umat Hindu, utamanya adalah masalah pendidikan agama Hindu dan di luar Bali, karena keterbatasan tenaga guru agama Hindu, maka yang tidak diperoleh di sekolah-sekolah pada umumnya, para siswa yang bersangkutan dapat mengikuti pendidikan agama Hindu melalui lembaga pasraman ini. Di luar Bali pendidikan pasraman pada umumnya berlangsung dilingkungan pura.
2. Strategi Dan Model Pembelajaran Pasraman
Proses pembelajaran adalah suatu sistem. dalam proses ini ada beberapa komponen yang saling terkait dalam rangka mencapai tujuan. Komponen-komponen tersebut adalah siswa, guru, materi/bahan ajar, strategi/model pembelajaran. strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai pola umum aktivitas guru dan siswa di dalam mewujudkan kegiatan kegiatan belajar-mengajar. dari pola umum kegiatan itu dapat dilihat macam dan urutan kegiatan yang ditampilkan oleh guru dan siswa. Dalam hal ini ada strategi yang lebih menekankan pada aktivitas guru, namun ada juga yang menekankan kegiatan pada siswa. Orientasi dan pendekatan ke depan haruslah ditekankan pada aktivitas siswa.
Pendidikan agama Hindu merupakan salah satu bidang studi yang harus dipelajari sebagai persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan pada semua jenjang pendidikan yang didesain dan diberikan kepada pebelajar yang beragama Hindu dengan tujuan untuk mengembangkan keberagamaan mereka. Tujuan pendidikan agama Hindu tidak terbatas pada transfer ilmu pengetahuan (Knowledge) saja, sebenarnya tujuan pendidikan agama Hindu sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yakni bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat membangun manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggungjawab terhadap pembangunan bangsa, sehingga jelas bahwa arah dan strategi pendidikan nasional adalah terbinanya manusia-manusia Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan memperhatikan aspek-aspek kecerdasan, keterampilan dan keahlian.
Pendidikan agama memegang andil yang tidak kecil dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional, pada pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa ada empat komponen tujuan pendidikan yang pencapaiannya menjadi beban pendidikan agama, yaitu : 1) memiliki kekuatan spiritual keagamaan, 2) pengendalian diri, 3) kepribadian dan 4) akhlak mulia. Keempat komponen di atas menunjukkan betapa besar pengaruh pendidikan agama dan betapa strategisnya posisi guru agama dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan yang diharapkan tersebut di atas. Dengan kata lain guru agama memiliki peranan yang besar dalam membina moralitas bangsa.
Terkait dengan konsep di atas dimaknai bahwa pendidikan agama Hindu menghendaki perubahan tingkah laku secara menyeluruh, utuh, dan integral yang meliputi seluruh aspek (potensi) yang ada pada diri manusia karena manusia merupakan makhluk hidup yang paling sempurna diantara makhluk hidup ciptaan Tuhan lainnya, seperti tertuang dalam kitab Sārasamuccaya Sloka 2 dan 4 sebagai berikut :
Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwang
juga wênang gumawayaken ikang subhāsubha karma,
kuneng panêntasakêna ring subhakarma
juga ikangaśubhakarma phalaning dadi wwang.

Artinya :
Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk, leburlah kedalam perbuatan baik segala perbuatan yang buruk itu, demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia (Kajeng, dkk, 2005 : 8).\
Apan ikang dadi wwang, uttama juga ya,
nimittaning mangkana, wênang ya tumulung
awaknya sangkeng sangsāra, makasādhanang
subhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika.

Artinya :
Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama, sebabnya demikian karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik, demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia (Kajeng, dkk, 2005 : 9).

Kesempurnaan tersebut dilihat dari potensi dasar yang dimiliki oleh manusia itu sendiri, yaitu potensi yang memungkinkan mereka untuk berkembang dan memberdayakan alam semesta beserta segala isinya sebagai wahana mengembangkan diri dan mempertahankan kehidupannya. Ada tiga potensi dasar yang dimiliki oleh manusia, yaitu Sabda (kemampuan untuk bersuara), Bayu (Potensi berupa tenaga) dan Idep (potensi akal pikiran) yang dikenal dengan Tri Pramana. Tumbuh-tumbuhan memiliki satu potensi dasar yaitu tenaga untuk hidup atau bayu yang disebut eka Pramana, hewan memiliki dua potensi dasar, yaitu tenaga (bayu) dan sabda (suara) yang disebut dwi pramana. Dan manusia dikatakan paling sempurna karena memiliki tiga potensi, yaitu bayu (tenaga), sabda (suara) dan idep (akal-pikiran) yang disebut tri pramana. Dalam konsep Bloom disebut kognitif, afektif, dan psikomotorik (Depdiknas, 2003 : 2). Dengan memiliki tiga potensi dasar tersebut manusia dapat membedakan perbuatan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan. Kemampuan berfikir atau akal yang dimilikinya dapat mengarahkan manusia dari perbuatan yang kurang baik dan mampu memperbaiki prilaku untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Kemampuan tersebut menjadi potensi utama bagi manusia untuk terus meningkatkan kualitas hidupnya. Secara fisik manusia adalah makhluk terlemah, tidak tahan panas, hujan, dingin, kulitnya mudah tergores, namun mereka mampu mengatasi segala kelemahan fisik yang dimilikinya dengan mengembangkan dan menciptakan teknologi sehingga mereka dapat menciptakan suasana yang aman dan nyaman, sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Dengan akal dan pikiran yang dimilikinya, manusia mampu mendayagunakan alam semesta beserta segala isinya untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, namun pendayagunaan alam harus diimbangi dengan kecerdasan serta sikap yang arif dan bijaksana dengan penuh pertimbangan agar kelestarian alam senantiasa terjaga dengan baik, apabila alam tidak lestari, dapat menimbulkan bencana yang sangat dahsyat. Oleh karena itu mewujudkan manusia yang cerdas dan berprilaku yang baik hendaknya menjadi visi atau cita-cita pendidikan dan pembelajaran. Agar pendidikan nasional mampu mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan suatu strategi yang mantap yaitu langkah-langkah yang disusun secara terencana dan sistematis dengan menggunakan pendekatan, metode dan teknik tertentu. Sebagai pola pemikiran dan perilaku pendidikan yang dapat membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
Subagia (2007 : 2) dalam makalahnya “ Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal” menyatakan bahwa pembelajaran pada dasarnya merupakan proses instruksi yang disampaikan guru kepada siswa. Agar terjadi proses pembelajaran yang baik, guru harus menyiapkan perangkat instruksi yang baik. Dalam hal ini instruksi diartikan sebagai seperangkat perencanaan pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran. Dengan memperhatikan ketiga potensi yang dimiliki oleh manusia tersebut di atas, pembelajaran dapat direncanakan sesuai dengan kemampuan dasarnya, artinya pembelajaran dapat direncanakan untuk memanfaatkan potensi suara, potensi tenaga atau kemampuan gerak siswa dan potensi akal-pikiran. Potensi suara atau kemampuan berbahasa yang dimiliki siswa dapat dijadikan pijakan untuk merencanakan pembelajaran yang menggunakan kemampuan suara atau bahasa, misalnya mendengarkan informasi (informasi dari guru, radio, televisi), membaca informasi (informasi dari koran, majalah, buku, internet dan media massa lainnya). Potensi tenaga yang dimiliki oleh siswa dapat dijadikan pijakan untuk merencanakan pembelajaran yang memerlukan tenaga atau kegiatan fisik lainnya seperti melakukan pengamatan, kunjungan kerja dan lain sebagainya. Potensi akal-pikiran yang dimiliki siswa dapat digunakan sebagai pijakan untuk merencanakan pembelajaran yang memerlukan kemampuan berfikir seperti menganalisa situasi, memecahkan masalah, menjawab soal dan lain sebagainya.
Belajar pada dasarnya adalah proses yang bermakna untuk mencapai kompetensi/kecakapan hidup (life skill). Kecakapan hidup merupakan kebutuhan setiap orang, karena itulah belajar merupakan kegiatan untuk membentuk, mengembangkan dan menyempurnakan kecakapan hidup. Hanya mereka yang memiliki kecakapan hiduplah yang dapat bertahan dalam kehidupan dan menjadikan hidupnya lebih bermakna. Makna kehidupan terjadi dalam konteksnya, oleh karena itu pelajaran akan menjadi bermakna bila dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata siswa.
Secara garis besarnya, sumber belajar yang dapat digunakan dalam merencanakan pembelajaran ada dua, yaitu sumber belajar yang berupa material dan berupa dokumen informasi. Sumber belajar berupa material adalah bahan-bahan pelajaran yang dapat diamati secara langsung seperti : tumbuhan, hewan, masyarakat dan hasil-hasil teknologi. Sedangkan sumber belajar yang berupa dokumen informasi adalah buku-buku, media massa, majalah dan lain sebagainya. Kedua sumber belajar di atas dapat dipadukan dan bersifat saling melengkapi, misalnya guru merencanakan pembelajaran tentang hewan dengan memadukan sumber belajar yang digunakan, yaitu dengan menggunakan buku bacaan dan pengamatan langsung terhadap hewan kemudian diteruskan dengan membaca informasi yang ada dalam buku atau dengan membaca buku terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan melihat hewan secara langsung. Perpaduan tersebut akan memperkuat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Selain direncanakan berhadapan secara langsung dengan materi pelajaran, pembelajaran juga dapat direncanakan dengan memanfaatkan potensi akal pikiran siswa yang berkembang sesuai pengalamannya dan harus diyakini bahwa pikiran siswa tidak kosong. Dengan demikian pembelajaran dapat direncanakan dengan memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki siswa sebelumnya. Dalam perkembangannya melalui akal-pikiran, siswa memperoleh berbagai informasi melalui interaksinya dengan lingkungan. Subagia (2007 : 3) dikatakan karena proses pembangunan pengetahuan dilaksanakan secara pribadi, tidak menutup kemungkinan pengetahuan yang dibangun bervariasi, dalam arti ada yang sudah benar, ada yang setengah benar, ada yang keliru, dan bahkan ada yang salah. Oleh karena itu untuk mengetahui hal tersebut dapat direncanakan pembelajaran yang mampu mengungkap pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya. Perencanaan pembelajaran ini dapat dilakukan dengan pemberian soal, pemberian masalah dan pemberian isu-isu yang aktual kepada siswa. Setelah pengetahuan awal siswa diketahui maka langkah berikutnya adalah pemberian instruksi yang dibantu oleh sumber belajar material atau sumber belajar yang berasal dari informasi-informasi yang telah didokumentasikan agar proses pembelajaran menjadi optimal.
Perpaduan sumber belajar antara yang satu dengan yang lainnya dapat memudahkan siswa untuk memahami materi pelajaran, karena siswa mempunyai keterbatasan dalam memahami materi ajar yang bersifat abstrak, sehingga perlu dibantu dengan menunjukkan materi yang bersifat konkrit dan kontekstual. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajari, bukan mengetahuinya.
Indonesia mempunyai penduduk yang cukup besar untk diberdayakan agar memiliki kontribusi terhadap pembangunan sehingga tidak menjadi beban negara. Kualitas Sumber Daya Manusia terbukti menjadi faktor determinan bagi keberhasilan pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Proses pemberdayaan dan peningkatan Sumber Daya Manusia tersebut salah satunya dapat dilakukan melalui pendidikan (Syarief, 1991 : 1).
Menurut penjelasan PP RI Nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan (2005 : 61), visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan jaman yang selalu berubah. Dengan visi di atas, ciri-ciri pendidikan yang dapat mewujudkan sumber daya manusia berkualitas menurut Syarief (1999 : 2) adalah:
1) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan bercirikan kejujuran dan prilaku mulia, 2) Berbudaya ilmiah sehingga mampu menerapkan, mengembangkan dan menguasai tekhnologi yang berakar pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia, 3) Menghargai waktu dan mempunyai etos kerja dan disiplin tinggi, 4) Kreatif, produktif, efisien dan berwawasan keunggulan, 5) Mempunyai wawasan kewiraswastaan dan kemampuan manajemen yang handal, 6) Mempunyai daya juang tinggi, 7) Mempunyai wawasan kebangsaan yang mengutamakan kesatuan dan persatuan bangsa, 8) Mempunyai tanggung jawab dan solidaritas sosial yang tinggi, 9) Mempunyai ketangguhan moral yang kuat sehingga tidak tergusur oleh arus negatif globalisasi dan 10) Mempunyai kesehatan fisik yang prima sehingga dapat berfikir dan bekerja secara produktif.
Menurut Ki Hajar Dewantara sebagaimana dikutip oleh Bagus (2000 : 14) disebutkan bahwa pendidikan adalah salah satu usaha untuk memberikan segala nilai-nilai kebatinan yang ada pada hidup rakyat yang berkebudayaan (dracht cultur over), tidak hanya berupa pemeliharaan akan tetapi juga dengan maksud memajukan serta mengembangkan kebudayaan menuju arah keluhuran dan kehalusan hidup manusia.
Menurut Adiputra dalam tulisannya mengenai dana punia untuk pendidikan (2002 :7), pendidikan (guna widya) adalah hal yang patut, harus dan wajib diperioritaskan oleh setiap umat, karena kebahagiaan, kesejahteraan dan suka-duka hidup ini ditentukan oleh pengetahuan yang dimiliki oleh setiap umat. Maha Rsi Canakya dalam bukunya Nitisastra III.18 mengatakan : asuhlah anak dengan memanjakannya sampai berumur lima tahun, berikanlah hukuman (pendidikan disiplin) selama sepuluh tahun berikutnya. Kalau ia sudah dewasa (16 tahun) didiklah dia sebagai teman (Darmayasa, 1992 : 66).
Tujuan pendidikan menurut Swami Siwananda dalam all About Hinduism sebagaimana dikutip dalam Titib (2003 : 57) menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah mengantarkan seseorang menuju jalan yang benar dengan mewujudkan kebajikan, yang dapat memperbaiki karakternya sehingga mencapai kebebasan, kesempurnaan dan pengetahuan tentang Sang Diri (atma)
Senada dengan pendapat-pendapat di atas maka secara sederhana dapat dikatakan bahwa latar belakang falsafah pendidikan menurut Veda adalah untuk menjadikan umat manusia meningkat kualitas hidupnya, yaitu manusia yang memiliki kasih sayang dan kebijaksanaan.
Pendidikan agama Hindu adalah upaya sadar dan terencana, menyiapkan peserta didik dalam mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Hindu dari sumber utamanya kitab suci, yaitu Sruti, Smrti, Sila, Acara dan Atmanastusti (Tim Penyusun, 2003 : 4). Menurut Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I – XV, pendidikan agama Hindu adalah suatu upaya untuk membina pertumbuhan jiwa raga anak didik sesuai dengan ajaran agama Hindu yang disebut dengan dharma (PHDI, 1998 : 23).
Punyatmadja (1994 : 9) berpendapat bahwa pendidikan agama Hindu adalah pendidikan yang dilakukan melalui suatu proses yang disebut “aguron-guron” atau “ asewaka guru” yang artinya proses pendidikan yang menggunakan petunjuk-petunjuk kerohanian, amal, pengabdian yang disebut dengan dharma. Uraian Puniatmaja di atas menekankan pada ketaatan para siswa dalam proses pembelajaran kerohanian, sedangkan dalam Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I – XV lebih menekankan kepada anak didik agar hidup bermasyarakat sesuai dengan ajaran agama Hindu. Dengan demikian semua pendidikan hendaknya memperhatikan pembinaan sikap mental dan akhlak luhur bangsa agar peserta didik mampu membangun dirinya dan masyarakatnya. Tegasnya tujuan pendidikan agama Hindu adalah untuk membentuk manusia yang sujana, susila, dan subrata serta memiliki kepekaan sosial. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Hindu adalah suatu upaya yang dilaksanakan secara sadar dan terencana untuk membangun kualitas mental pribadi siswa sesuai dengan ajaran agama Hindu.
Pendidikan agama Hindu diarahkan untuk membangun kualitas mental pribadi siswa agar memiliki visi yang jelas, wawasan dan pengetahuan yang kontekstual, tujuan hidup yang jelas, komitmen terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip hidup secara humoris dan kreatif dalam masyarakat yang pluralistik, kepedulian terhadap lingkungan dan berkarya sesuai dengan swadarmanya. Kualitas mental tersebut menjadi penentu arah, motivator, fasilitator dalam pengembangan swadarma hidupnya. Pendidikan agama Hindu diharapkan dapat membangun kesadaran tentang kehidupan, yaitu sadar bahwa hidup itu adalah untuk mencari makan, mendapatkan rasa aman, diterima oleh masyarakat, mendapatkan status kehormatan dan hidup untuk menemukan makna hidup sesuai dengan fungsi pendidikan agama Hindu, yaitu :
1. Penanaman nilai-nilai ajaran agama Hindu yang dapat dijadikan pedoman hidup dalam mencapai kebahagiaan hidup (Moksartham Jagadhita).
2. Pengembangan Sradha dan Bhakti kehadapan Hyang Widhi (Tuhan).
3. Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum.
4. Penyiapan kemampuan sikap mental siswa yang ingin melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi.
5. Mempersiapkan kematangan dan daya resistensi siswa dalam mengadaptasi diri terhadap lingkungan fisik dan sosial.
6. Perbaikan kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
7. Pencegahan peserta didik dari hal-hal negatif yang diakibatkan oleh pergaulan dunia luar.

Fungsi pendidikan agama Hindu tersebut di atas sesuai dengan tujuan pendidikan agama Hindu, yaitu bertujuan untuk menumbuhkembangkan dan meningkatkan Sradha (iman) dan Bhakti (ketaqwaan) siswa kehadapan Tuhan melalui pelatihan, penghayatan dan pengamalan ajaran agama Hindu, sehingga menjadi insan Hindu yang darmika dan mampu mewujudkan cita-cita luhur Moksartham Jagadhita (Tim Penyusun, 2003 : 5).
GAGASAN :
Beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru-guru di Pasraman antara lain dengan menggunakan metode pembinaan agama Hindu yang dikenal dengan sad dharma, yaitu :
a. Dharma Tula, yaitu bertimbang wirasa atau berdiskusi.
Tujuan metode dharma tula adalah sebagai salah satu metode yang dapat dipakai sarana untuk melaksanakan proses pembelajaran agar siswa lebih aktif, dengan harapan para siswa nantinya mampu dan memiliki keberanian untuk mengemukakan pendapat serta dalam rangka melatih siswa untuk berargumentasi dan berbicara tentang keberadaan Hindu.
b. Dharma Wacana, adalah metode pembelajaran agama Hindu yang dapat digunakan untuk mendiskripsikan materi pembelajaran agama Hindu kepada siswa.
c. Dharma Gita, adalah nyanyian tentang dharma atau sebagai dharma, maksudnya ajaran agama Hindu yang dikemas dalam bentuk nyanyian spiritual yang bernilai ritus sehingga yang menyanyikan dan yang mendengarkannya sama-sama dapat belajar menghayati serta memperdalam ajaran dharma.
d. Dharma Yatra, yaitu usaha meningkatkan pemahaman dan pengalaman pembelajaran agama Hindu melalui persembahyangan langsung ke tempat-tempat suci.
e. Dharma Sadhana, adalah realisasi ajaran dharma yang harus ditanamkan kepada siswa dalam rangka meningkatkan kualitas diri untuk selalu taat dan mantap dalam menjalankan ajaran agama Hindu.
f. Dharma Santi, yaitu kebiasaan saling memaafkan diantara sesame umat, bahkan diantara umat beragama.

3. Model Pengelolaan Pasraman
Dalam rangka membangun spiritual yang sangat dibutuhkan masyarakat dewasa ini, dibutuhkan pengelolaan Pasraman dengan baik. Hennry Fayol (dalam Coulter, 1999) mengemukakan bahwa untuk mengelola organisasi dengan baik dibutuhkan lima langkah kerja, yaitu merencanakan, mengorganisasi, menyusun staf, mengarahkan dan mengendalikan, yang disebut sebagai fungsi-fungsi manajemen.
Mengelola Pasraman dibutuhkan suatu perencanaan yang baik, khususnya dalam hal perencanaan personalia, fasilitas dan perencanaan dana. Beberapa Pasraman yang ada di Kota Mataram seperti Pasraman Mudita Santi, Pasraman Eka Dharma dan Pasraman Dharma Tirtha melakukan perencanaan personalianya melalui musyawarah hingga mencapai kesepakatan dalam merencanakan beberapa hal, seperti dalam membentuk kepengurusan dengan memperhatikan persyaratan kompetensi, dedikasi dan loyalitas. Hal ini terungkap ketika ditemukan adanya dua orang guru di Pasraman Mudita Santi yang diberhentikan karena pertimbangan loyalitas terhadap Pasraman. Sangat sesuai dengan pendapat Pidarta (1998) yang mengatakan bahwa keterampilan konsep adalah kemampuan mental untuk mengorganisasi, memecahkan masalah, membuat keputusan dan membuat rencana. Dari sisi ini dapat dilihat bahwa perencanaan personalia pasraman di Kota Mataram cukup baik karena tidak saja memuat bagaimana merekrut personalia, dasar pertimbangan perekrutan akan tetapi juga menyikapi personalia yang belum memenuhi kreteria loyalitas dan dedikasinya pada pasraman.
Dilihat dari sisi esensi perencanaan personalia beberapa pasraman di atas memiliki kesamaan dalam perencanaan, yaitu agar tujuan organisasi pasraman dapat tercapai, dapat berjalan secara berkelanjutan. Hal ini senada dengan Pidarta (1988) yang menyatakan bahwa perencanaan adalah suatu cara yang memuaskan untuk membuat organisasi tetap berdiri tegak dan maju, sebagai suatu sistem dalam tenunan supra sistem yang selalu berubah, artinya bagaimana organisasi pendidikan dapat mengikuti dan mengendalikan perubahan masyarakat yang demikian dinamis, menuntut suatu perencanaan yang matang. Pendapat Pidarta di atas diperkuat oleh pendapat Amirullah (2000) dinyatakan bahwa pada hakekatnya perencanaan adalah proses mewujudkan kondisi masa depan yang dicita-citakan beserta seluruh langkah-langkah yang diperlukan, melalui kegiatan masa kini. Artinya dengan perencanaan, masa depan tidak kita biarkan terjadi secara kebetulan begitu saja, namun kita wujudkan sebagai hasil kegiatan saat sekarang melalui perencanaan.
Perencanaan di Pasraman Mudita Santi, Pasraman Eka Dharma dan Pasraman Dharma Tirtha dalam bentuk tenaga pengajar dan perencanaan biaya pendidikan yang kebih memiliki relevansi dengan konsep-konsep perencanaan dalam manajemen pendidikan, sangat sesuai dengan pendapat Agus Dharma (dalam Raka, 2006 : 55) yang menyatakan bahwa perencanaan sebagai proses penetapan tujuan dan penetapan cara mencapai tujuan, berarti sangat sesuai dengan perencanaan pada ketiga Pasraman di atas, karena ketiga pasraman di atas dengan jelas menetapkan tujuan dan menetapkan cara untuk mencapai tujuan.
Perencanaan Pasrama di Kota Mataram memiliki kelemahan yaitu belum memiliki bentuk perencanaan yang utuh, yang dapat digunakan sebagai pedoman baku untuk menyusun rencana pada masing-masing Pasraman, karena isinya belum memuat secara lengkap tentang bagaimana mengerjakannya, apa yang harus dikerjakan, oleh siapa dikerjakan, seperti ungkapan Pidarta (2004) dikatakan bahwa sebuah persiapan merupakan sistem perencanaan yang dibuat suatu lembaga agar tetap tegak dan maju sebagai sistem perencanaan yang dibuat suatu lembaga agar tetap tegak dan maju sebagai sistem dalam tenunan suprasistem yang tetap berubah. Semestinya dibuat secara spesifik tentang apa yang dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, dan siapa yang mengerjakannya. Dengan kata lain dalam perencanaan pasraman harus mencantumkan deskripsi tugas dari masing-masing komponen yang akan terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan Pasraman Hindu. Dari temuan perencanaan tersebut bukan berarti bahwa konsep perencanaan yang memadukan program pasraman dengan pendidikan di sekolah-sekolah sudah berjalan dengan baik, tetapi hal ini terjadi karena model perencanaan yang dibuat pada ketiga pasraman tersebut lebih banyak mengacu pada model yang telah ditetapkan dari Departemen Agama Republik Indonesia.
Kekurangan perencanaan pasraman yang lain adalah tidak ditemukannya perencanaan monitoring dan evaluasi yang dilakukan dengan melibatkan ketua, pengelola program dan pengawas. Padahal kegiatan monitoring dan evaluasi merupakan bagian dari proses pengendalian untuk mengukur dan memperbaiki pelaksanaan kerja sesuai dengan tujuan. Agak berbeda dengan pendapat Sahertian (1985) yang menegaskan bahwa perencanaan merupakan langkah persiapan yang diarahkan pada sustu yujuan dan titik kulminasi pada suatu keputusan yang berfungsi sebagai landasan tindakan selanjutnya. dengan tidak adanya perencanaan yang baik tentang monitoring dan evaluasi maka kegiatan pengendalian pasraman menjadi kurang optimal karena melalui monitoring dan evaluasi dapat diketahui tingkat penyimpangan kinerja personalia dari standar pelaksanaan pekerjaan. Dengan demikian untuk mengendalikan program pendidikan sistem pasraman hendaknya melalui perencanaan monitoring dan evaluasi seperti harus ditetapkan secara jelas dan terutama dalam menyoroti masalah-masalah yang potensial.
Pembahasan yang dapat dikedepankan atas aplikasi perencanaan yang dilakukan ketua pasraman adalah bahwa kegiatan perencanaan melalui langkah yang sistematis tersebut memiliki relevansi dengan batasan perencanaan seperti yang dikemukakan Amirullah (2000) bahwa hakekat perencanaan adalah proses mewujudkan kondisi masa depan yang dicita-citakan beserta seluruh langkah-langkah yang diperlukan, melalui kegiatan masa kini. Demikian pula halnya dengan perencanaan fasilitas dan biaya di ketiga pasraman tersebut hampir sama, perbedaannya adalah perbedaan biaya di pasraman Mudita Santi mengandalkan sumbangan dari donator tidak tetap, sedangkan di pasraman Dharma Tirta mengandalkan keuntungan koperasi dan untuk perencanaan fasilitas dan biaya di pasraman Eka Dharma tidak hanya dari orang tua siswa akan tetapi dari instansi terkait dan juga lebih mengandalkan kepada donator tetapnya. Khusus untuk perencanaan fasilitas dan biaya di pasraman Eka Dharma didukung oleh sumbangan para darmawan. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan fasilitas dan dana di tiga pasraman cukup bagus karena sesuai dengan konsep teori yang diungkap oleh Amirullah.
Pengorganisasian di ketiga pasraman tersebut di atas terdiri dari penanggung jawab, ketua, sekretaris, bendahara, dan tenaga pengajar yang dilakukan atas dasar pertimbangan kompetensi, dedikasi, dan loyalitas. Pengorganisasian pasraman di ketiga pasrama di atas adalah pengorganisasian guru, pengurus yang dilakukan dengan menentukan mata pelajaran yang akan dibina oleh masing-masing guru yang disesuaikan dengan keahlian masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan menyusun jadwal pelajaran dan membentuk kelompok siswa berdasarkan usia. Model pengorganisasian di atas sesuai dengan pendapat Syamsi (1994) yang mengatakan bahwa pengorganisasian dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu sudut pandang statis dan sudut pandang dinamis. Statis adalah organisasi merupakan wadah kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu. Demikian pula bentuk-bentuk pengorganisasian yang dilakukan pada ketiga pasraman tersebut telah menggambarkan konsep pengorganisasian pasraman di Kota Mataram, sebagaimana yang dijelaskan oleh agus dharma (2003), mengatakan bahwa mengorganisasi adalah proses penetapan pembagian kerja, penugasan kerja, pengelompokan kerja untuk koordinasi serta menetapkan wewenang dan tanggung jawab. Secara keseluruhan pengorganisasian di ketiga pasraman tersebut sudah cukup bagus, hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya pembagian tugas masing-masing guru dan pegawai yang terkoordinasi dengan baik, dan diberikannya tugas-tugas tambahan sehingga menyebabkan suasana pasraman begitu kondusif, sebab sesungguhnya pengorganisasian adalah membagi-bagi tanggung jawab, jadi sangat sesuai dengan pendapat Hedjcrahman (1997), dikatakan bahwa pengorganisasian adalah kegiatan untuk mencapai tujuan oleh sekelompok orang, dilakukan dengan membagi-bagi tugas dan tanggung jawab.
Pengaktifan (actuanting) di tiga pasraman dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan memberikan dukungan, sanjungan, penghargaan dan stimulant uang transportasi. hal ini merupakan pengejewantahan dari konsep pengaktifan yang dikemukakan Amirullah (2000). Pengaktifan dimaksudkan sebagai kegiatan memotivasi untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Konsep pengaktifan ini cukup bagus, karena disamping memiliki relevansi juga berlandaskan konsep teori yang jelas serta arah tujuan yang pasti dalam rangka mencapai tujuan pasraman. Pengaktifan masyarakat yang dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi memberikan dukungan dana pada semua kegiatan pasraman, memberikan alat upacara keagamaan, meminta orang tua memantau aktifitas keberagamaan anak-anaknya di rumah merupakan aplikasi yang relevan dengan pernyataan Stephen Robbins dan Mary Coulter (1999) yang mengemukakan fungsi pengaktifan sebagai kegiatan memotivasi, mengarahkan, menyeleksi yang paling efektif, termasuk sekaligus sebagai medium dalaam memecahkan konflik yang dapat timbul.
Fungsi pengendalian manajemen di tiga pasraaman di atas, dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan memberikan sanksi yang dimulai dengan memberikan teguran lisan atau tertulis kepada para guru atau pegawai yang lalai dalam menjalankan tugasnya, bahkan ada pula yang mendapatkan sanksi pemberhentian dengan hormat, dengan tujuan untuk menjaga kestabilan kinerja para guru dan pegawai. langkah atau tindakan pemberian teguran, memantau kegiatan, mengevaluasi kegiatan dengan menggunakan tim khusus, baik dari daerah maupun dari pusat melakukan pengawasan langsung terhadap kinerja pengelola serta guru-guru pengajar, selain itu juga melakukan rapat formal secara berkala, merupakan pengendalian manajemen yang sesuai dengan konsep pengendalian yang dikemukakan Robbins dan Mary Coulter (1999) dikemukakan pengendalian sebagai suatu proses pemantauan kegiatan-kegiatan untuk memastikan bahwaa kegiatan-kegiatan telah diselesaikan sebagaimana yang telah direncanakan, sekaligus mengoreksi penyimpangan yang berarti.
Keterampilan konsep merupakan keterampilan yang memiliki porsi paling besar yang harus dimiliki oleh seorang ketua pasraman selaku manajer terutama dalam upaya mengembangkan dan memajukan lembaga yang dipimpinnya. Dengan porsi yang lebih banyak ini memberikan isyarat bahwa keterampilan manajer lainnya seperti keterampilan hubungan manusia dan keterampilan tekhnik menjadi porsi yang lebih sedikit. Dari hasil kajian terhadap keterampilan konsep yang diterapkan di ketiga pasramaan di atas, maka sebenarnya terdapat beberapa cara yang dilakukan untuk menentukan konsep, mulai dari : menyusun rencana program, menyusun konsep struktur program dan jabaran materi pelajaran, menyusun pembagian tugas.
Dari keempat model keterampilan konsep yang dilakukan tersebut, maka sangat sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Gorda (1996), dikatakan bahwa suatu organisasi akan mencapai sukses jika didukung oleh SDM yang mampu mengembangkan rasionalitas, prakarsa dan kreatifitas untuk menciptakan inovasi, meninggalkan kebiasaan untuk meniru bentuk-bentuk lama, dan menumbuhkembangkan daya cipta dengan cara dan kemampuan sendiri serta berorientasi kemasa depan. Jadi sebenarnya keterampilan konsep yang dilakukan ketua pasraman pada ketiga pasraman tersebut menunjukkan kemampuan dalam berfikir, seperti menganalisis suatu persoalan, memutuskan dan memecahkan masalah. Bagi ketua pasraman dituntut pula memandang organisasinya sebagai totalitas, semakin tinggi kedudukan seseorang, maka keterampilan tersebut semakin penting pula. Hal ini dilakukan dengan merumuskan konsep-konsep besar yang akan dijabarkan dalam bentuk program-program kerja pasraman.
Keterampilan hubungan manusiawi di ketiga pasraman tersebut sebenarnya dapat dilihat dalam bentuk : melibatkan civitas dalam mengelola dan mengembangkan pasraman, memberikan bimbingan dan penghargaan, menciptakan iklim kerja yang kondusif, melakukan pertemuan dengan masyarakat, terutama orang tua siswa, mengikuti kegiatan upacara atau persembahyangan bersama. Berbagai bentuk kemampuan ketua pasraman dalam melakukan hubungan manusiawi di ketiga pasraman tersebut merupakan implementasi atas konsep-konsep yang telah digagas sebelumnya.
Keterampilan teknik yang dilakukan oleh ketua dari ketiga pasraman di atas dapat dilihat dalam bentuk keterampilan melakukan tugas-tugas, keterampilan melakukan evaluasi dan keterampilan membuat laporan sebagai bentuk keahlian dalam hal menggunakan suatu aktivitas spesifik yang meliputi suatu proses, prosedur dan teknik. Ketua pasraman berusaha menerapkan masing-masing keterampilan manajer dengan baik, dalam rangka mencapai tujuan seperti dikemukakan oleh Stephen Robbins dan Mary Coulter (1999) yang mengatakan bahwa kemampuan teknis dalam bidang khusus tertentu sangat dibutuhkan disamping dalam rangka efektifitas pencapaian tujuan, juga untuk efisiensi dalam rangka perolehan tujuan organisasi. Hal ini menunjukkan pendapat di atas sangat sesuai dengan keterampilan teknik ketua pasraman pada ketiga pasraman tersebut di atas telah berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Hubungan pasraman dengan masyarakat dilakukan dalam bentuk meningkatkan hubungan kerjasama dengan orang tua siswa, membina kerjasama dengan pemuda Hindu sekitar, membina hubungan dengan tokoh agama Hindu, mencari donator yang mau membantu pembiayaan, melibatkan masyarakat untuk memberikan ide serta berpartisipasi langsung dalam memajukan pasraman, mengadakan kunjungan pada acara keagamaan tertentu dengan mengajak siswa melibatkan masyarakat terutama orang tua siswa untuk memberikan ide dan saran guna memajukan pasraman secara bersama. Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan ketiga pasraman dengan masyarakat dilakukan dalam beberapa bentuk kerjasama yang bertujuan untuk membangun dan memajukan aktifitas pendidikan di pasraman sehingga hubungannya dengan masyarakat terjalin dengan baik, sangat sejalan dengan konsep yang disampaikan pidarta (2004) bahwa hubungan yang saling memberi dan saling menerima antara lembaga pendidikan dan masyarakat., ini berarti bahwa pasraman telah mampu merealisasikan hubungan yang dicita-citakan dengan anggota masyarakat terutama yang berkaitan dengan keagamaan.
C. SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pasraman adalah lembaga pendidikan khusus bidang agama Hindu. Lembaga ini merupakan alternatif, karena pendidikan agama Hindu yang diajarkan di sekolah formal dari tingkat sekolah dasar sampai dengan di sekolah Tinggi agama Hindu. Pada sekolah formal agama Hindu diajarkan sebagai ilmu pengetahuan, sedangkan di Pasraman tidak sebatas ilmu pengetahuan, melainkan sebagai bentuk latihan disiplin spiritual dan latihan menata hidup yang baik.
2. Beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru-guru di Pasrama antara lain dengan menggunakan metode pembinaan agama Hindu yang dikenal dengan sad dharma, yaitu : a) Dharma Tula, yaitu bertimbang wirasa atau berdiskusi, b) Dharma Wacana, adalah metode pembelajaran agama Hindu yang dapat digunakan untuk mendiskripsikan materi pembelajaran agama Hindu kepada siswa, c) Dharma Gita, adalah nyanyian tentang dharma atau sebagai dharma, maksudnya ajaran agama Hindu yang dikemas dalam bentuk nyanyian spiritual yang bernilai ritus sehingga yang menyanyikan dan yang mendengarkannya sama-sama dapat belajar menghayati serta memperdalam ajaran dharma, d) Dharma Yatra, yaitu usaha meningkatkan pemahaman dan pengalaman pembelajaran agama Hindu melalui persembahyangan langsung ke tempat-tempat suci, e) Dharma Sadhana, adalah realisasi ajaran dharma yang harus ditanamkan kepada siswa dalam rangka meningkatkan kualitas diri untuk selalu taat dan mantap dalam menjalankan ajaran agama Hindu dan f) Dharma Santi, yaitu kebiasaan saling memaafkan diantara sesame umat, bahkan diantara umat beragama.
3. Perencanaan pasraman dilaksanakan melalui urun rembug, pengorganisasian pasraman dilakukan berdasarkan pertimbangan kompetensi, dedikasi dan loyalitas, pengaktifan pasraman dilakukan melalui pemberian support, dana transportasi, pengendalian pasraman dilakukan dengan memberikan pembinaan, teguran dan sanksi.





DAFTAR PUSTAKA

Amirullah, 2000. Pengantar Manajemen. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Darmayasa, 1992. Canakya Nitisastra. Jakarta : Hanuman Sakti.
Dharma, Agus, 2003. Manajemen Supervisi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Bagus, I Gusti Ngurah, 2000. Dinamika Budaya Hindu Dharma Di Indonesia. Yogyakarta : Dura Wacana University Press.
PHDI, 1998. Himpunan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I –XV. Denpasar.
Pidarta, Made, 1998. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta : Bina Aksara.
__________, 2004. Perencanaan Pendidikan Partisipatori. Jakarta : Rineka Cipta.
Punyatmadja, Oka, Ida Bagus, 1994. Cilakrama. Denpasar : Upada Sastra.
Subagia, I Wayan, 2007. Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal. Singaraja : Universitas Pendidikan Ganesha.
Syamsi, Ibnu, 1994. Pokok-Pokok Organisasi Dan Manajemen. Jakarta : Rineka Cipta.
Syarief, Hidayat. 1999. Dinamika Pemikiran Islam Di Perguruan Tinggi Dalam Pembangunan Berwawasa IPTEK dan Imtak. Jakarta : Logos Wacana Ilmu.
Titib, I Made, 2003. Implementasi Filosofi Pendidikan Hindu Menurut Veda Pangkaja Jurnal Agama HinduVolume III Tanggal 01 Maret. Denpasar : STAH Negeri Denpasar.
Tim Penyusun, 2006. Pedoman Pengelolaan Pasraman. Surabaya : Paramita.
Kajeng, I Nyoman, dkk, 2005. Sāramuccaya. Surabaya : Paramita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar