Kamis, 05 November 2009

ESENSI TRADISI UPACARA
DALAM KONSEP YAJÑA
(Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1931)
oleh :
IDA BAGUS MADE ARJANA


A.PENDAHULUAN
Dalam Tri Kerangka Dasar Agama Hindu, aspek upacara (ritual) merupakan aspek yang lebih ekspresif (menonjol) dibandingkan dengan aspek tattwa (filsafat) dan susila (etika). Namun pada prinsipnya ketiga aspek tersebut merupakan satu-kesatuan yang saling menjiwai dan memberikan fungsi secara keseluruhan. Seluruh rangkaian upacara dalam Agama Hindu pada dasarnya selalu dilandasi oleh etika agama, demikian pula halnya pelaksanaan etika tersebut dilandasi oleh tattwa agama.
Secara etimologi (Bahasa Sansekerta), upacara berasal dari kata upa (dekat atau mendekat) dan car (harmoni). Jadi upacara adalah dengan keseimbangan dalam diri, kita mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan dari sudut filsafat upacara berarti cara melakukan hubungan antara atman dengan paramaatman, antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) beserta semua manifestasinya dengan jalan yajña untuk memperoleh kesucian jiwa.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan upacara agama merupakan suatu upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada sesama manusia dan alam lingkungan. Pendekatan itu diwujudkan dengan berbagai bentuk persembahan maupun tata pelaksanaan (upacara) sebagaimana yang telah diatur dalam ajaran agama Hindu.
Dewasa ini sudah mulai muncul suatu asumsi bahwa prilaku ritual seakan-akan merupakan suatu kegiatan yang berlebihan dan menampilkan sikap pamer (jor-joran). Serta adanya anggapan bahwa “semakin besar upacara yang di buat, semakin besar pula pahala (dari Tuhan) yang diterima.”
Ungkapan di atas seolah-olah menunjukkan bahwa melaksanakan upacara karena ingin mendapatkan balasan, artinya melaksanakan upacara dengan disertai pikiran pamrih. Menurut konsep Veda yang dinyatakan dalam Kitab Bhagavad Gita, yajña memiliki tujuan yaitu : 1) Untuk membebaskan diri manusia dari ikatan dosa, 2) Untuk membebaskan diri manusia dari ikatan karma, 3) Merupakan salah satu jalan untuk mencapai sorga, dan 4) Untuk mencari kelepasan, yaitu manunggal dengan Brahman.
Fenomena tersebut muncul disebabkan karena masih kurangnya pemahaman umat tentang makna dan tujuan yang tersirat dalam kegiatan ritual yang dilaksanakan, maka dalam model alur di bawah ini dapat dijabarkan bahwa seluruh rangkaian aktivitas upacara dalam agama Hindu pada dasarnya bersumber pada ajaran agama, baik Sruti, Smrti, maupun susastra Hindu lainnya yang dalam ajaran tersebut yajña memiliki kualitas yang baik apabila bersifat sattvika. Untuk mewujudkan sattvika yajña maka dalam aplikasinya tidak boleh bertentangan dengan tattwa, karena merupakan hakikat kebenaran serta mengikuti kondisi kontektual (adat-istiadat masyarakat). Selain itu juga upaya yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang mengarahkan umat untuk menyadari pentingnya ritual tersebut, sehingga dengan mengetahui makna dan tujuan dari pelaksanaan ritual diharapkan dapat mempertebal keimanan umat dalam penghayatannya terhadap Tuhan, karena walapun manusia era ini dikatakan telah mencapai puncak peradaban namun jika direnungkan sesungguhnya saat ini manusia sedang mengalami puncak degradasi dan devisit spiritual. (Titib, 2007 : 259) Ketidakharmonisan antara manusia dengan sesamanya semakin nampak dengan adanya begitu banyak konflik dan kekerasan yang terus bergelut tanpa henti, selain itu juga terjadi disharmonisasi antara manusia dengan alam lingkungan. Hutan-hutan digunduli, dibakar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab tanpa memperhatikan ekosistem yang ada didalamnya dan kelangsungan hidup manusia dimasa mendatang.
B. MODEL ALUR PIKIR :













C. PEMBAHASAN
1. Pelaksanaan Yajña
Secara etimologi yajña adalah kata yang berasal dari bahasa Sansekerta yaitu kata yaj yang berarti memuja atau mempersembahkan atau memberi pengorbanan/korban suci. Menurut Subagiastha ( dalam Rg. Veda X.90.6 ) disebutkan :
“Yat purusena lavisa,
deva Yajnam atasvata,
vasanto asyasid ajyam,
grisma idhsnah saraddhhavih”
( Rg Veda X.90.6 )

Terjemahan :
Ketika para Dewa mengadakan upacara korban dan purusa sebagai persembahan, maka minyaknya adalah musim semi, kayu bakarnya adalah musim panas dan sesajen persembahannya adalah musim gugur.

Jadi nampak mengenai konsepsi dari yajña itu berupa persembahan sesajen pada api upacara. Kemudian pengertian yajña atau konsepsi yajña diperluas dengan pelaksanaan yajña yang tidak saja terbatas pada upacara dalam pengertian secara harfiah. Artinya bahwa api, kayu api dan sesajen, tidak saja dalam arti simbolis filosofis. Hal ini dengan jelas dinyatakan dalam kitab Bhagavad Gita, IV.25, yang menyebutkan ada tapa yajña, yaitu yajña dengan mempersembahkan segala kesenangan duniawi ke dalam api pengendalian diri, ada pula jnana yajña. Dengan demikian jelaslah bahwa pengertian yajña itu tidak saja terbatas pada upacara semata berupa persembahan sesajen saja, namun jauh lebih luas dari itu, yaitu segala bentuk pemujaan, persembahan korban suci jiwa dari yajña itu adalah terletak pada semangat untuk berkorban demi untuk maksud serta tujuan yang mulia dan luhur.
Yajña merupakan salah satu penyangga tegaknya kehidupan di dunia ini, dimana Tuhan telah menciptakan manusia dengan yajña Beliau dan dengan yajña pulalah manusia dapat berkembang dan memelihara kehidupan yang dalam pelaksanaannya selalu didasari oleh keikhlasan dan kesucian diri. Menurut Veda yang tertuang dalam Bhagavad Gita III.10. yaitu :
“Sahayajñāh prajāh shrishtvā
puro ΄vācha prājapatih
anena prasavishya dhvam
esa vo ΄stv ishta kāmadhuk”.

Terjemahan :
Pada jaman dahulu kala, Prajapati (Sang Hyang Widhi) menciptakan manusia dengan jalan yajña dan bersabda : dengan ini (yajña) engkau akan mengembang dan akan mendapat keinginan-Mu (kamadhuk-Mu) yang memberi kebahagiaan.

Menurut Rudia ( dalam Atharva Veda.XII.1.1 ) dijelaskan :
“Satyam brhad rtam ugram
diksa lapo brahma Yajñah prthivim dharayanti,
sa no bhtilasya bhny ayya patynyttruni lokam”
( Atharva Veda.XII.1.1 )

Terjemahan :
Kebenaran (satya) hukum yang agung, yang kokoh dan suci ( rta ), tapa brata, doa dan yajña, inilah yang menegakkan bumi, semoga bumi ini, ibu kami sepanjang masa memberikan tempat yang lega bagi kami.

Berlakunya yajña bersumber pada kaedah etika, sosio moral religius yang dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu : a) Yajña berdasarkan teori Rna atau hutang. Manusia pada hakekatnya dinyatakan sejak lahir terikat oleh adanya hutang ( Rna ). Ada tiga macam hutang atau TRI RNA yang diajarkan dalam agama Hindu, yaitu : Dewa Rna atau hutang kepada Tuhan/Para Dewa, Rsi Rna atau hutang kepada para Rsi, dan Pitra Rna, yaitu hutang kepada para leluhur. b) Bahwa manusia ini tidak luput dari dosa sedangkan tujuan hidup ini adalah untuk menolong diri dari sengsara ( dosa ) dengan jalan berbuat baik, seperti tersirat dalam kitab Sarasamuscaya 2 dan 4, ( dalam Subagiastha, dkk, 1996 : 37-38 )
Tanpa yajña Tuhan, alam semesta beserta isinya tidak akan ada, Tuhanlah yang beryajña pertama kalinya tanpa mengharapkan balasan dan sanjungan. Bila ditinjau dari aspek agama bahwa beryajña merupakan kewajiban suci, yang menjadi beban dan tanggungjawab kita sebagai manusia. Dasar utama dalam pelaksanaan yajña adalah ketulusan hati/keikhlasan berkorban, maka yajña itu dapat dilakukan dengan tiga cara yang disebut “TRI MARGA” yaitu : 1) Karma Marga, ialah melakukan yajña dengan mempergunakan alat-alat yang nyata. 2) Jnana Marga, ialah melakukan yajña dengan jalan mempelajari dan mengamalkan ilmu-ilmu pengetahuan, ilmu-ilmu kesucian/Ketuhanan. 3) Bhakti Marga, ialah melakukan yajña dengan jalan mengabdikan dan menyerahkan diri sepenuhnya kehadapan Tuhan, melakukan tugas kewajiban tanpa pamrih, sujud bhakti kepada Tuhan. Ketiga jalan ini tidak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah, semuanya sama, terserah bagi mereka yang melaksanakannya, sesuai dengan tingkat kemampuan dan kesadarannya masing-masing. ( Wijaya, 1981 : 5 )
Dalam aktivitas sehari-hari makna yajña hanya sebagai wujud sradha, ketulus-ikhlasan dan ungkapan rasa bhakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Apabila sradha, kebaktian, ketulus-ikhlasan dan kesucian hati menyatu, maka dapat melahirkan kualitas spiritual yang lebih tinggi pada manusia. Begitu pula upacara tidak akan berarti apabila orang yang melaksanakan belum memiliki kesiapan rohaniah. Untuk itu jasmani yang bersih, hati yang suci dan kehidupan yang suci yang sesuai dengan ketentuan moral dan spiritual patut dijadikan sebagai landasan pelaksanaan yajña. Hal ini didukung oleh pendapat (Rudia dkk, 2004 : 99-104) menyatakan bahwa pelaksanaan yajña memiliki makna : 1) Sebagai pengejawantahan ajaran Veda, yaitu merupakan salah satu cara mengungkapkan ajaran Veda yang dilukiskan dalam bentuk simbol-simbol (Niyasa). Dalam kehidupan beragama, manusia sangat memerlukan apa yang bisa dilukiskan dan orang bijaksana berpendapat bahwa ia harus dapat melukiskan apa yang tak terlukiskan termasuk yang paling abstrak sekalipun. Dengan simbol yang diwujudkan dalam bentuk upakara menjadi lebih menyentuh dan lebih mudah dihayati.. 2) Sebagai Cetusan Rasa Terima Kasih, Bhagavad Gita III.11 menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia melalui yajña, dengan yajña pula manusia akan mencapai kebaikan yang maha tinggi. 3) Untuk meningkatkan kualitas diri. Dari segi peningkatan diri, yajña pada hakekatnya merupakan pengorbanan suci dimaksudkan untuk mengurangi rasa keakuan (ego). yajña/upacara itu sendiri juga dimaksudkan untuk menciptakan suasana suci dan membahagiakan. 4) Sebagai salah satu cara untuk menghubungkan diri dengan Tuhan yang dipuja, karena upacara itu sejak awal mula merencanakan, mempersiapkan dan lebih-lebih pada waktu melaksanakan telah diiringi sikap batin yang suci dilandasi perilaku yang menampilkan susila yang tinggi. Dari segi jasmani, kebersihan diri sebelum melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan yajña yang akan dipersembahkan juga sangat diperhatikan, 5) Untuk menyucikan, dalam yajña yang tergolong Dewa yajña, Bhuta yajña, Manusa yajña, Pitra yajña dan Rsi yajña hampir seluruhnya pada bagian-bagiannya mengandung makna dan tujuan untuk membersihkan dan menyucikan, disamping sebagai persembahan-persembahan. Kesucian adalah merupakan landasan yang utama yang patut ditegakkan dalam pelaksanaan ajaran agama. Oleh karena itu, upacara yang bermakna menyucikan hampir selalu dijumpai pada setiap pelaksanaan yajña, lebih-lebih pelaksanaan pada tingkatan yajña yang besar.
2. Refleksi Yajña Dalam Meningkatkan Kualitas Pemahaman dan Penghayatan Umat Tentang Ajaran Agama
Tingkatan yajña yang didasarkan atas besar-kecilnya upacara yang dipersembahkan dibedakan menjadi tiga tingkatan yaitu : Kanista, Madya, dan Utama. Masing-masing tingkatan ini masih bisa dibedakan dalam tiga tingkatan lagi sehingga menjadi sembilan tingkatan yajña, dilihat dari besar kecilnya upakara yang menjadi sarana persembahyagan, yaitu : Kanistaning Kanista, Madyaning Kanista, Utamaning Kanista, Kanistaning Madya, Madyaning Madya, Utamaning Madya, Kanistaning Utama, Madyaning Utama, dan Utamaning Utama. Perbedaan tingkatan yajña ini disesuaikan dengan tingkat kemampuan umat yang melaksanakan. Dari kualitas kesembilan tingkatan yajña tersebut tidak ada perbedaan sepanjang dalam pelaksanaannya didasari dengan rasa bhakti, ketulusan dan kesucian hati. (Rudia, 2004 : 109 – 110)
Dalam tataran realitas, tingkat kemampuan materi yang dimiliki oleh umat tidaklah sama, sehingga keharmonisan antara besar-kecilnya yajña yang dilaksanakan dengan tingkat kemampuan umat bersangkutan sangat diperlukan agar pelaksanaan yajña yang bertujuan menuju kesejahteraan dan kebahagiaan tidak justru membawa penderitaan. Dimana dalam aktivitas sehari-hari aplikasi yajña yang dilaksanakan umat tidaklah sama, ada yang beryajña dengan penuh kesadaran bahwa semua yang dinikmati merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa, ada pula yang beryajña dengan penuh motivasi untuk memamerkan kemampuan sehingga adanya keterikatan dan keinginan untuk memperoleh hasilnya. Selain itu ada pula yang melaksanakan yajña secara sembarangan, tidak sesuai dengan ajaran agama, artinya beryajña untuk pamer kemewahan/pamer kewibawaan, untuk mencari populariras dan dilaksanakan dengan sekehendak hati tanpa berdasarkan ajaran tattwa dan etika serta norma-norma yang berlaku, sehingga yajña seperti itu tidak akan mendatangkan kesucian.
Menurut konsep Veda, dalam Bhagavad Gita, yang dapat melatar belakangi pelaksanaan yajña dibedakan atas dasar pengaruh Tri Guna dengan tiga tingkatan golongan meliputi : 1) Satwika Yajña, adalah yajña yang dilaksanakan dengan keikhlasan tanpa mengharapkan hasilnya, dilaksanakan semata-mata sebagai suatu kewajiban yang patut dilaksanakan serta sesuai dengan sastranya. hal ini ditegaskan dalam Bhagavad Gita, XVII : 11 yang dapat diterjemahkan sebagai berikut : “Upacara menurut petunjuk kitab-kitab suci dilakukan orang tanpa mengharapkan pahala dan dipercaya sepenuhnya upacara ini sebagai tugas kewajiban adalah sattvika ( baik ).” 2) Rajasika Yajña, adalah yajña yang dipersembahkan dengan motivasi untuk memamerkan kemampuan serta terikat dengan keinginan untuk memperoleh buah/hasilnya. hal ini ditegaskan dalam Bhagavad Gita, XVII.12 yang dapat diterjemahkan sebagai berikut : ” Tetapi yang dipersembahkan dengan harapan pahala dan semata-mata untuk keperluan kemegahan belaka, ketahuilah, wahai putera terbaik dari keturunan Barata itu adalah merupakan upacara-upacara rajasika ( bernafsu ).” dan 3) Tamasika Yajña, yaitu yajña yang dilaksanakan secara sembarangan, tidak sesuai dengan ketentuan sastranya, tidak ada makanan yang dibagi-bagikan, tidak ada mantra, tidak ada syair yang dinyanyikan, tidak ada daksina, serta tanpa dilandasi dengan keyakinan dan kepercayaan. hal ini ditegaskan dalam Bhagavad Gita, XVII. 13 yang dapat diterjemahkan sebagai berikut : “Upacara yang tidak menurut peraturan dimana makanan tidak dihidangkan tanpa ucapan mantra dan tanpa daksina serta tanpa kepercayaan dinamakan tamasika (bodoh).
Demikianlah tingkatan kualitas yajña dibedakan atas dasar pengaruh Tri Guna yang memberi motivasi dalam pelaksanaannya. Dalam tingkatan ini besar kecilnya upacara dan upakaranya tidak menjadi ukuran tingkatan kwalitas spiritual suatu persembahan (yajña) lebih ditentukan oleh sradha, kebaktian, keimanan, keikhlasan jauh dari rasa ego serta dilandasi sastra agama.
Dari ketiga kualitas yajña diatas, sattvika yajña merupakan kriteria yang paling tinggi nilainya dan perlu diwujudnyatakan dalam aktifitas ritual masyarakat Hindu, sehingga setiap upacara yajña yang dilaksanakan selalu kontektual yang selalu di selaraskan dengan pertumbuhan dan perkembangan jaman namun tidak hanyut oleh jaman itu sendiri. Apa saja yang menjadi kriteria sehingga suatu yajña itu dikatakan berkualitas sattvika ( baik ) , dalam kitab Bhagavad Gita Bab IX - XVII disebutkan : 1) Sradha, yaitu pelaksanaan yajñna yang dilakukan dengan keyakinan/kepercayaan penuh, 2) Lascarya, yaitu suatu yajña yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, 3) Sastra, yaitu yajña yang dilaksanakan berdasarkan petunjuk sastra, 4) Daksina, yaitu penghormatan yang tulus ikhlas, 5) Mantra-Gita, yaitu lagu-lagu suci untuk pemujaan. 6) Annasewa, yaitu menghormati tamu dengan penuh keikhlasan, dan 7) Nasmita, yaitu tidak pamer. ( Wiana, 1995 : 28-47 )
3. Esensi Upacara Agama
Agama Hindu diwahyukan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) melalui para Rsi. Para Rsi penerima wahyu tersebut menuangkan seluruh ajaran suci itu kedalam suatu kerangka dasar yang disebut Tri Kerangka Dasar Agama Hindu, yaitu : 1) Tattwa atau Filsafat, merupakan inti dari ajaran agama Hindu yang menguraikan suatu kebenaran yang bersifat hakiki, 2) Susila atau Etika, menguraikan prilaku yang baik dan benar di masyarakat, dan 3) Upacara atau Ritual, menguraikan tentang tata cara menunjukkan rasa bhakti kepada Sang Pencipta dengan menggunakan sarana.
Dalam Tri Kerangka Dasar Agama Hindu tersebut, upacara merupakan aspek yang lebih ekspresif dibandingkan dengan aspek tattwa dan susilanya. Namun pada prinsipnya apabila dianalogikan dengan sebutir telur, maka upacara itu adalah bagian luar yang disebut “kulit” yang tentunya paling nampak menonjol, sedangkan unsur etika (kesusilaan) diibaratkan sebagai “putih telur” dan tattwa adalah “kuning telur” yang merupakan inti dari ajaran agama.
Sebagai sebuah satu-kesatuan, sesungguhnya satu sama lain dari bagian-bagian Tri Kerangka Agama Hindu saling menjiwai. Itu artinya sebuah aktivitas upacara keagamaan sebenarnya merupakan realisasi dari unsur tattwa dan etika agama, mengacu kepada ajaran agama Hindu, sistem penerapan ajaran agama menurut Manawa Dharma Sastra, VII.10 menyatakan bahwa landasan konsepsinya universal namun aplikasinya harus menurut kondisi (Ikhsa, Sakti, Desa dan Kala) yang penting tidak bertentangan dengan Veda (dalam Wiana, 2002 : 5). Namun melihat fenomena yang berkembang dewasa ini memiliki suatu tendensi yang menunjukkan kesemarakan prilaku ritual secara besar-besaran yang tidak jarang menelan biaya mahal, kemudian melaksanakan kewajiban agama sebatas pada upacaranya saja. beragama itu dianggap sudah selesai apabila sudah melaksanakan kegiatan upacara agama, misalnya ngaturang canang, mesaiban, pujawali, potong gigi, ngaben. Padahal prilaku tersebut dapat dikategorikan hanya sebagai segi seremonialnya saja, sedangkan segi esensinya justru dikesampingkan yang merupakan pengejewantahan dari unsur tattwanya kedalam etika keseharian, misalnya beryajña melalui upacara agama yang memiliki esensi ajaran “ketulus-ikhlasan tanpa pamrih” sepatutnyalah hal ini dapat diwujudnyatakan dalam prilaku sehari-hari, misalnya dengan medana punia kepada orang yang benar-benar membutuhkan bantuan, contoh nyatanya seperti : ikut membantu membiayai pembangunan pura, membantu korban bencana alam, ikut menjadi donator dipanti asuhan.
Apabila semua yang dilakukan tersebut dilandasi dengan hati yang tulus-ikhlas dan tanpa pamrih, maka hal inilah yang disebut sebagai realisasi dari upacara agama sebagai suatu persembahan. Sedangkan jika upacara agama dilaksanakan secara besar-besaran dan sebagai pamer belaka dan dilandasi sifat pamrih semata, maka hal tersebut tidak lebih sebagai suatu seremoni, dimana sang yajamana (pelaku upacara) hanya dapat memamerkan kemegahan dan kemampuan ekonominya dalam menyelenggarakan upacara kepada khalayak.
Dalam Bhagavad Gita,XVII.12 dinyatakan :
“Abhisamdhāya tu phalam
dambhārtham api chai’va yat
ijyate bharataśrestha
tam yajňam vidhi rājasam”
(Bhagavad Gita, XVII.12

Terjemahan :
Tetapi yang dipersembahkan dengan harapan pahala dan semata-mata untuk keperluan kemegahan belaka, ketahuilah, wahai putera terbaik dari keturunan Barata itu adalah merupakan upacara-upacara rajasika / bernafsu.

Dalam kehidupan beragama, manusia sangat memerlukan apa yang dilukiskan hingga yang paling abstrak sekalipun, demikian pula umat Hindu, simbol yang diwujudkan dalam bentuk upakara menjadi lebih menyentuh dan lebih mudah dihayati. Untuk itulah upakara-upakara ( sesajen ) dipergunakan dalam upacara-upacara agama Hindu yang menurut ( Arwati, 1999 : 9 ) berfungsi sebagai sewaka atau service, yaitu berupa pelayanan yang diwujudkan dalam bentuk hasil kegiatan kerja untuk dipersembahkan atau dikorbankan kehadapan yang dihadirkan dalam suatu upacara yang diselenggarakan.
Demikianlah esensi suatu upacara agama tidak ditentukan oleh besar-kecilnya biaya/materi yang dihabiskan, namun oleh hal kecil yang memiliki nilai yang besar, yaitu bagaimana sikap kita dalam merealisasikan rasa bhakti kita kehadapan Tuhan Yang Maha Esa tanpa rasa pamrih akan hasil-hasilnya.
4. Hari Raya Nyepi
Hari Raya Nyepi yang jatuh pada penanggal ping pisan sasih kadasa merupakan tahun baru Saka.Hari Raya Nyepi disambut dengan pelaksanaan brata penyepian, terangkai secara utuh dan tak terpisahkan dengan pelaksanaan bhutayajña (pecaruan) yang dilaksanakan sehari sebelumnya, yaitu pada tilem kesanga. Kata Nyepi, berasal dari kata “sepi” atau “sunya”, merupakan sebuah kata kunci dalam ajaran Hindu yang mengandung makna kesempurnaan (purna). Oleh karena itu nyepi senantiasa menyajikan bahan renungan kepada kita agar senantiasa ingat pada kebesaran, keagungan, kemuliaan dan kemahakuasaan Tuhan (Hyang Parama Kawi). Tidak sekedar ingat saja tetapi memerlukan tindakan nyata sebagai ungkapan bahwa sebenarnya betapa kecilnya kita di dunia ini. Dengan demikian wajiblah bagi umat untuk selalu berterimakasih kepada Beliau, salah satu tindakan nyatanya adalah melalui pelaksanaan Yajña.
Yajña merupakan salah satu penyangga tegaknya kehidupan di dunia ini. Tuhan telah menciptakan manusia dengan yajña, dengan yajña pulalah manusia mengembang dan memelihara kehidupan, keikhlasan dan kesucian diri sebagai dasar yang utama dalam pelaksanaan suatu yajña.
Dari beberapa kutipan di atas, dasar hukum pelaksanaan yajña bersumber pada kaidah etika, sosial, moral, religius yang dapat dibedakan dalam dua macam yaitu :
a. Yajña berdasarkan teori Rna
Manusia pada hakekatnya dinyatakan sejak lahir terikat oleh adanya hutang (Rna). Ada tiga macam hutang atau Tri Rna yang diajarkan dalam agama Hindu yaitu : Dewa Rna adalah hutang kepada Tuhan dan para Dewa, Rsi Rna adalah hutang kepada para Rsi, dan Pitra Rna adalah hutang kepada para leluhur. (Tim Penyusun, 2006:6)
b. Yajña berdasarkan kitab Sarasamuscaya sloka 2
Dalam kitab Sarasamuscaya sloka 2 dinyatakan :
Ri sakwehning sarwa bhuta,
Ikang janmawwang juga wenang,
Gumawayaken ikang śubhāsubha karma,
Kuneng panentasakena ring subhakarma,
Juga ikang asubha karma phalaning dadi wwang.

Terjemahan :
Diantara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk, leburlah kedalam perbuatan yang baik segala perbuatan yang buruk itu, demikianlah gunanya atau pahalanya menjadi manusia. (Kajeng, 2005: 8)

Sloka di atas menggambarkan bahwa manusia tidak luput dari dosa, sedangkan tujuan hidup adalah untuk menolong diri dari samsara (dosa) dengan jalan berbuat baik.
Demikian juga dalam kitab Sarasamuccaya sloka 4 disebutkan:
Apan ikang dadi wwang uttama juga ya,
Nimittaning mangkana,
Wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsāra,
Maka sāddhanang śubhakarma,
Hinganing kottamaning dadi wwang ika.

Terjemahan :
Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama, sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang-ulang) dengan jalan berbuat baik. Demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia. (Kajeng, 2005 : 9)

Hikmah melaksanakan yajña bertujuan untuk memelihara keseimbangan alam. Pedoman untuk melaksanakan yajña ini dinyatakan dalam pustaka suci Bhagavad gita.III.9 dan 11,, yaitu :
Yajñarhat karmana ‘ nyata,
Loko’yam karma bandhanah,
Tadartham karma kauntega,
Muktasangah samacara

Terjemahan :
Kecuali pekerjaan yang dilakukan untuk yajña dunia ini juga terkait oleh hukum karma. Oleh karenanya, O’Arjuna lakukan pekerjaan sebagai yajña, bebaskan diri dari semua ikatan. (Pendit, 2002 : 88)

Devan bhawagata nena,
Te deva bhavayantah,
Parasporam bhavayantah,
Sreyah param avapsyatha

Ungkapan terimaksih perlu ditingkatkan, dan dikembangkan karena tidak berterimakasih merupakan dosa yang tidak dapat ditebus dengan yajña apapun, sesuai dengan ungkapan sastra dalam Sarasamuccaya, 322 Sebagai berikut :
“Brahmagna ngaraning mamāti brāhmana, humilangaken sang hyang brāhma mantra kunang, tan yatna ri sira, surupa ngaraning manginum madya, an pakabrata tan panginum madya, cora kunang, bhagnabrata ngaraning mang lebur brata, atyanta gongning pāpanika kabeh, tathāpin mangkana hana pamrāyascitta irika, kunang pāpaning krtaghna, tan patambānika, tan kawênang pinrāyaccitta”.

Terjemahan :
Brahmaghna artinya membunuh brahmana dan menghilangkan brahmana mantra, tidak mengindahkan beliau, surapa artinya meminum minuman keras, orang yang menjalankan brata tidak dibenarkan meminum minuman keras, tidak boleh mencuri, bhagnabrata namanya jika melebur (membatalkan) brata, keliwat besar dosanya, namun demikian masih ada penebusnya, akan tetapi dosa dari krtaghna (tak tahu berterimakasih) tidak ada obatnya, tidak dapat ditebus.

Pelaksanaan Hari raya nyepi merupakan salah satu ungkapan terimakasih umat Hindu dengan rangkaian pelaksanaan sebagai berikut :
a. Melasti
Rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi dimulai dengan acara melasti, melis atau mekiyis yang mempunyai makna untuk menyucikan arca, pratima, nyasa atau pralingga. Itu adalah media untuk memusatkan pikiran dalam rangka memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) beserta manefestasinya. Upacara melasti dilangsungkan tiga atau empat hari sebelum hari raya nyepi.
Lontar Sang Hyang Aji Wamandala (dalam Titib, 1995 : 17) disebutkan : Anganyutaken laraning jagat, paklesa letuhing bhuana yang artinya : untuk melenyapkan penderitaan masyarakat dan kekotoran dunia (alam). Sedangkan dalam lontar Sundarigama (dalam Titib, 1995 : 17) ditandaskan : Amet sarining amerta kamandalu ritelenging samudera yang artinya untuk memperoleh air suci kehidupan ditengah-tengah lautan. Menurut keyakinan umat Hindu, ditengah-tengah samuderalah tempatnya Amerta itu.
Berdasarkan kutipan di atas, proses melasti bertujuan untuk menyucikan diri pribadi maupun mensucikan media atau alat-alat simbul Beliau serta saat itu sangat baik bagi umat mulai memantapkan diri merayakan hari raya nyepi.
b. Bhuta Yajña
Sehari sebelum upacaranyepi, tepatnya pada hari tilem chaitra (kesanga) dilangsungkan upacara bhuta yajña yang bertujuan untuk membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan makhluk ciptaanNya serta manusia dengan alam lingkungan tempatnya hidup dan menikmati kehidupan. Tentang bhuta yajña ini dalam Agastya Parwa (dalam Titib, 1991 : 18) dinyatakan : Bhuta yajña ngaranya tawur kapujan ing tuwuh, yang artinya : Bhuta yajña adalah tawur (persembahan tawur) untuk kesejahteraan makhluk (yang tumbuh). Dalam hubungannya dengan hari raya nyepi, wujud upacara bhuta yajña lebih dikenal dengan nama tawur kesanga yang dilihat dari tingkat penggunaannya, sebagai berikut :
1) Tingkat Provinsi
Tawur Agung, adalah caru yang dasarnya panca sanak dengan tambahan angsa, kambing dan seekor kerbau (Wikarman, 1998 : 16). Tawur Agung dilengkapi dengan prayascita dan sesayut dirgayusa gumi beserta kelengkapannya. Pelaksanaannya bertempat di catuspata (persimpangan).
2) Tingkat Kabupaten
Panca Kelud, adalah caru dengan lima ekor ayam (ayam berwarna), ditambah itik belang kalung, asu bang bungkem dan seekor kambing, beserta kelengkapannya. Pelaksanaannya bertempat di catuspata (persimpangan). menurut lontar Dang-Dang Bang Bungalan (dalam Wiana, 2002 :195-196), caru Panca kelud adalah caru tingkat madya. Penggunaan binatang korban di atas memiliki fungsi untuk menyucikan lima arah bhuana, yakni : 1) Timur (urip 5), Selatan (urip 9), Barat (urip 7), Utara (urip 4) dan Tengah (urip 8). Tujuan pelaksanaan upacaranya adalah untuk menegakkan urip atau arah kehidupan dengan mengubah arah kearah (sifat) yang lebih baik (nyomya) bhuta menjadi dewa.
3) Tingkat Kecamatan
Panca Sanak adalah caru dengan lima ekor ayam (ayam berwarna ditambah itik belang kalung beserta kelengkapannya. Pelaksanaannya bertempat di catuspata (persimpangan).
4) Tingkat Desa
Panca sata, adalah caru dengan lima ekor ayam (ayam berwarna) beserta kelengkapannya. Pelaksanaannya bertempat di catuspata (di ujung/hilir desa, di depan bale agung/desa).
5) Tingkat Banjar
Caru Eka Sata, adalah caru dengan seekor ayam brumbun dan kelengkapannya.
6) Rumah Umat Masing-Masing
a) Di Pemerajan/Sanggah
Menghaturkan peras, ajuman, daksina, ketipat kelanan, canang lengawangi, buratwangi, nunas tirtha dan bija
b) Di Natar Merajan/Sanggah
Menghaturkan segehan nasi cacah 108 tanding, ulam jejeroan mentah, satu buah segehan agung dengan tetabuhan arak, tuak, berem dan toya anyar, dihaturkan/ngayat kehadapan sang bhuta kala dan sang kala bela
c) Di Jabaan (pintu keluar-masuk halaman rumah)
Mendirikan sanggah cucuk dan mempersembahkan banten peras, penyeneng, ajuman, pereresikan dan toya anyar. Ditujukan/dihaturkan kehadapan bhatara surya sebagai saksi, dibawahnya menghaturkan segehan agung, segehan manca warna 9 tanding, tetabuhan tuak, arak, berem dan air tawar. Setelah selesai menghaturkan pecaruan semua anggota keluarga dalam rumah tangga masing-masing mabyakala, maprrayascitta dan natab semayut lara melaradan di halaman rumah.
Pelaksanaan untuk tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan dilaksanakan pukul 12.00, sedangkan untuk tingkat desa, banjar/RT dan rumah tangga dilaksanakan pukul 18.00 (Lagas, 1985 :24-25).
Pada sore harinya sebagai akhir upacara bhuta yajña/tawur kesanga dimasing-masing rumah/pekarangan dan desa dilakukan upacara mabuu-buu atau ngrupuk, yakni menyalakan obor, menebarkan nasi tawur, membunyikan bunyi-bunyian, mengarak ogoh-ogoh, yang bermakna mengundang bhuta kala untuk menikmati upacara korban sehingga kembali somya, netral dan seimbang, tidak lagi mengganggu kehidupan manusia.
Catatan :
Tentang upacara dan sesajen di atas disesuaikan dengan desa, kala dan patra serta kemampuan umat..
c. Pelaksanaan Hari Raya Nyepi
Umat Hindu merayakan Hari raya Tahun Baru Saka dengan tidak melaksanakan aktivitas duniawi apapun. Hidup tanpa aktivitas phisik ini dimaksudkan untuk memadamkan kobaran indria atau nafsu. Karena suasananya yang khas yaitu sepi atau sunyi, maka hari raya ini popular sebagai hari raya Nyepi. Tentang makna sepi atau sunyi itu, dalam kakawin Nirartha Prakarta VII.2 disebutkan :
Ri heneng nikang ambek
ma hening ahol
lengit atisaya sunya jñana
nasraya wekasan.
Swayeng umibeki tan ring rat
muang deha tuduhana.
Ri pangawakira Sang Hyang
tattwa dhyatmika katemu.

Artinya :
Ketika pikiran itu telah hening, menjadi amat kecil dan sunyi, tercapailah pemikiran yang bebas, pikiran semacam itu melingkupi seluruh alam, yang bagi orang itu bagaikan tidak di dunia. Orang yang sedemikian itu sebenarnya telah dapat mewujudkan hakikat kebenaran serta mencapai tingkat ketinggian rohani.

Berdasarkan kutipan di atas, maka tahun baru saka merupakan titik atau hari untuk melatih diri, untuk menyepikan diri, melakukan pengendalian diri yang lebih dikenal dengan catur brata hari raya nyepi,yaitu amati agni, amati karya, amati lelanguan dan amati lelungayan.Tujuan dari catur brata penyepian tersebut adalah : 1) untuk mensucikan diri lahir dan batin, 2) untuk melaksanakan yajña dan bhakti, 3) untuk melaksanakan “amulat sarira” (introspeksi/self corectie), 4) untuk merencanakan program kerja atau langkah selanjutnya.
d. Ngembak Agni
Hari Ngembak Agni ini jatuh sehari setelah hari raya nyepi yang disebut juga labuh brata atau lebar puasa, sebagai hari selesainya melakukan berbagai bentuk brata. Pada saat ngembak agni ini umat melakukan kunjungan untuk upaksama (saling memaafkan) dan dharma santi (silaturahmi) baik antara keluarga ataupun masyarakat sekelilingnya.
D. SIMPULAN
Dari paparan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Yajña merupakan salah satu penyangga tegaknya kehidupan di dunia ini. Dengan mengetahui beberapa kreteria sebuah yajña yang disebut sattvika yajña maka diharapkan kepada umat Hindu untuk memperbaharui sikap dalam melaksanakan yajña agar lebih berguna dan berkualitas, sehingga bisa mewujudkan suatu yajña yang berkualitas sattvika seperti yang telah ditetapkan kitab suci.
2. Hari Raya Nyepi yang jatuh pada penanggal ping pisan sasih kadasa merupakan tahun baru Saka
3. Tahun baru saka merupakan titik atau hari untuk melatih diri, untuk menyepikan diri, melakukan pengendalian diri yang lebih dikenal dengan catur brata hari raya nyepi,yaitu amati agni, amati karya, amati lelanguan dan amati lelungayan.Tujuan dari catur brata penyepian tersebut adalah : 1) untuk mensucikan diri lahir dan batin, 2) untuk melaksanakan yajña dan bhakti, 3) untuk melaksanakan “amulat sarira” (introspeksi/self corectie), 4) untuk merencanakan program kerja atau langkah selanjutnya.




















DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006. “Pedoman Catur Yajña”. Mataram : Bidang Bimas Hindu Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Arwati, Sri, Made, 1992. “Upacara – Upakara”. Denpasar : Upada Sastra.
Budhawati, Sudewi Ni Putu, 2007. Fenotife Tradisi Upacara Dalam Konsep Yajna. STAH Negeri Gde Pudja Mataram : Artikel yang tidak dipublikasikan.
Kajeng, I Nyoman dkk, 2005. “Sarasamuccaya”. Surabaya : Paramita.
Lagas, I Ketut. 1985. Hari Raya Hindu. Mataram : Bidang Bimas Hindu Kanwil Departemen Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Rudia, Adiputra, I Gede dkk, 2004. “Dasar - Dasar agama Hindu”. Jakarta : Lestari Karya Megah.
Subagiastha, I Ketut dkk, 1996. “Acara Agama Hindu”. Jakarta : Departemen Agama dan Universitas Terbuka.
S. Pendit, Nyoman, 2002. “Bhagavad Gita”. Jakarta : CV.Felita Nursatama Lestari.
Titib, I Made, 1995. Pedoman Pelaksanaan Hari Raya Nyepi. Denpasar : Upada Sastra.
___________, 2007. Teologi Hindu ( Brahmavidyā ). Denpasar : Bahan Ajar PPs Brahmavidyā IHDN Denpasar.
Pudja, I Gde, 1984. “Sradha”. Jakarta : Maya Sari.
Wiana, I Ketut, 1995. “Yajña dan Bhakti”. Denpasar : Manikgeni.
___________, 2005. Makna Upacara Yajña Dalam Agama Hindu. Surabaya : Paramita.
Wijaya, I Gede, 1981. “Upacara Yajña Agama Hindu”. Denpasar : Setia Kawan.
Wikarman, Singgih I Nyoman, 1998. Caru. Surabaya : Paramita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar