Selasa, 03 November 2009

ELEMINASI GENDER DAN DEKONSTRUKSI MAKNA
KITAB SARASAMUSCAYA

Oleh :
Ida Bagus Made Arjana

BAB I.
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Dampak yang ditimbulkan pada era globalisasi ini khususnya pemahaman tentang hak azasi manusia membawa konsekuensi tentang kesetaraan gender. Wacana kritis tentang tuntutan kesetaraan gender ini makin lantang diteriakan, tidah hanya oleh kaum perempuan Indonesia tetapi hal yang serupa juga dijumpai dibelahan dunia manapun. Tuntutan tentang kesetaraan gender ini sangat manusiawi bahkan sangat mulia. Kaum perempuan bersuara lantang dan tergerak hatinya untuk mengetahui jati dirinya serta mengetahui secara jelas dan tegas tentang hak dan kewajiban seorang perempuan.
Perlu dipahami bahwa dalam perspektif kesadaran gender, kesetaraan hak perempuan bukan satu-satunya prinsip yang diperjuangakan. Berbicara tentang hak perempuan tanpa melakukan pembongkaran terhadap hegemoni patriarkhis, telah membuat perjuangan perempuan berpusar dalam medan ilusi. Ketertindasan perempuan adalah fakta tak terpungkiri dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari realitas social (Admin:2006)
Berbicara mengenai perempuan adalah berbicara mengenai kontruksi ketidakadilan tertua yang pernah ada di bumi ini.sebagai contoh terdekat adalah pengunaan kata perempuan untuk melabelisasi kaum ini. Kata perempuan berasal dari kata empu yang berarti merawat atau mendidik. Implikasi liguistiknya perempuan adalah satu-satunya pihak yang memiliki kewajiban untuk merawat dan mendidik. Kaum ini telah dibebani tangung jawab moral untuk merawat dan mendidik umat manusia, tanpa mereka pernah meminta dan diserahi tanggung jawab seberat itu.
Pelekatan stereotype-stereotype diatas, membuat perempuan teralienasi dalam posisinya. Mereka tidak pernah memilih untuk berperan dalam posisi yang mereka jalani. Peran, posisi dan fungsi telah dipilihkan untuk mereka oleh masyarakat yang patriarkhis. Pelekatan-pelekatan itu membuat perempuan tidak menyatu dengan dirinya, sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas. Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan.
Perjuangan perempuan bukan sebatas perjuangan hak untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi atau mendapatkan posisi sebagai pemimpin sekalipun. Esensi perjuangan perempuan adalah mengembalikan hakikat kemanusiaan yang sekian lama sudah terampas dari dirinya. Ketika seseorang memiliki kuasa untuk memilih dan sadar akan konsekuensi pilihannya, ketika itulah ia meng ada sebagai manusia. Hilangnya kemanusiaan perempuan, terampas eksistensinya sebagai manusia adalah bentukan suatu system social tertentu, yang harus diwartakan, disiarkan kepada khalayak dalam usaha membangun pemahaman yang lebih manusiawi tentang manusia.
Wararuci adalah seorang penulis kitab Sarasamuscaya yang ditulis kira-kira pada abad ke-9 - 10 Masehi.. Kitab Sarasamuscaya terdiri atas 511 sloka. Misi utama adalah pencerahan, yaitu pendidikan moral dan spiritual untuk masyarakat luas. Sebagai usaha merangkum dan menyarikan Asta Dasa Parwa dari kitab Mahabharata, Bhagawan Wararuci menulis Sarasamuccaya, berdasarkan wejangan yang disampaikan Bagawan Waicampayana kepada prabu Janamejaya. Kitab ini diperkirakan diterjemahkan dalam bahasa jawa kuno pada jaman Majapahit sebagai tuntunan bagi para pandita untuk mengahadapi kehidupan spiritualnya. (Pudja, 1984)
Dalam perkembangannya, Sarasamuccaya kemudian tidak begitu populer di tanah Jawa, tapi menjadi lebih popular di Bali. Sebagian orang bahkan menyebutnya sebagai Bhagavadgita-nya orang Bali. Sarasamuccaya adalah bukti bagaimana teks Mahabharata diterjemahkan kedalam bhasa Jawa kuno dan dipergunakan oleh umat hindu umumnya dan para pandita yang sesuai dengan konteks ruang dan waktu yang dijelajahinya. Sarasamusccaya yang kita kenal sekarang adalah sebuah interpretasi kontekstual yang siap dikritisi.
Sarasamuccaya adalah sebuah kitab yang berisi tuntunan untuk menjalani hidup. Didalamnya ditulis tentang episode–episode kehidupan manusia. Sebuah teks yang diakui sebagai sebuah kitab suci, punya legitimasi yang besar untuk ‘mengatur’ kehidupan manusia dan membentuk persepsinya tentang hidup dan apa yang dicari dalam hidup.
Sarasamuccaya juga sebuah kitab yang lekat dengan umat Hindu. Besar kemungkinan, pembentukan persepsi yang terjadi melalui pemahaman atas kitab ini telah sangat berakar dalam kehidupan umat Hindu. Bagaimana perempuan digambarkan dalam wacana Sarasamuccaya adalah awal yang penting untuk mengenali citra perempuan dalam Hindu. Penelaahan kembali ini adalah langkah awal dari sebuah usaha perumusan solusi bagi penindasan wacana yang dihadirkan oleh sebuah pustaka suci.
Sarasamusccaya harus ditafsirkan secara lebih akomodatif dan berpihak pada kesejatian manusia, tanpa memandang jenis kelamin. Perjuangan perempuan dalam perspektif kesadaran gender sekali lagi bukan semata masalah kesetaraan hak laki-laki dan hak perempuan dalam perangkap ketidakberdayaan sebuah tubuh dengan jenis kelamin tertentu. Perjuangan ini adalah soal kesempatan menjadi manusia. Ini adalah sebuah perjuangan dimana perempuan harus menyadari potensinya dan memiliki akses untuk maju, memilih sebuah jalan hidup yang merdeka.
Kedudukan perempuan yang digambarkan dalam wacana sarasamuscaya adalah awal yang sangat penting untuk mengenal citra wanita Hindu. Penelaahan ini adalah merupakan langkah awal dari sebuah usaha perumusan solusi bagi penindasan wacana yang dihadirkan oleh sebuah pustaka suci. Sarasamuscaya harus ditafsirkan secara lebih akomodatif dan berpihak pada kesejatian manusia, tanpa harus memandang perbedaan jenis kelamin (Admin;2006)
Sebagai sebuah konsep yang mengingkari kemanusiaan dengan mengijinkan penindasan atas manusia yang lain maka perlu adanya usaha untuk mengembalikan konsep gender sebagai konsep peran yang tidak terikat pada jenis kelamin serta memberikan penghargaan yang sama terhadap peran perempuan.
Oleh karena itu, mengacu pada latar belakang di atas peneliti tertarik mengadakan suatu penelitian dengan judul “Marjinalisasi Gender Dan Dekonstruksi Makna Kitab Sarasamuscaya“ ( Suatu Kajian Hermeneutika ). Pemahaman masyarakat terhadap sloka-sloka dalam kitab ini dapat dikaji secara lebih mandalan guna mengetahui peran, dan eksistensi yang mengarah pada marjinalisasi kaum perempuan dapat dihilangkan. Hasil penelitian ini diharapkan agar perempuan harus dapat memilih perannya sendiri, tidak dalam batasan yang patriarkhis tetapi dalam keluasan nilai kemanusiaan. Sikap diskriminasi terhadap perempuan dan feminitas harus diganti dengan sikap yang apresiatif sehingga kesetaraan gender dapat terwujud secara holistic
B. Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang diatas, maka dapat diformulasikan rumusan masalah sebagai berikut : “ Makna apakah yang terkandung dalam kitab Sarasamuscaya khususnya sloka-sloka yang mengarah pada terjadinya marginalisai gender ( kaum perempuan )“ ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan mendeskripsikan makna yang terkandung dalam kitab Sarasamuscaya khususnya sloka-sloka yang mengarah pada terjadinya marginalisai gender ( kaum perempuan).



D. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah pengetahuan tentang nilai-nilai ajaran agama Hindu secara aplikatif khususnya yang tertuang dalam kitab Sarasamuscaya serta merumuskan temuan langkah-langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pengamalan ajaran agama dari sebuah ajaran kitab suci dalam mengarungi kehidupan keagamaan pada era kesejagatan ini.
2. Kegunaan Praktis
a. Hasil penelitian diharapkan akan dapat membantu, menambah wawasan, dan memperluas cakrawala pandang serta mempertajam kognitif masyarakat dengan menempatkan perempuan dengan perspektif kemanusiaan sebagai pengamat dari sebuat teks yang patriarkhis sehingga tidak terjadi chronic gender inconciousnes.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sebagai sebuah sumbangan pemikiran kepada institusi-institusi keagamaan. yang terkait melalui suatu proses pembinaan baik dalam pendidikan formal maupun informal.
c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi bagi peneliti lain dalam menganalisis dan menjelaskan kajian teks pustaka suci ainnya, khususnya yang berkaitan dengan masalah tersebut untuk dikembangkan lebih lanjut.

E. Kerangka Konseptual






Dari sekian banyak Sloka-sloka dalam kitab Sarasamuscaya ini, terdapat beberapa sloka yang menurut pemahaman bagi sebagian orang dapat mengarah paraa marjinalisasi kaum perempuan sehingga peran dan eksistensi kaum perempuan di nomor duakan. Proses percekcokan dokrin agama tanpa telaah kritis, telah membawa kita ke tepi jurang ketidaksadaran gender yang kronis. Penyakit mematikan yang bernama “Crhnis gender inconsiouness” hanya dapat disembuhkan lewat terapi sistem guna mengeleminasi rasa sakit itu. Proses ini harus dimulai dengan pembongkaran berbagai stereotype yang telah dilekatkan para kaum perempuan.
Untuk mengembalikan citra perempuan dengan menempatkan pada perspektif nilai kemanusiaan guna terwujud sikap yang apresiatif sehingga kesetaraan gender dapat terwujud secara holistic, maka dekonstruksi makna yang berdasarkan pada analisis gender atas peran dan eksistensi perempuan Hindu dalam kitab sarasamuscaya dapat dikaji secara lebih mendalam sehingga marjinalisasi gender ( kaum perempuan ) dalam kitab sarasamuscaya dapat dieliminasi secara utuh.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Marginalisasi Gender
Konferensi Dunia tentang perempuan yang pertama diadakan di Mexico City oleh PBB tahun 1975, diperoleh gambaran bahwa di negara manapun status perempuan lebih rendah dari pada laki-laki dan terbelakang dalam berbagai aspek kehidupan baik sebagai pelaku maupun penikmat hasil pembangunan.
Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan telah dilakukan berbagai program dan kegiatan pemberdayaan perempuan, namun hasilnya masih belum memadai, Kesempatan kerja perempuan belum membaik, beban kerja masih berat dan pendidikan masih rendah. Dari kegiatan tersebut lahir pemikiran bahwa hubungan/relasi yang timpang antara perempuan dan laki-laki di dalam dan di luar keluarga perlu diubah, artinya diperlukan suatu perubahan struktural yaitu perubahan relasi sosial dari yang timpang ke relasi sosial yang setara dimana keduanya merupakan factor penting dalam menentukan berbagai hal yang menyangkut kehidupan keluarga.
Pada tahun 1980 diselenggarakan Konferensi Dunia tentang perempuan yang kedua di Kopenhagen untuk melihat kemajuan dan evaluasi tentang upaya berbagai negara peserta, tentang keikutsertaan perempuan dalam pembangunan. Pada tahun 1985 diadakan Konferensi Perempuan ketiga di Nairobi, yang salah satu kesepakatannya adalah bahwa gender digunakan sebagai alat analisis mengkaji mengapa terjadi berbagai ketimpangan antara perempuan dan laki-laki diberbagai bidang kehidupan. Selanjutnya pada tahun 1995, konferensi dunia tentang perempuan yang keempat di Beijing telah menyepakati 12 isu kritis yang perlu mendapat perhatian dan segera ditangani, yaitu:
1. Perempuan dan kemiskinan, utamanya kemiskinan struktural akibat kebijakan pembangunan dan sosial budaya yang berlaku.
2. Keterbatasan kesempatan pendidikan dan pelatihan bagi perempuan untuk meningkatkan posisi tawar menawar menuju kesetaraan gender.
3. Masalah Kesehatan dan Hak Reproduksi perempuan yang kurang mendapat perlindungan dan pelayanan yang memadai
4. Tidak kekerasan (Fisik dan non Fisik) terhadap perempuan baik dirumah tangga maupun di tempat kerja tanpa mendapatkan perlindungan secara hukum.
5. Perempuan dan konflik bersenjata/Militer, perempuan banyak menjadi korban kekejaman dan kekerasan pihak yang bertikai, walaupun sudah di jamin oleh Konvensi Genewa 1949.
6. Terbatasnya akses kaum perempuan untuk berusaha di bidang ekonomi Produktif, termasuk mendapatkan modal dan pelatihan usaha.
7. Keikutsertaan perempuan dalam merumuskan dan pengambilan keputusan di keluarga, masyarakat, dan negara masih sangat kurang.
8. Keterbatasan kelembagaan dan mekanisme yang dapat memperjuangkan kaum perempuan dalam sector pemerintahan dan non pemerintahan/swasta.
9. Perlindungan dan pengayoman terhadap hak-hak azasi perempuan secara social maupun hukum masih lemah.
10. Keterbatasan kaum perempuan terhadap media masa sehingga ada kecenderungan media informasi menggunakan tubuh wanita sebagai media promosi dan eskploitasi murahan.
11. Kaum perempuan paling rentan terhadap pencemaran lingkungan seperti air bersih, sampah industri dan lingkungan lainnya.
12. Terbatasnya kesempatan dalam mengembangkan potensi dirinya dan tindak kekerasan terhadap anak perempuan.

Dari berbagai kesepakatan tersebut ternyata teori dan konsep gender perlu dipelajari dan disosialisasikan kepada seluruh lapisan masyarakat agar kesetaraan dan keadilan perempuan dan laki-laki terwujud.

1. Teori Gender
Dalam pembahasan mengenai gender, termasuk kesetaraan dan keadilan gender dikenal adanya dua aliran atau teori, yaitu : teori nurture dan teori nature. Namun demikian dapat pula dikembangkan satu konsep teori yang diilhami dari dua teori tersebut yang merupakan kompromistis atau keseimbangan yang disebut dengan teori equilibrium, secara rinci teori-teori tersebut diuraikan sebagai berikut.:
a. Teori Nurture.
Menurut teori nurture perbedaan perempuan dan laki-laki pada hakekatnya adalah hasil konstruksi social budaya, sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda. Perbedaan itu menyebabkan perempuan selalu tertinggal dan terabaikan peran dan kontribusinya dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dab bernegara. Kontruksi social menempatkan perempuan dan laki-laki dalam perbedaan kelas. Laki-laki diidentikan dengan kelas borjuis dan perempuan sebagai proletar.
Perjuangan untuk persamaan dipelopori oleh kaum feminis internasional yang cenderung mengejar persamaan (sameness) dengan konsep 50 : 50 (Fifty-fifty), konsep yang kemudian dikenal dengan istilah perfect equality (kesamaan kuantitas). Perjuangan tersebut sulit dicapai karena berbagai hambatan baik dari nilai agama maupun budaya. Berangkat dari kenyataan tersebut, para feminis berjuang dengan menggunakan pendekatan social konflik, yaitu konsep yang diilhami oleh ajaran Karl Marx (1818-1883) dan Machiawelle (1469-1527) dilanjutkan oleh David Lockwood (1957) dengan tetap menerapkan konsep dialektika.
Randall Collin (1987) beranggapan keluarga adalah wadah tempat pemaksaan, suami sebagai pemilik dan wanita sebagai abdi. Margrit Eichlen beranggapan keluarga dan agama adalah sumber terbentuknya budaya dan perilaku diskriminasi gender.
Konsep social konflik menempatkan kaum laki-laki sebagai kaum penindas (borjuis) dan perempuan sebagai kaum tertindas (proletar). Bagi kaum proletar tidak ada pilihan kecuali dengan perjuangan menyingkirkan penindas demi untuk mencapai kebebasan dan persamaan. Karena itu aliran nurture melahirkan paham social konflik yang banyak dianut masyarakat sosialis komunis yang menghilangkan strata penduduk (egalitarian). Paham social konflik memperjuangkan kesamaan proporsional (perfect equality) dalam segala aktivitas masyarakat seperti di DPR, Militer, menejer, Meneri, Gubernur, pilot dan pimpinan partai politik.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dibuatlah program khusus (affirmative action) guna memberikan peluang bagi pemberdayaan perempuan agar bisa termotivasi untuk merebut posisi yang selama ini didominasi oleh kaum laki-laki. Akibatnya sedah dapat diduga, yaitu tibulnya reaksi negatif dari laki-laki yang apriori terhadap perjuangan tersebut yang dikenal dengan prilaku “male backlash”.
b. Teori Nature.
Menurut teori nature, perbedaan perempuan dan laki-laki adalah kodrat, sehingga harus diterima. Perbedaan biologis itu memberikan indikasi bahwa diantara kedua jenis tersebut diberikan peran dan tugas yang berbeda. Ada peran dan tugas yang dapat dipertukarkan, tetapi ada yang tidak bisa karena memang berbeda secara kodrat alamiahnya.
Dalam proses perkembangannya banyak kaum perempuan sadar terhadap beberapa kelemahan teori nurture di atas, lau beralih ke teori nature. Pendekatan nurture dirasa tidak menciptakan kedamaian dan keharmonisan dalam hidup berkeluarga dan bermasyarakat.
Perbedaan biologis diyakini memiliki pengaruh pada peran yang bersifat naluri (instinct). Perjuangan kelas tidak pernah mencapai hasil yang memuaskan, karena manusia memerlukan kemitraan dan kerjasama secara structural dan fungsional. Manusia baik perempuan maupun laki-laki, memiliki perbedaan kodrat sesuai dengan fungsinya masing-masing. Dalam kehidupan social pembagian tugas (division of labor) begitu pula dalam kehidupan keluarga. Harus ada kesepakatan antara suami isteri, siapa yang menjadi kepala keluarga dan siapa yang menjadi ibu rumah tangga. Dalam organisasi sosial juga dikenal ada pimpinan dan ada bawahan (anggota) yang masing-masing mempunyai tugas, fungsi dan kewajiban yang berbeda dalam mencapai tujuan. Tidak mungkin satu kapal dikomandani oleh dua nahkoda. Paham ini diajarkan oleh Socrates dan Palto, yang kemudian diperbaharui oleh August Comte (1798 –1857), Emile Durkheim (1858 – 1917) dan Herbert Spencer (1820 – 1930) yang mengatakan bahwa kehidupan kebersamaan didasari oleh pembagian kerja dan tanggung jawab
Talcott Parson ( 1902 –1979) dan Parson & Bales berpendapat bahwa keluarga adalah sebagian unit sosial yang meberikan perbedaan peran suami dan isteri untuk saling melengkapi dan saling bantu membantu satu sama lain. Karena itu peranan keluarga semakin penting dalam masyarakat modern terutama dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Keharmonisan hidup hanya dapat diciptakan bila terjadi pembagian peran dan tugas yang serasi antara perempuan dan laki-laki, dan hal ini dimulai sejak dini melalui “pola pendidikan” dan pengasuhan anak dalam keluarga.
Teori ini melahirkan paham structural fungsional yang menerima perbedaan peran, asal dilakukan secara demokrasi dan dilandasi oleh kesepakatan (komitmen) antara suami isteri dalam keluarga atau antara kaum perempuan dan laki-laki dalam kehidupan masyarakat.
c. Aliran Equilibrium (Keseimbangan)
Disamping kedua Teori tersebut, terdapat kompromistis yang dikenal dengan keseimbangan (equilibrium) yang menekankan pada konsep kemitraan dan keharmonisan dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki, karena keduanya harus bekerjasama dalam kemitraan dan keharmonisan dalam kehidupan keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, maka dalam setiap kebijakan dan strategi pembangunan agar diperhitungkan dan peran perempuan dan laki-laki secara seimbang. Hubungan diantara kedua elemen tersebut bukan saling bertentangan tetapi hubungan komplementer guna saling melengkapi satau sama lain. R.H/ Tawney menyebutkan bahwa keragaman peran apakah karena faktor biologis, etnis, aspirasi, minat, pilihan atau budaya pada hakekatnya adalah realita kehidupan manusia.
Hubungan laki-laki dan perempuan bukan dilandasi konflik dikotomis, bukan pula structural fungsional, tetapi lebih dilandasi kebutuhan kebersamaan guna membangun kemitraan yang harmonis, karena setiap pihak punya kelebihan sekaligus kekurangan, kekuatan sekaligus kelemahan yang perlu diisi dan dilengkapi pihak lain dalam kerjasama yang setara.
2. Konsep Gender
Istilah gender berasal dari kata Gen yang artinya pembawa sifat embrio laki-laki maupun perempuan. Gender diketengahkan oleh para ilmuwan sosial untuk menjelaskan mana perbedaan perempuan dan laki-laki yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Tuhan dan mana yang merupakan bentuk budaya yang dikontruksikan, dipelajari dan disosialisasikan. Pembedaan ini sangat penting, karena selama ini kita sering sekali mencampur adukan cirri-ciri manusia yang bersifat kodrat dan tidak berubah dengan cirri-ciri manusia yang bersifat non kodrat (gender) yang sebenarnya, bisa berubah atau diubah.
Pembedaan peran gender ini sangat membantu kita untuk memikirkan kembali tentang pembagian peran yang selama ini telah melekat pada manusia perempuan dan laki-laki. Dengan mengenali pembagian gnder sebagai sesuatu yang tidak tetap, tidak permanen, memudahkan kita untuk membangun gambaran tentang realitas relasi perempuan dan laki-laki yang dinamis yang lebih tepat dan cocok dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat.
Dengan kata lain mengapa kita perlu memisahkan perbedaan jenis kelamin biologis dan gender adalah karena konsep jenis kelamin biologis yang bersifat permanen dan statis itu tidak dapat digunakan sebagai alat analisis yang berguna untuk memahami realitas kehidupan dan dinamika perubahan relasi lelaki dan perempuan.
Dilain pihak analisis sosial yang telah ada seperti analisis kelas, analisis diskursus (discourse analysis) dan analisis kebudayaan yang selama ini digunakan untuk memahami realitas sosial tidak dapat menangkap realitas adanya relasi kekuasaan yang didasarkan pada relasi gender dan sangat berpotensi menunbuhkan penindasan. Dengan begitu analisis gender sebenarnya menggenapi sekaligus mengoreksi anat analisis sosial yang ada yang dapat digunakan untuk meneropong realitas relasi dan perempuan serta akibat-akibat yang ditimbulkannya.
Jadi jelaslah mengapa gender perlu dipersoalkan. Perbedaan konsep gender secara sosial telah melahirkan perbedaan peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakatnya. Secara umum adanya gender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi dan bahkan ruang tempat di mana manusia beraktifitas. Sedemikian rupanya perbedaan gender ini melekat pada cara pandang kita,sehingga kita sering lupa seakan-akan hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan abadi sebagaimana permanen dan abadinya ciri biologis yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki.
Secara sederhana perbedaan gender telah melahirkan perbedaan peran, sifat dan fungsi yang terpola sebagai berikut :
a. Kontruksi biologis dari ciri primer, sekunder, maskulin, feminism
b. Kontruksi social dari peran citra baku (Strereotype)
c. Kontruksi agama dari keyakinan, kitab suci agama.
Anggapan bahwa sikap perempuan feminim atau laki-laki maskulin
bukanlah sesuatu yang mutlak, semutlak kepemilikan manusia atas jenis kelamin biologisnya.Dalam memahami konsep gender ada beberapa hal yang perlu dipahami yaitu Ketidak-adilan dan Diskriminasi Gender
Ketidak-adilan dan Diskriminasi Gender merupakan system dan struktur dimana perempuan maupun laki-laki menjadi korban dari sistem tersebut. Berbagai pembedaan peran dan kedudukan antara perempuan dan laki-laki baik secara langsung berupa dampak perlakuan maupun sikap, dan yang tidak langsung berupa dampak suatu peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidak-adilan yang telah berakar dalam sejarah, adat, norma ataupun dalam berbagai struktur yang ada dimasyarakat.
Ketidak-adilan gender terjadi karena adanya keyakinan dan pembenaran yang ditanamkan sepanjang peradaban manusia dalam berbagai bentuk yang bukan hanya menimpa perempuan saja, tetapi juga dialami oleh laki-laki. Meskipun secara agregat ketidak-adilan gender dalam berbagai kehidupan ini lebih banyak dialami oleh perempuan, namun ketidak-adilan gender itu berdampak pula terhadap laki-laki
Bentuk-bentuk ketidak-adilan akibat diskriminasi gender itu meliputi
1) Marjinalisasi (peminggiran) perempuan
Proses marjinalisasi (peminggiran) yang mengakibatkan kemiskinan, banyak terjadi di negara berkembang seperti penggusuran dari kampung halamannya, eksploitasi, dsb. Namun pemiskinan atas perempuan maupun atas laki-laki yang disebabkan karena jenis kelaminnya adalah merupakan salah satu bentuk ketidak-adilan yang disebabkan gender. Sebagai contoh, banyak perempuan yang tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti intensifikasi pertanian yang hanya menfokuskan pada petanni laki-laki. Perempuan dipinggirkan dari beberapa jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki oleh laki-laki. Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara menual oleh perempuan diambil aleh oleh laki-laki. Sebaliknya, banyak lapangan pekerjaan yang memerlukan kecermatan dan kesabaran diberikan kepada perempuan.
2) Sub Ordinasi ( Penomorduaan )
Sub Ordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama disbanding jenis kelamin lainnya. Sudah sejak dulu ada pandangan yang menempakan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari pada laki-laki. Banyak kasus dalam tradisi, tafsir keagamaan maupun dalam aturan birokrasi yang meletakkan kaum perempuan pada sub ordinat. Kenyataan memperhatikan pula bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan diberbagai kehidupan.
3) Pandangan Stereotype ( Pelabelan Negatif )
Pelabelan atau penandaan (stereotype) yang seringkali bersifat negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. Salah satu jenis stereotype yang melahirkan ketidakadilan dan diskriminasi bersumber dari pandangan gender karena menyangkut pelabelan atau penandaan terhadap salah satu jenis kelamin tertentu. Misalnya, pandangan terhadap perempuan bahwa tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan domestik dan sebagai akibatnya ketia ia berada di ruang publik maka jenis pekerjaan, profesi atau kegiatannya di masyarakat bahkan di tingkat pemerintahan dan negara hanyalah “perpanjangan” peran domestiknya. Misalnya, karena perempuan dianggap pandai merayu maka ia dianggap pas bekerja di bagian penjualan. Apabila seorang laki-laki marah, ia dianggap tegas tetapi apabila seorang perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. Standar penilaian terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda namun standar nilai tersebut lebih banyak merugikan perempuan.
4) Kekerasan ( Violence )
Berbagai kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan peran muncul dalam berbagai bentuk. Kata “kekerasan” yang merupakan terjemahan dari “violence” artinya suatu serangan terhadap fisik meupun integritas mental psikologi seseorang. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan, pemukulan, dan penyiksaan, tetapi juga yang bersifat seperti pelecehan seksual, ancaman dan paksaan sehingga secara emosional perempuan atau laki-laki yang mengalaminya akan merasa terusik batinnya.
Pelaku kekerasan bersumber karena gender ini bermacam-macam. Ada yang bersifat individual seperti di dalam rumah tangga sendiri maupun ditempat umum dan juga dalam masyarakat.
5) Beban Ganda ( Double Burden )
Sebagai suatu bentuk diskriminasi dan ketidakadilan gender adalah beban kerja yang harus dijalankan oleh salah satu jenis kelamin tertentu. Dalam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan oleh laki-laki, dan beberapa yang lain dilakukan oleh perempuan.
Berbagai pengamatan menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga, sehingga bagi mereka yang bekerja di luar rumah, selain bekerja diwilayah publik mereka juga masih harus mengerjakan pekerjaan domestik.
B. Sarasamuscaya Dalam Silsilah Pustaka Suci
Veda adalah kitab suci agama Hindu. Veda diyakini sebagai sebuah kitab suci karena sifat dan isinya dan diwahyukan oleh Tuhan. Sedangkan kata Weda sendiri secara etimologis berarti kebenaran atau pengetahuan suci. Isi dari kitab suci ini adalah kebenaran dan pengetahuan suci yang diturunkan oleh Tuhan melalui perantara para Maharsi.. sebuah kitab suci, maka Weda adalah acuan dasar atau sumber dari ajaran agama Hindu. Selain kitab suci Weda yang tergolong Sruthi, juga terdapat kitab-kitab suci lain seperti kitab Smerthi,, Itihasa, Purana, Tantra dan Darsana.
Sruthi adalah kitab suci yang disusun berdasarkan wahyu Tuhan yang didengar atau lewat penampakan Tuhan yang dilihat oleh para Maharsi. Smerthi artinya yang diingat. Kitab Smerthi ini merupakan penjabaran dari kitab suci Sruthi dalam konteks kehidupan sehari-hari baik dalam tingkah laku pribadi, keluarga, kehidupan bermasyarakat bahkan kehidupan bernegara. Kitab Manawadharmasastra adalah salah satu dari kitab-kitab hukum Hindu yang sering digunakan sebagai acuan oleh umat Hindu. Itihasa adalah sebuah efos Ramayana dan Mahabrata yang didalamnya berisikan penjabaran dari Weda dalam bentuk cerita. Kitab purana mengisahkan kehidupan para dewa dan dinasti pra raja yang melalui penjelasan ini terangkum penjelasan tentang Weda. Kitab Tantra adalah kitab yang menjelaskan tentang ritual keagamaan. Sedangkan Darsana adalah kitab yang memuat filsafat Hindu tentang bagaimana umat manusia menemukan kebenaran universal.
Itihasa sebagai sebuah kitab suci memiliki daya jangkau yang relative lebih luas dibandingkan dengan kitab yang lain. Kemampuan penetrasi Itihasa dikarenakan sifat dan isinya yang mudah diserap (easy absorbdable). Personifikasi konflik kebaikan dan keburukan lewat kisah para raja, membuat setting kisah menjadi realistis, dan mudah untuk dipahami. Hadirnya kisah Mahabrata dan Ramayana dalam berbagai kesenian rakyat, semakin meneguhkan peran Itihasa.
Cerita-cerita yang disajikan dalam Itihasa seperti Mahabrata yang ditulis oleh Bhagawan Byasa telah membangkitkan upaya interpretasi dalam kehidupan yang lebih nyata pada konteks ruang dan waktu tertentu. Sebagai usaha merangkum dan menyarikan Asta Dasa Parwa dari Kitab Mahabrata, Bhagawan Wararuci menulis sarasamuscaya, berdasarkan wejangan yang disampaikan Bhagawan Waicampayana kepada Prabu Janamejaya sebagai tuntunan bagi para pandita untuk menghadapi kehidupan spiritual. Kitab Sarasamuscaya adalah salah satu bukti bahwa bagaimana teks dari Mahabrata ditulis atau diterjemahkan dalam tulisan jawa kuno yang digunakan sebagai pedoman yang sesuai dengan konteks ruang dan waktu yang dijelajahinya.
C. Bias Gender Dalam Sarasamuscaya.
Kekerasan terhadap perempuan, sebenarnya, bisa saja disebabkan oleh banyak faktor, baik yang bersifat ideologis maupun budaya. Menurut hasil penelitian Rifka Annisa Women Crisis Center sekurang-kurangnya terdapat 3 faktor utama yang memungkinkan munculnya kekerasan terhadap perempuan yakni: (1) budaya patriarkhi yang meletakkan laki-laki sebagai makhluk superior dan sebaliknya, perempuan sebagai makhluk inferior, (2) pemahaman dan penafsiran yang keliru terhadap ajaran dan teks-teks agama, dan (3) peniruan (modeling) akibat terbiasa menyaksikan pola komunikasi sosial yang bias gender, yang mengandung banyak bentuk kekerasan terhadap perempuan. Jika kita lihat poin nomor dua (2) di atas maka kekerasan terhadap perempuan, salah satunya, disebabkan faktor pemahaman dan penafsiran yang keliru terhadap ajaran dan teks-teks agama itu sendiri. Dengan demikian, kekerasan terhadap perempuan bisa dikatakan sebagai hasil dari penafsiran yang keliru terhadap ajaran dan teks-teks kitab suci, dan bukan merupakan inti dan esensi dari ajaran-ajaran agama.
Menurut Masdar F Mas’udi, penafsiran keliru teks-teks kitab suci terkadang justru menjadi faktor yang lebih dominan bagi lahirnya kekerasan terhadap perempuan dibanding 2 faktor lainnya. Hal ini karena, misalnya, dalam konteks Indonesia terjadi proses indoktrinasi secara sistematis melalui dunia pendidikan. Masdar menemukan beberapa catatan bernuansa diskriminasi terhadap perempuan dan bahkan hanya menjadikan perempuan sebagai obyek belaka yang menghambat perempuan dalam mengemban tanggung jawab publik, termasuk masalah kepemimpinan.
Kesadaran seperti ini, dalam istilah (terminology) modern telah memberikan kepada laki-laki (suami) suatu posisi supremasi sebagai borjuis, sementara kaum perempuan (istri) mewakili proletariat. Demikianlah penjelasan tentang kekerasan terhadap perempuan yang berbasis penafsiran. Pemahaman yang dihasilkan dari penafsiran yang keliru terhadap teks-teks kitab suci terlibat dalam pembentukan struktur dominasi kaum laki-laki terhadap kaum perempuan yang juga memperkuat adanya dikotomi wilayah domestik dan publik sehingga mempersubur terjadinya kekerasan terhadap perempuan berbasis gender. Sementara, gender berkaitan erat dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berpikir serta bertindak sesuai dengan ketentuan sosial dan budaya. Dan, salah satu faktor yang menentukan keyakinan berpikir dan bertindak adalah konsep-konsep keagamaan (teologis) yang diperoleh melalui pemahaman dari penafsiran terhadap ajaran dan teks-teks kitab suci agama.
Sarasamuscaya adalah sebuah kitab yang berisi tuntutan untuk menjalani hidup. Didalamnya ditulis tentang episode-episode kehidupan manusia. Sebuah teks yang diakui sebagai sebuah kitab suci, mempunyai legitimasi yang besar untuk mengatur kehidupan manusia dan membentuk persepsinya tentang hidup dan apa yang dicari dalam hidup ini. Sarasamuscaya juga merupakan sebuah kitab suci yang lekat dengan umat Hindu yang tentunya pembentukan yang terjadi melalui pemahaman atas kitab sarasamuscaya ini telah sangat berakar dalam kehidupan umat Hindu khususnya Hindu etnis Bali.
Kedudukan perempuan yang digambarkan dalam wacana sarasamuscaya adalah awal yang sangat penting untuk mengenal citra wanita Hindu. Penelaahan ini adalah merupakan langkah awal dari sebuah usaha perumusan solusi bagi penindasan wacana yang dihadirkan oleh sebuah pustaka suci. Sarasamuscaya harus ditafsirkan secara lebih akomodatif dan berpihak pada kesejatian manusia, tanpa harus memandang perbedaan jenis kelamin.
Perjuangan perempuan dalam perspektif kesadaran gender bukan semata-mata masalah kesetaraan hak laki-laki dan perempuan dalam perangkap ketidakberdayaan sebuah tubuh dengan jenis kelamin tertentu, tetapi sebuah perjuangan dalam kesempatan menjadi manusia. Ini adalah sebuah perjuangan dimana perempuan harus menyadari potensinya dan memiliki akses untuk maju, memilih sebuah jalan hidup yang merdeka
D. Hermeneutika Dan Dekonstruksi Makna
Hermeneutika merupakan bentuk pendekatan kritis terhadap problem penafsiran yang cenderung dominatif dan mono-interpretatif. Gagasan hermeneutika pembebasan sebagai kritik pendekatan konvensional, menandakan bahwa penafsiran atas teks-teks suci agama yang selama ini dilakukan belum memberikan spirit pembebasan dan perubahan positif di kalangan umat beragama. Oleh karena itu, hermeneutika pembebasan merupakan wacana bagi tindakan solutif terjadinya dialektika antara teks dan konteks sebagai lingkaran hermeneutika teks-teks suci agama. Hermeneutika ini juga berupaya mengaitkan penafsiran teks-teks suci agama agar lebih dekat dengan problem kemanusiaan seperti kemiskinan, kebodohan, penindasan dan ketidakadilan.
Terhadap produk penafsiran yang kentara bias gendernya, yang sering dijadikan referensi oleh pihak-pihak yang melakukan tindak kekerasan terhadap perempuan berbasis penafsiran, hermeneutika pembebasan mengupayakan 3 hal. Pertama, membongkar mitos tentang ajaran-ajaran yang seolah-olah telah terberi (taken for granted). Ini diperlukan guna menyadarkan umat beragama bahwa kemunculan ajaran-ajaran agama tidak berada dalam ruang hampa, melainkan penuh dengan kepentingan, baik kepentingan status quo maupun pemberontakan. Dengan begitu diharapkan tidak ada fanatisme sempit yang mencurigai dialog terhadap ajaran-ajaran agama dan persoalan perempuan sebagai pendangkalan ajaran agama. Kedua, Mengeksplorasi aspek feminisme keTuhanan. Hal ini tidak dimaksudkan untuk membenturkan sifat feminin Tuhan dengan sifat maskulin-Nya melainkan lebih sebagai pengungkapan bahwa sifat feminin tidak identik dengan kelemahan sebagaimana dianggap oleh pendukung budaya patriarkhi. Ketiga, menjadikan ajaran-ajaran agama tidak sebatas keimanan, melainkan meneruskannya pada tingkat aksi. Ukuran kesalehan agama, dengan demikian, tidak diukur dari (hanya) menjalankan ritual tapi juga pada kesalehan sosial seperti perjuangan melawan kebodohan, kemiskinan, penindasan, ketidakadilan, diskriminasi kaum perempuan dan sebagainya.
Ajaran agama apapun, memang harus senantiasa didialogkan dengan realitas sosialnya dan salah satunya adalah masalah diskriminasi perempuan. Hal ini karena beberapa ajaran agama, yang sejatinya memposisikan perempuan sebagai mitra laki-laki, justru didominasi kepentingan laki-laki. Penafsiran seperti di atas tentu merupakan sebuah ironi, sebab salah satu misi turunnya kitab suci adalah untuk pembebasan manusia termasuk kaum perempuan yang pada saat itu mengalami diskriminasi dan penindasan. Oleh karena itu dalam hermeneutika pembebasan ada 2 tahap yang harus dilakukan. Pertama, dekonstruksi produk-produk penafsiran yang bernuansa bias gender. Ini bisa dimulai dengan mencari jejak-jejak patriarkhi dalam tafsir yang merupakan sentral pemahaman relasi laki-laki dan perempuan dalam teks-teks suci agama. Kedua, setelah dekonstruksi, selanjutnya diperlukan rekonstruksi. Dekonstruksi tanpa rekonstruksi adalah kematian. Kesenjangan antara realitas dengan idealitas tentu saja harus dihilangkan melalui kerja-kerja intelektual praksis yang kritis terhadap teks-teks suci agama yang dijadikan pedoman. Proses penafsiran ulang inipun harus memperhatikan konteks sosio-historis yang melatar belakanginya terutama untuk menemukan kembali spirit dan pesan keagamaan perennial; yakni bahwa agama memberi perintah kepada manusia tentang pembebasan dan keadilan.
Penafsiran ulang secara kritis terhadap teks-teks suci agama harus diarahkan pada spirit dan pesan baik pembebasan maupun keadilan, termasuk kesejahteraan manusia. Penafsiran literal terhadap ayat-ayat suci sering dijadikan referensi oleh orang-orang yang melakukan kekerasan simbolik terhadap kaum perempuan Kita tentu tidak boleh dengan serta merta mengklaim penafsiran teks-teks suci hanya secara literal (sebagai mana bunyi ayat tersebut) karena setiap teks dalam ilmu kebahasaan (linguistics) memiliki 2 hal yang harus dicermati yakni; bunyi teks dan spirit teks. Melalui hermeneutika pembebasan, ayat-ayat harus ditafsirkan tidak hanya secara literal, melainkan secara menyeluruh dengan melihat konteks dan sejarah turunnya atau ditulisnya pustaka suci itu, sehingga kita mendapatkan spirit teks ketika diaplikasikan dalam kontekstualisasinya di masa sekarang.
Melalui penafsiran ulang secara kritis menggunakan metode hermeneutika, kita tentu harus melihat konteks dan sejarah turunnya pustaka suci serta spirit dan pesan yang terkandung dari makna ayat-ayat tersebut bila dikontekstualisasikan pada kondisi sekarang. Bila kita lihat sejarah turunnya dan ditulisnya pustaka tersebut, dengan membandingkan realitas sosialnya, maka ajaran yang terkandung dalam pustaka suci tersebut merupakan upaya perbaikan secara radikal (radical improvement) dalam mengangkat derajat dan martabat kaum perempuan
Dengan menggunakan metode hermeneutika kita mesti melihat teks, konteks dan kontekstualisasi ayat tersebut, sehingga ilustrasi bahwa kekerasan terhadap perempuan, terutama yang berbasis penafsiran, bisa dicari solusi alternatifnya melalui penafsiran ulang secara kritis dengan bersandar pada metode hermeneutika yang berorientasi pembebasan. Dalam wacana pembebasan ini, setiap penafsiran ulang harus dilakukan secara kritis dengan melihat tiga hal pokok yakni teks, konteks dan kontekstualisasinya. Meskipun demikian yang lebih penting lagi adalah memahami proses penafsiran dengan menggali spirit dan pesan pembebasan, keadilan serta kesejahteraan yang terkandung dalam teks-teks suci agama.
E. Mendobrak Tradisi Kekerasan Melalui Reinterpretasi
Untuk mendobrak tradisi kekerasan terhadap perempuan khususnya yang berbasis penafsiran, tidak ada jalan lain yang harus dilakukan kecuali melakukan penafsiran ulang (reinterpretasi) secara kritis terhadap teks-teks kitab suci agama dan teks pendukungnya serta hal-hal yang dihasilkan dari teks tersebut seperti produk-produk hukum, norma, moral dan sebagainya.
Menurut Haryatmoko, setidaknya ada 3 hal yakni: (1) informasi tentang unsur temporalitas wacana atau sifat kesejarahan dari pemahaman teks suci agama, (2) kritik ideologi dan (3) dekonstruksi atau pembongkaran seluruh proses penafsiran yang kentara sekali nuansa bias gendernya.
Melalui penafsiran ulang diharapkan diperoleh informasi tentang unsur temporalitas wacana atau sifat kesejarahan dari pemahaman teks suci agama. Ini merupakan bentuk sikap kritis terhadap aspek historis teks-teks suci tersebut. Semua pemahaman bersifat kebahasaan, dalam arti bahwa orang hanya bisa memahami ketika dia mampu merumuskannya dalam bahasa. Oleh karena itu pemahaman bersifat prasangka, di mana ketika orang memahami suatu situasi, ia tidak pernah dalam keadaan kosong tetapi sudah membawa kategori-kategori pra-pemahaman. Tidak ada pemahaman yang murni terhadap sejarah tanpa kaitan dengan masa kini. Artinya, masa lalu juga beroperasi di masa kini. Melalui bahasa dan bertitik tolak dari prasangka tertentu itu, pikiran dapat diaktualisasikan dalam kondisi sejarah atau konteks tertentu. Karenanya, terhadap penafsiran yang kentara sekali nuansa bias gendernya dan berpotensi melahirkan kekerasan terhadap perempuan, kita harus mempertanyakan kembali dimensi kesejarahannya. Melalui hermeneutika kita bisa menjelaskan momen-momen sejarah manakah dari penafsiran teks-teks kitab suci yang menghasilkan bias gender. Kategori lingkup privat dan publik dengan konsekuensi ketidakadilan terhadap perempuan bisa ditafsirkan ulang agar tugas rumah domestik-rumah tangga tidak melulu diidentikkan lagi dengan kaum perempuan.
Selanjutnya, melalui penafsiran ulang kita bisa melakukan kritik ideologi, yakni kritik atas prasangka-prasangka dan ilusi-ilusi yang menjadi bagian dari penafsiran teks-teks suci agama. Prasangka yang dimaksud yakni yang sarat nilai kelaki-lakiannya dan mempertahankan status quo dominasi laki-laki. Sementara, ilusi yang dimaksud yakni ilusi bahwa superioritas nyata laki-laki cukup memberikan pembenaran (legitimasi) atas segala bentuk penafsiran, membuat hukum dan memberlakukannya. Prasangka dan ilusi itulah yang harus diuji melalui kritik ideologi. Selain itu melalui penafsiran ulang kita juga bisa melakukan dekonstruksi untuk membongkar motivasi terselubung serta kepentingan politis, teologis, filosofis kaum laki-laki dalam proses penafsiran teks-teks suci agama.
Untuk melakukan ketiga hal di atas, harus dipertimbangkan juga bahwa terdapat beberapa hal yang membuat teks memiliki makna yang berbeda ketika ditafsirkan karena setiap penafsir dilingkupi latar belakang kepentingan sosial-politik yang berbeda-beda. Dalam hal ini kita dapat mengungkapkan kepentingan tersembunyi atau sengaja disembunyikan itu dengan merujuk pada pendapat tiga “Guru Hermeneutika Kecurigaan” yang sangat popular dalam hermeneutika.
Pertama, situasi psikologis sebagaimana dikemukakan oleh Sigmund Freud. Menurut Freud, kekuatan yang berpengaruh secara dominan dalam menafsirkan teks adalah kondisi ketidaksadaran serta ego si penafsir. Dalam hal ini psikologi Freud memang berpusat pada egoisme laki-laki, meski Freud tetap memiliki jasa besar dalam penafsiran teks karena kemampuannya menyajikan sisi gender yang sebelumnya jarang dipersoalkan dalam perdebatan bahasa. Freud juga memberi umpan pencerahan dalam pembongkaran bahasa yang serba diwarnai kekuatan phallogocentrum, yakni bahwa pusat logos kebahasaan sekaligus kebenaran terletak pada kekuasaan laki-laki yang disimbolkan melalui phallus (penis) yang dimilikinya.
Kedua, situasi ekonomi-politis sebagaimana dikemukakan Karl Marx. Menurut Marx, banyak penafsir yang dalam menafsirkan teks sangat dipengaruhi oleh kekuatan dominan yang menempatkannya pada kelas sosial tertentu dalam masyarakat. Materialisme Marx menunjukkan bahwa kesadaran sosial seorang penafsir teks sangat ditentukan oleh keadaan ekonomi dan politiknya, dan bukan sebaliknya. Di sini terlihat bahwa Marx melakukan pembalikan secara radikal, yakni menggeser idealisme (kesadaran seakan menentukan kondisi sosiologis) menjadi materialisme (persoalan ekonomi-politiklah yang justru paling dominan dalam kesadaran berbahasa). Jadi, tidak aneh jika si penafsir yang mendukung struktur kekuasaan yang sedang berlaku, hasil tafsirannya pasti berbeda dengan penafsir lain yang menentang struktur kekuasaan. Sejalan dengan hal itu, penafsir yang mendukung produk hukum yang membela kaum perempuan, tentu bertentangan dengan produk penafsiran yang digulirkan oleh penafsir yang ingin mempertahankan kekuasaan dan dominasi laki-laki.
Ketiga, dorongan atau kehendak berkuasa (will to power) sebagaimana dikemukakan Friedrich Nietzsche. Menurut Nietzsche, ketika seseorang menafsirkan teks, terdapat kehendak berkuasa atas klaim kebenaran yang harus diterima pihak lain. Sampai pada titik ini Nietzsche memberi kesimpulan sementara bahwa klaim serta kehendak terhadap kebenaran, tidak lebih merupakan wujud dorongan/kehendak berkuasa. Gagasan Nietzsche kemudian dielaborasi Michel Foucault yang melihat hubungan antara keinginan mengetahui, yang secara otomatis juga adalah kehendak untuk menguasai. Semakin seseorang mampu mengklaim mengetahui rahasia yang tersembunyi di balik teks, sesungguhnya serentak dengan itu juga memiliki kemampuan melakukan penguasaan terhadap teks itu sendiri. Puncaknya, Foucault menyatakan bahwa relasi antara kekuasaan dan pengetahuan tidaklah dapat dipisahkan sama sekali. Kekuasaan hanya niscaya dapat melangsungkan kehidupannya karena bersandar pada pengetahuan tertentu. Kekuasaan yang hegemonikpun akan dengan sendirinya dapat digunakan untuk melegitimasi kebenaran dengan mengerahkan segenap pengetahuan yang dimilikinya.







BAB III
METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan secara kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam ( Moleong, 2004: 3) mendifinisikan metodologi kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriftif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik. Jadi dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variable atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan.
Sedangkan desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian deskriptif yaitu suatu studi untuk menemukan fakta dengan interpretasi yang tepat. ( Nasir, 2003:89 ). Adapun tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Data yang dikumpulan dalam penelitian deskriptif ini berupa kata-kata atau gambar dan bukan angka-angka.
Adapun rancangan atau langkah-langkah penelitian ini adalah peneliti melakukan penelusuran pada sloka-sloka kitab sarasamuscaya yang diinterpretasikan memiliki kaitan dengan topic atau ide-ide yang berkaitan dengan masalah-masalah yang dianggap memarjinalkan gender (perempuan). Setelah itu menterjemahkan setiap bait kalimat pada sloka yang telah dipilih ke dalam bahasa Indonesia. Terjemahan ini dilakukan pertama secara leksikal artinya kata-kata yang membangun kalimat akan diartikan sesuai dengan makna leksikal yang dicari dalam kamus. Kedua kata yang membangun setiap kalimat dalam sloka-sloka yang telah dipilih dianalis dan kemudian dicari makna yang terkandung dalam kata pada setiap kalimat sloka itu.
B. Pendekatan Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pendekatan hermeneutic, yaitu suatu landasan berfikir untuk memahami makna teks pustaka suci.
Menurut Richard Palmer dalam (Suratmo: 2006) hermeneutic adalah adalah proses penelahaan isi dan maksud yang mengejawantah dari sebuah teks sampai pada maknanya yang terdalam dan laten. Jadi tugas hemneneutik adalah adalah memahami teks sebaik-baiknya, oleh karena itu setiap bagian dari suatu peristiwa hanya dapat dipahami dalam konteks keseluruhan bagian-bagiannya, penafsiran harus mempunyai pandangan yang menyeluruh sebelum ia melakukan interpretasi lebih cermat .
Penelitian kualitatif mencakup berbagai pendekatan yang berbeda satu sama lain tetapi memiliki karakteristik dan tujuan yang sama. Berbagai pendekatan tersebut dapat dikenal melalui berbagai istilah seperti: penelitian kualitatif, penelitian lapangan, penelitian naturalistik, penelitian interpretif, penelitian etnografik, penelitian post positivistic, penelitian fenomenologik, hermeneutic, humanistik dan studi kasus.
Metode kualitatif menggunakan beberapa bentuk pengumpulan data seperti transkrip wawancara terbuka, deskripsi observasi, serta analisis dokumen dan artefak lainnya. Data tersebut dianalisis dengan tetap mempertahankan keaslian teks yang memaknainya. Hal ini dilakukan karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami fenomena dari sudut pandang partisipan, konteks sosial dan institusional. Sehingga pendekatan kualitatif umumnya bersifat induktif.
C. Lokasi Penelitian
Penelitian sastra lebih banyak berupa penelitian perpustakaan, yaitu penelitian yang dilakukan di dalam ruang kerja peneliti atau di perpustakaan. Penelitian ini dilaksanakan di Mataram dan merupakan penelitian dalam bentuk kajian teks, sedangkan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan di Perpustakaan Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram dengan mengambil salah satu referensi kitab Sarasamuscaya yang sudah diterjemahkan.
D. Jenis Dan Sumber Data
Menurut Lofland dalam ( Moleong,2004 : 112 ) jenis dan sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data utama dalam penelitian ini diperoleh dari desain penelitian dengan data primer dan desain penelitian dengan data sekunder.


E. Instrumen Penelitian
Pencari –tahu alamiah dalam pengumpulan data lebih banyak tergantung pada peneliti itu sendiri sebagai instrument pengumpulan data ( Moleong, 2004 :19 ). Jadi Instrument pengumpulan data dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri karena seorang peneliti mempunyai senjata utama yaitu “dapat memutuskan” yang secara luwes dapat digunakannya, serta senantiasa menilai keadaan dan dapat mengambil keputusan. Untuk mengumpulkan data, paradigma ilmiah memanfaatkan note books dan kamus bahasa jawa kuno /kawi Indonesia untuk membantu peneliti dalam mencari kata-kata dalam kitab sarasamuscaya yang kemudian mencari tahu makna dari kata yang membangun suatu kalimat.
F. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian dapat dipercaya hasilnya secara ilmiah, apabila data diperoleh dengan cara-cara ilmiah pula. Untuk kepentingan itu, cara mengali data dalam sebuah penelitian terutama dalam penelitian kualitatif mempunyai empat teknik yaitu : 1) observasi, 2) wawancara, 3) dokumentasi dan 4) triangulasi . Karena penelitian ini sifatnya kajian teks, maka teknik pengumpulan data yang digunakan melalui studi dokumentasi yang berupa suatu karya sastra yang fundamental yaitu kitab Sarasamuscaya.
Dasar tolak penelitian sastra karena manusia mempunyai kodrat rasa ingin tahu, karena itu manusia senantiasa mencari dan ingin menemukan sesuatu, serta membangkitkan dan untuk menyempurnakan dirinya. Dasar ingin tahu itulah modal yang paling besar untuk merangsang manusia untuk menghimpun keterangan, fakta dan pengetahuan dalam kehidupan.
G. Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif yang bersifat deskriptif interpretative. Prosedur yang dipergunakan dalam analisis mencakup tahapan-tahapan klasifikasi, interpretasi dan penarikan kesimpulan. Adapun tahapan-tahapan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Tahap persiapan yang mencakup penyelesaian data-data empiris dan data-data tersebut diklasifikasikan berdasarkan atas reliabilitasnya.
2. Tahap uji data yang mencakup data yang reliabilitasnya tinggi atau valid diinterpretasikan.
3. Penarikan kesimpulan yang mencakup jawaban atas permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini.
Metode kualitatif dalam penelitian ini menggunakan bentuk pengumpulan data secara analisis dokumen. Data tersebut dianalisis dengan tetap mempertahankan keaslian teks yang memaknainya. Hal ini dilakukan karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami fenomena dari sudut pandang partisipan, konteks sosial dan institusional.
H. Teknik Penyajian Data
Penyajian hasil analisis data dilakukan secara kualitatif yaitu melalui penyampaian dalam bentuk verbal dengan mengunakan bahasa ilmiah.dengan membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Data yang dikumpulan dalam penelitian deskriptif ini berupa kata-kata atau gambar dan bukan angka-angka.




















BAB IV
PEMBAHASAN

A. Selayang Pandang Kitab Sarasamuscaya
Wararuci adalah seorang penulis kitab Sarasamuscaya yang ditulis kira-kira pada abad ke-9 - 10 Masehi. Pada garis besarnya isi Sarasamuscaya dibagi menjadi beberapa bagian yaitu memuat tentang pujian Wararuci terhadap kebesaran Bhagawan Wyasa dan mengisahkan Bhagawan Wesampayana kepada Raja Janamejaya pada saat diadakannya upacara Mahayadnya. Kitab Sarasamuscaya terdiri atas 511 sloka. Misi utama adalah pencerahan, yaitu pendidikan moral dan spiritual untuk masyarakat luas.
Kitab Sarasamuscara merupakan salah satu kitab suci kelompok Nibandha yang membahas tentang ajaran Susila Dharma untuk mencapai empat tujuan hidup manusia yang disebut dengan Catur Purusa Arta yang terdiri atas Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Kitab ini juga merupakan saripati dari Asta Dasa Parwa yaitu delapan belas Parwa yang membangun kitab Mahabrata karya Bhagawab Byasa. Mahabrata adalah salah satu dari kitab Itihasa dan merupakan sumber dari kitab Purana. Kitab itihasa dan purana adalah kitab pengantar menuju pendakian pada kesempurnaan Weda. Hal ini dijelaskan dalam kitab Wayu Purana I.201 sbb:
“ Itihasa Purana Bhayam
Vedam Samupabrmhayet
Bibhetyalpasrutad Vedo
Mamayam Praharisyati “


Artinya :
Hendaknya Weda dijelaskan melalui Itihasa dan Purana. Weda merasa takut jika orang-orang sudah membacanya.orang-orang yang menjelaskan mantra Weda jika tidak dibantu oleh itihasa dan Purana, tidak diterima oleh Weda. Weda takut orang demikian. Katanya : Mamayam Praharisyati yaitu orang bodoh itu akan memukulnya.

Memperhatikan penjelasan Wayu Purana tersebut, pemahaman isi itihasa dan Purana itu amat penting bagi mereka yang ingin mendaki lebih tinggi mencapai kesempurnaan Weda.
B. Marjinalisasi Dan Dekontruksi Makna
Dari 511 sloka yang terdapat dalam kitab Sarasamuscaya ini, peneliti hanya mendeskripsikan makna yang terkandung dalam kitab Sarasamuscaya khususnya sloka-sloka yang mengarah pada terjadinya marginalisai gender ( kaum perempuan). Adapun sloka – sloka yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Sloka 83
Nihan mara kengetanta, hana ya awayawaning stri, tan yogya wuwusen pradesanya, rinahasya wih, mwang hana ta kani ateles hanguruwak, ika tang rinahasyanyang stri, lawanikang kani, ndya pahinika, yan ingetingeten, ndan kabancana juga wwang denika, sumanggah yaya dudu, makahetu wikalpaning manah, hinganyan manah ikang pradhana ngaranya.

a. Arti kata secara leksikal :
Nihan mara kengetanta artinya begini untuk diingat, hana ya awayawaning stri artinya bagian tubuh wanita, tan yogya wuwusen pradesanya artinya tidak pantas didengar tempatnya, mwang hana ta kani ateles hanguruwak berarti juga ada luka basah berlobang, ika tang rinahasyanyang stri artinya itu adalah rahasia para wanita, lawanikang kani artinya juga lukanya, ndya pahinika artinya mana kira bedanya, yan ingetingeten berarti kalau di renungkan, ndan kabancana juga wwang denika artinya maka berbahaya orang itu, sumanggah yaya dudu artinya sehingga sehingga salah pikiran, makahetu wikalpaning manah artinya karena binggungnya pikiran, hinganyan manah ikang pradhana ngaranya artinya pikiran yang menjadi memimpin utama.
b. Analisis
Ide utama yang dibahas pada sloka ini adalah pengendalian pikiran manusia. Kata wikalpa yang berarti ragu-ragu, sangsi,, binggung, menentang dan manah yang berarti pikiran. Pikiran itu ibarat seekor ular yang tidak pernah mati jika tidak dibunuh. Ia senantiasa berubah-ubah sesuai dengan keinginannya tanpa memandang usia dari manusia itu. Jika seseorang dapat mengendalikan pikiran dan diusahakan pengekangannya, maka sudah dapat dipastikan ia akan memperoleh kesempurnaan dalam mengarungi kehidupan di dunia maya ini. Sedangkan kata awayawaning stri artinya bagian tubuh wanita dan kani ateles hanguruwak berarti luka basah berlobang bermakna bahwa secara manusiawi dan kodrati seorang wanita itu mempunyai daya pikat yang sangat istimewa terhadap kaum laki-laki. Semua itu tergantung dari sudut pandang seseorang yang memandangnya. Ibarat air mata yang keluar dari mata yang sama, disatu sisi ia mengeluarkan air mata dengan rasa sedih karena seseorang yang ia sayangi dan cintai telah tiada, disisi lain ia juga mengeluarkan air mata yang sama dikala ia senang karena ia berhasil dalam cita-cita atau menonton adengan-adengan lucu di televisi. Air mata yang sama dan keluar dari mata yang sama, ekpresinya yang berbeda. Itu semua disebabkan oleh keadaan pikiran. Begitu juga halnya dengan seorang wanita, seorang yang arif bijaksana akan memandang seorang wanita akan berbeda pendapat dengan seseorang yang gemar menghumbar hawa nafsu. Ini menandakan bahwa pikiranlah yang selalu berubah
c. Makna sloka
Kata awayawaning stri dan kani ateles hanguruwak dalam sloka ini, tidak mempunyai makna untuk memarjinalkan kaum gender (perempuan ) tetapi lebih menekankan pada subyek dari obyek yang dilihatnya, karena tersirat dalam sloka ini juga kata wikalpaning manah yaitu kesangsian atau kebingungan pikiran manusia. Peranan pikiranlah yang menjadi pemimpin dalam segala gerak kehidupan di dunia ini, apabila seseorang tidak dapat mengekang dan mengendalikan pikiran itu maka terjerumuslah orang itu dalam lingkaran kesengsaraan dan sebaliknya apabila ia dapat mengendalikan pikiran ini, ia akan dapat mengarungi kehidupan ini dengan penuh rasa kebahagian, pikiranlah yang menjadi mobilitas kehidupan manusia yang ditransformasikan dalam tindakan demi mencapai kebahagiaan hidup.
2. Sloka 84
Lawan waneh, hana ya mukhasawa ngaranya, madya, matahapan tutuk asilih, mangkana rakwa kramanikang sang kami mwang kamini, yan delon, tan hana bhedanya lawan ilu, ya mukhasawa, ndan yan ilu pangaraning wwang, elik ajejeb ya, yapwan mukhasawa pangaranya, harsa ya, ta karin umancana awaknya, makasadhana ngaran karikang wwang, an mangkana, ikang ngaran gawenikang wwang ika, hinganyan angles ikang manah kalinganika.

a. Arti secara leksikal
Lawan waneh-dan juga, hana ya mukhasawa ngaranya-ada yang keluar dari mulut namanya , madya- tengah, matahapan tutuk asilih-saling ganti mulut, mangkana rakwa kramanikang sang kami mwang kamini-demikian khabarnya untuk kekasih pria dan kekasih wanita, yan delo-jika dibuka atau dilihat, tan hana bhedanya lawan ilu- tidak ada bedanya dengan dengan air liur, ya mukhasawa-yang keluar dari mulut, ndan yan ilu pangaraning wwang-jika air liur keluar dari orang , elik ajejeb ya-tidak suka dia, yapwan mukhasawa pangaranya-karena keluar dari mulut, harsa ya-senang ia, ta karin umancana awaknya-memang dicaci dia, makasadhana ngaran karikang wwang-oleh karena sebutan orang berbeda, an mangkana-demikianlah, ikang ngaran gawenikang wwang ika-membuat orang senang, hinganyan angles ikang manah kalinganika-oleh karena cepatlah pikiran berubah.
b. Analisis
Ide utama kata dalam sloka ini adalah kata mukhasawa yang berarti air mulut, tutuk asilih yang berarti saling ganti, sang kami mwang kamini artinya kekasih pria dan wanita, ilu berarti air liur dan makasadhana ngaran karikang wwang yang berarti sebutan orang berbeda. Kata mukhasawa dan ilu mempunyai perbedaan arti apabila seseorang memandang dari sudut yang berbeda. Kata kami dan kamini yaitu antara laki-laki dan perempuan yang memandang hal tersebut dalam kondisi sedang mabuk asmara, maka ia akan merasakan suatu kenikmatan tertentu tanpa merasa jijik, sedangkan dalam kondisi yang berbeda ia akan merasa tidak suka dan jijik terhadapnya. Oleh kerana itu sesuailah kata yang tersirat dalam sloka ini yang mengatakan bahwa makasadhana ngaran karikang wwang yang berarti sebutan orang berbeda. Sehingga akan menjadi hinganyan angles ikang manah kalinganika yang berarti pikiran itu selalu berubah-ubah sesuai dengan keinginan manusia yang membawanya. Ini membuktikan bahwa pikiran itu harus senantiasa dikendalikan, karena ibarat seseorang yang melihat benda yang sama dalam konteks yang berbeda maka kebenaran yang akan dihasilkan akan berbeda pula.
c. Makna Sloka
Makna sloka ini adalah notabene pengendalian pikiran yang terekpresikan dalam perbuatan atau tindakan manusia tanpa memandang perbedaan gender, siapapun yang dapat mengendalikan dan mengekang indriyanya dengan sempurna maka ia akan mencapai kebahagian hidup. Perbedaan hasil interpretasi terhadap sebuah benda akan selalu menghasilkan kebenaran yang berbeda dari sudut kebenaran yang sifatnya individu
3. Sloka 85
Tonen waneh, tunggale tuwi ikang wastu, dudu juga agrahaning sawwang-sawwang irika, wyaktinya, nang susuning ibu, dudu aptinikang anak, an monenging ibu, lawan aptinikang bapa, hingayan manah mangawe bheda.
a. Arti secara leksikal
Tonen waneh-lihat yang lain, tunggale tuwi ikang wastu-walaupun satu satu barangnya, dudu juga agrahaning sawwang-sawwang irika-berbeda juga orang menafsirkan, wyaktinya-sesungguhnya, nang susuning ibu-seperti buah dada ibu, dudu aptinikang anak-berbeda tanggapan anak, an monenging ibu-yang menyayangi ibu, lawan aptinikang bapa-dibanding tanggapan ayah, hingayan manah mangawe bheda- pikiran yang membedakan
b. Analisis
Pada sloka 85 ini tidaklah mempunyai perbedaan yang signifikan dengan sloka 83 dan sloka 84. Sloka ini hanya lebih mengedepankan contoh-contoh pendukung lainnya tentang memandang suatu kebenaran individu sebagai indikasi dari perubahan pikiran manusia. Kata kunci dalam sloka ini adalah, dudu juga agrahaning sawwang -sawwang irika yang artinya perbedaan orang-orang yang yang menafsirkan seperti kata susuning ibu yaitu buah dada seorang ibu akan berbeda arti apabila aptinikang anak an monenging ibu yaitu anak yang mencintai ibunya dengan aptinikang bapa yaitu seorang bapak yang mencintai istrinya. Seorang anak akan memandang buah dada ibunya sebagai sumber kenikmatan dalam melangsungkan kehidupannya, sedangkan seorang bapak akan memandang buah dada istrinya sebagai sumber kenikmatan tertentu. Disini tersirat kata-kata nikmat dalam konotasi yang berbeda. Sehinga pada bagian akhir dalam sloka ini tersirat kata hingayan manah mangawe bheda yang artinya pikiranlah yang membuat perbedaan itu.
c. Makna sloka
Sloka ini tidak memuat tentang marjinalisai gender (perempuan) tetapi lebih menekankan pada asfek pikiran manusia yang setiap saat berubah sesuai denga kondisi obyek yang dinikmatinya. Karena pikiran seseorang selalu diikuti oleh suatu perbuatan atau tindakan, seperti perasaan seorang ayah yang sedang mencium istrinya akan berbeda perasaannya jika ia mencium anaknya meskipun kedua ciuman itu didasari oleh kasih sayang yang sama. Jadi pikiranlah yang merupakan sebab perbedaan itu.
4. Sloka 177
Nihan pajara mami, phala sang hyang wedan inaji, kapujan sang hyang cwagni, rapwan wruh ring mantra,yajnangga widhiwidhanadi, kunang doning dhanan hinanaken, bhuktin danakena,yapwan doning anakbi, dadyaning alingganadi krida maputraputri santana, kuneng phala sang hyang ajin kinawruhan, haywaning cila mwang acara, sila ngaraning swabhawa, acara ngaraning prawstti kawarah ring aji.

a. Arti secara leksikal
Nihan pajara mami-ini yang akan aku ajarkan, phala sang hyang wedan inaji- kitab Weda untuk dipelajari, kapujan sang hyang cwagni-memuja sang hyang agni, rapwan wruh ring mantra-agar mengetahui mantra ,yajnangga widhiwidhanadi-upacara yadnya, kunang doning dhanan hinanaken-guna harta untuk dinikmati, bhuktin danakena-juga di punyakan, yapwan doning anakbi-gunanya istri, dadyaning alingganadi krida maputraputri Santana- untuk jadi permainan cinta dan melahirkan putra-putri, kuneng phala sang hyang ajin kinawruhan-gunanya ilmu untuk diketahui, haywaning cila mwang acara-diamalkan pada prilaku dan acara, sila ngaraning swabhawa-prilaku adalah pembawaan diri, acara ngaraning prawstti kawarah ring aji-acara adalah bersumber pada sastra.
b. Analisis
Nihan pajara mami adalah sesuatu yang harus diketahui dan diajarkan pada umat manusia, phala sang hyang wedan inaji yaitu kitab suci weda, , kapujan sang hyang cwagni yaitu untuk memuja manifestasiTuhan, rapwan wruh ring mantra agar mengetahui puja stawa weda, ,yajnangga widhiwidhanadi juga dalam upacara yadnya dalam kshidupan ini, kunang doning dhanan hinanaken harta kekayaan hanya untuk dinikmati sesuai dengan kebutuhan, bhuktin danakena dan juga disedekahkan pada yang memerlukan, yapwan doning anakbi sedangkam istri, dadyaning alingganadi krida maputraputri Santana adalah untuk menyeimbangkan keturunan, kuneng phala sang hyang ajin kinawruhan demikian pula ilmu pengetahuan adalah untuk diketahui, haywaning cila mwang acara yaitu diamalkan pada prilaku dan acara agama, sila ngaraning swabhawa yaitu prilaku sebagi cermin pembawaan diri, acara ngaraning prawstti kawarah ring aji dan upacara agama harus bersumber pada sastra agama.

c. Makna Sloka
Kata anakbi dan, dadyaning alingganadi krida maputraputri Santana adalah ide yang membangun makna dari sloka ini, yaitu bagaimana seorang istri dapat memanggungkan perannya dalam mendidik dan menyeimbangan kehidupan di dunia ini dari kejaran hawa nafsu lawan jenisnya. Karena seorang ibu sangatlah mulia dan tanpa kehadiran seorang ibu kelangsungan kehidupan spesies yang ada di jagat raya ini tidak akan dapat berjalan sesuai dengan roda karmanya.
5. Sloka 424
Ri sakwehning kinaragan, tan hana amadana stri, ring agong denya agawe kapapan, apayapan sangkaning hala ikang stri ngaranya, matangnyan singgahana ikang strigaranya, kangenanggenanya tuwi, tinggalakena juga ya.

a. Arti secara leksikal
Ri sakwehning kinaragan-diantara banyak kerinduan, tan hana amadana stri-tidak ada kekuatan cinta wanita, ring agong denya agawe kapapan- untuk membuat kesengsaraan, apayapan sangkaning hala ikang stri ngaranya-ibarat api yang dapat membakarnya itulah namanya, matangnyan singgahana ikang strigaranya-sebab itu hindari yang namanya wanita, kangenanggenanya tuwi-walaupun diangan-angan, tinggalakena juga ya- tinggalkan dia.


b. Analisis
Kata amadana stri yang berarti kekuatan cinta wanita merupakan ide pokok yang membangun arti dari sloka ini. Karena secara kodrati manusia secara umum sangatlah lemah. Kekuatan cinta wanita adalah simbolisasi dari kehidupan dunia ini. Sedangkan kalimat yang menyatakan ring agong denya agawe kapapan mempunyai makna bahwa apabila kesucian cinta yang dipancarkannya telah memudar kehidupan di dunia ini akan menjadi kacau.,dan kata tinggalakena juga ya bahwa jika kekuatan atau kesucian cinta itu ditinggalkannya maka kekuatan dan kesucian dharmapun akan ikut terkoyak.
c. Makna
Dalam tahap pendakian spiritual seseorang harus senantiasa mengedepankan dharma sebagai pedoman dalam segala tindakan dan perbuatannya. Nafsu birahi merupakan tali mengikat yang sangat kencang yang mengekang manusia. Jika dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, tidak mengedepankan dharma atas dasar wiweka maka kehidupan manusia itu akan selalu terbelenggu oleh suatu yang namanya keinginan, karena selama nafsu birahi masih melekat dala pikiran manusia, selama itu pula ada kebencian akan mewarnai kehidupannya.
6. Sloka 425
Apan ika gati rasika molah ring grama, stri hetunika, mangkana ikang krayawikrayagati masangbyawahara, dening stri jugeka, sangksepanikang stri ngaranya, sangkaning prihati juga ya, matangnyan haywa jenek irika.


a. Arti secara leksikal
Apan ika gati rasika molah ring grama-jika ingin tingal di desa, stri hetunika-wanita menyebabkan, mangkana ikang krayawikrayagati masangbyawahara-demikian pula pertengkaran dalam perdagangan, dening stri jugeka-juga wanita penyebabnya, sangksepanikang stri ngaranya-singkatnya wanita namanya, sangkaning prihati juga ya-juga membuat keprihatinan , matangnyan haywa jenek irika-membuat kita tertambat disana.
b. Analisis
Kata krayawikrayagati masangbyawahara yaitu membuat pertengkaran dalam perdagangan, dening stri jugeka yaitu penyebabnya adalah seorang wanita, sangkaning prihati juga ya yaitu wanita juga menjadi pangkal keprihatinan. Kata –kata di atas yang menyudutkan kaum perempuan dapat dijadikan ajang intropeksi diri dalam hal bertindak.
c. Makna
Sebagai ajang intropeksi untuk mengaktualisasikan dan mengekpresikan perbuatan dalam segala hal..
7. Sloka 426
Nang pati, nang pracandanila, angina adrs tan pangkura, nag sang hyang mrtyu, nang wadawanala, apuy ahulu kuda, ri dasaring patala, nang landeping kuwakuwa, nang kalakuta wisa, nang wyalasarpa, nang prakupitagni, apuy dumilah katara, paturunan ika kabeh, yatika stri ngaranya, pilih salah sikinika kabeh, tattwanikang sinanggah stri.




a. Arti secara leksikal
Nang pati-kematian, nang pracandanila-terlalu menakutkan, angina adrs tan pangkura-angin kencang, nang sang hyang mrtyu-dewa kematian, nang wadawanala-api, apuy ahulu kuda-berkepala kuda, ri dasaring patala-didasar bumi, nang landeping kuwakuwa-tajamnya pisau, nang kalakuta wisa-racun, nang wyalasarpa-ular berbisa, nang prakupitagni-api berkobar, apuy dumilah katara-sangat ditakuti, paturunan ika kabeh-dan semuanya, yatika stri ngaranya-adalah wanita namanya, pilih salah sikinika kabeh-salah satu dari semuanya, tattwanikang sinanggah stri-sesunguhnya disebut wanita.
b. Analisis
Kata pati-kematian, angina adrs -angin kencang, nang wadawanala-api, apuy ahulu kuda-api berkepala kuda, landeping kuwakuwa-tajamnya pisau, kalakuta wisa-racun, wyalasarpa-ular berbisa, nang prakupitagni-api berkobar, yatika stri ngaranya-adalah wanita namanya. Kata–kata diatas mengandung imej bahwa wanitalah penyebab kehancuran kehidupan dunia ini. Jika ditelan mentah-mentah makna sloka diatas memang sangat menyakitkan bagi orang yang membacanya. Ibarat keadaan neraka didunia ini identik dengan wanita. Tetapi dibalik kata-kata itu terkandung makna yang sangat intimewa terhadap eksistensi wanita. Yaitu secara kodrati wanita dikarunia daya pikat yang sangat agung.
c. Makna
Peranan dan eksistensi wanita dipertaruhkan dalam membangun episode ini. Dimana musuh-musuh yang ditransilisasikan dalam bentuk kata yang sangat menakutkan akan memperbaiki citra wanita itu. Karena dengan tuduhan – tuduhan itu seseorang dapat mengintropeksi dirinya.
8. Sloka 427
Apan ikang stri, teka asih agalak matanya, ling nilang kamuka, wastuning apusapus tambalung,sangkalaning mudha jyga ya, kadyangganing jala, puket, paying, an hinanaken bandhana pangalap iwak. Mwang kadi kurunganing manuk, an hinahaken panjaraniukang manuk.

a. Arti secara leksikal
Apan ikang stri-sebab wanita itu, teka asih agalak matanya-datangnya cinta dari matanya, ling nilang kamuka-cinta asmara, wastuning apusapus tambalung-seperti tali pengikat, sangkalaning mudha jyga ya-seperti rantai yang membelenggu, kadyangganing jala-seperti jala, puket-jaring, paying-panjang, an hinanaken bandhana pangalap iwak-alat penangkap ikan, Mwang kadi kurunganing manuk-seperti kurungan burung, an hinahaken panjaranikang manuk-adalah untuk memenjarakan burung.
b. Analisis
Seseorang yang terkena panah asmara tidak akan tahan walaupun dewa sekalipun, apabila cinta atau nafsu birahi telah singgah dihatinya maka pikiran akan menjadi gelap sehingga sifar awidya akan mendominasi sifat seseorang. Demikianlah pengaruh kekuatan cinta seorang wanita. Ibarat tambalung-seperti tali pengikat, mudha jyga ya-seperti rantai yang membelenggu, kadyangganing jala-seperti jala, puket-jaring, bandhana pangalap iwak-alat penangkap ikan, Mwang kadi kurunganing manuk-seperti juga kurungan burung,
Jika datangnya cinta asmara dari mata seorang wanita, ibaratnya seperti tali pengikat, rantai pembelenggu, ibarat jala, jaring penangkap ikan, kurungan burung yang memenjarakan bagi kita
c. Makna dari sloka ini adalah menceritakan kekuatan cinta dari seorang wanita, kata tambalung mengandung makna tali pengikat indria manusia, jika seorang manusia mampu mengikat indrianya maka ia akan mengalami kebahagiaan hidup di dunia ini, sehingga pikiran kita tidak seperti jala, jaring maupun terkungkung ibarat burung dalam sangkarnya.
9. Sloka 428
Tatan hana tan yogya parana, dening stri ngaranya, tan yogya mara irika, apan mamangke gatingku,kunang ika, mamangkana gatinya, mamangkana katwanganya, tatan katekan wiweka mangkana, ikang stri ngaranya, mara juga ya, mwang tan wruh ta ya ring atuha ring nanwam, tatan huninga ya ring surupa lawan wirupa, jalu-jalu ta pwa iki, mangkana juga lingnyan tekaken raganya.

a. Arti secara leksikal
Tatan hana tan yogya parana-tidak ada yang tidak pantas didatangi, dening stri ngaranya-oleh seorang wanita, tan yogya mara irika-tidak pantas pergi kesana, apan mamangke gatingku-keadaanku begini, kunang ika-seperti itu dia, mamangkana gatinya-memang demikian keadannya, mamangkana katwanganya-patut dihormati, tatan katekan wiweka mangkana-ia juga tidak ada pertimbangan, ikang stri ngaranya-itulah namannya wanita, mara juga ya-berbahaya dia, mwang tan wruh ta ya ring atuha ring nanwam-sebab ia tidak mengetahui yang namanya orang tua, tatan huninga ya ring surupa lawan wirupa-ia juga tidak dapat membedakan wajah, jalu-jalu ta pwa iki- yang namanya laki-laki, mangkana juga lingnyan tekaken raganya-demikian jika nafsunya datang.
b. Analisis
Tatan hana tan yogya parana, yaitu pengembaraan dalam hal pendakian spiritual seseorang tidak dibatasi. mamangkana katwanganya pengembaraan itu patut dihormati. Sloka ini tidak membatasi gerak langkah seorang wanita tetapi apabila ia sudah terjerumus maka malapetaka akan selalu menyertainya. Contoh dibawah dapat dijadikan ilustrasi perjalanan seorang wanita yaitu seperti pengembara yang tak tahan untuk memetik mawar. Ketika setangkai mawar mulai mengembang, tentunya sangat cantik warna dan bentuk yang ditampilkannya. Ketika seorang pengembara berhenti untuk memetik dan tergores duri, salahkah mawar karena berduri itu.
c. Makna
Sloka ini mengandung makna bahwa seorang wanita yang secara kodrati dianugrahi daya pikat yang lebih dibandingkan kaum laki-laki, sehingga seorang wanita tidak seyogyanya pergi ke tempat-tempat yang dapat merusak pikirannya, dan tetap menjaga dan mengutamakan wiweka dalam hal bertindak ataupun berbuat.
10. Sloka 429
Sangksepaniking stri, durasara juga ya, tan kawenang sinengkeran, yadyapin sinengkeran, winarah ring maryada yakti, apaan tan sangka ri pamatihyan winarah, matangnyan anukula pakatonanya ri jalunya, kunang prasiddha karananya ri denyan tan kinarya juga, nora mujukmujuki ya, pilih dening takutnya kunang, pilih paribhawa kunang, karananyan mangkana.

a. Arti secara leksikal
Sangksepaniking stri-pendeknya wanita itu, durasara juga ya-membuat kesengsaraan, tan kawenang sinengkeran- tidak dapat dibatasi, yadyapin sinengkeran-walaupun dibatasi, winarah ring maryada yakti-dan diberi ajaran yang benar, apan tan sangka ri pamatihyan winarah-karena ia tidak patuh dinasehati, matangnyan anukula pakatonanya ri jalunya-kelihatannya ia tunduk pada suaminya, kunang prasiddha karananya ri denyan tan kinarya juga-agar ia tidak dikerjai, nora mujukmujuki ya- suami juga jangan membujuk dia, pilih dening takutnya kunang-karena saking takutnya, pilih paribhawa kunang-mungkin takut disakiti, karananyan mangkana- maka ia demikian.
b. Analisis
Kata yang membangun kalimat dalam sloka ini adalah durasara yaitu kesengsaraan. Kesengsaraan hidup terletak pada karakter manusia itu, dimana karakter atau sifat manusia selalu dipengaruhi oleh kekuatan raksasa yang ada dalam setiap manusia yang tentunya hasil komunikasi pikiran manusia itu sendiri. Kekuatan raksasa yang mendominasi manusia maka kesengsaraan hidup akan selalu menyertainya sehingga tujuan hidup manusia untuk mencapai kesempurnaan sulit terwujud.
c. Makna
Kekuatan raksasa yang mendominasi sifat manusia akan menghantarkan menusia itu pada kehancuran.
11. Sloka 430
Yadyapin ikang aji kawruh bhagawan sukra, mwang ikang aji kawruh bhagawan wrhaspati, dadya ika kalih memana kawasa niyatanika bhyasan, sarisari lolyan kayatnakena, kunang buddhining stri, wekasning durgrahya juga ya, tar kenenaku kakawasanya, yadyapin lolyan sarisarikayatnakena, hrtcalya mata sanghulun, umapa ta kuneng tekapan ika wwang rumaksa ya.

a. Arti secara leksikal
Yadyapin ikang aji kawruh bhagawan sukra- meskipun ilmu pengetahuan bhagawan sukra, mwang ikang aji kawruh bhagawan wrhaspati-dan juga ilmu pengetahuan dari bhagawan wrhaspati, dadya ika kalih memana kawasa niyatanika bhyasan-keduanya disatukan untuk dikuasai, sarisari lolyan kayatnakena-inti sari ajaran yang ingin dipelajari, kunang buddhining stri-pikiran wanita sulit dimengerti, wekasning durgrahya juga ya-dikemudian hari tidak dapat dikuasai, tar kenenaku kakawasanya-tidak akan mengena, yadyapin lolyan sarisari kayatnakena- meskipun setiap hari diusahakan, hrtcalya mata sanghulun-hasilnya akan mengecewakan hamba, umapa ta kuneng tekapan ika wwang rumaksa ya- bagaimana usaha orang untuk menjaganya
b. Analisis
Kata buddhi yang berarti pikiran dan durgrahya yang berarti sulit dimengerti atau sulit dikalahkan. Pikiran manusia senantiasa berubah-ubah sesuai dengan obyek atau keinginannya. Sifat manusia hanya dapat dikendalikan apabila pikiran yang selalu menyertainya juga dikendalikan. Saking hebatnya pikiran manusia itu sehingga dalam sloka ini tersirat aji kawruh bhagawan sukra yaitu pengetahuan dari Rsi Sukra dan aji kawruh bhagawan wrhaspati yaitu pengetahuan dari rsi Wraspati tidak akan dapat merubah pikiran manusia apabila manusia itru sendiri yang merubahnya sehingga kata terakhir tersirat tar kenenaku kakawasanya yaitu tidak ada pengaruh yang berarti.
c. Makna
Pikiran manusia selalu berubah-ubah sesuai dengan obyek atau keinginannya. Ilmu pengetahuan apapun tidak dapat merubah pikiran manusia , kecuali dalam diri manusia itu ada suatu keinginan untuk merubahnya ke arah yang lebih baik. Pikiran manusia sulit ditebak. Jati diri setiap manusia ditentukan oleh gerak pikiran yang teraplikasi dalam tindakan atau perbuatan.
12. Sloka 431
Tan pakabsuran mata sang hyang apuy ngaranira, yadyapin sahananing kayu, satumuwuh ring bhurmandala, yan yibakena ri sira, iweng tan trptyanira, mangkin wrddhi uga dilahnira denika, mangkana tang tasik, tan pakawaregan uminum wwai ring lwah, mangkana sang hyang mrtyu, tan pakabsuran umangan huripning sarwabhawa, mangkana tikang stri ngaranya, tan pakabsuran juga raganya ring sangga.



a. Arti secara leksikal
Tan pakabsuran mata sang hyang apuy ngaranira, yadyapin sahananing kayu, satumuwuh ring bhurmandala, yan yibakena ri sira, iweng tan trptyanira, mangkin wrddhi uga dilahnira denika, mangkana tang tasik, tan pakawaregan uminum wwai ring lwah, mangkana sang hyang mrtyu, tan pakabsuran umangan huripning sarwabhawa, mangkana tikang stri ngaranya, tan pakabsuran juga raganya ring sangga.
b. Analisis
Tan pakabsuran mata sang hyang apuy ngaranira- ibarat api yang membakar, yadyapin sahananing kayu-seperti pepohonan, satumuwuh ring bhurmandala-yang ada di bumi, yan yibakena ri sira-dijatuhkan padanya, iweng tan trptyanira-tidak ada kepuasan, mangkin wrddhi uga dilahnira denika-nyalanya semakin besar, mangkana tang tasik-demikian juga laut, tan pakawaregan uminum wwai ring lwah-tidak kenyak minum air sungai, mangkana sang hyang mrtyu-demikian dewa maut, tan pakabsuran umangan huripning sarwabhawa-tidak puas mencabut nyawa makhluk, mangkana tikang stri ngaranya- demikian juga seorang wanita, tan pakabsuran juga raganya ring sangga-tidak puas melampiaskan nafsu.


c. Makna
Kekuatan nafsu itu dpat diibaratkan seperti api yang menyala berkobar-kobar, siap membakar apapun yang dilaluinya yang tumbuh dimuka bumi ini dan dap[at diibaratkan seperti kekuatan samudra ia tidak akan pernah penuh walaupun air dari penjuru sungai berhulu padanya. Demikian pula nafsu birahi manusia tan pakabsuran juga raganya ring sangga ia tidak puas melampiaskan, ibarat api yang disiran dengan minyak, nyalanya akan semakin berkobar-kobar. Begitu kuatnya daya pikat seorang wanita yang digambarkan dalam sloka ini, tidak semata-mata untuk memarjinalkan kaum perempuan, tetapi lebih mengutamakan pengendalian pikiran setiap manusia untuk mencapai kesempurnaan
13. Sloka 432
Tan hentya mala dosanikang stri yan warnan, yadyapin hana wwang alidaha sewu, mayusa ta ya satus tahun, haywa ta ya salah gawe, dosaning stri kewala warnananya, iwong tan hentya akantang katekan pati.

a. Arti secara leksikal
Tan hentya mala dosanikang stri yan warnan- tidak berhentti dosa wanita , yadyapin hana wwang alidaha sewu-walaupun ada orang berlidah seribu, mayusa ta ya satus tahun-berumur setartus tahun, haywa ta ya salah gawe-tidak bekerja, dosaning stri kewala warnananya- dosa wanita selalu mewarnainya, iwong tan hentya akantang katekan pati-tidak berakhir sampai dijemput maut.


b. Analisis
Kata yang membagun kalimat dalam sloka diatas adalah dosanikang stri yaitu dosa seorang wanita. Dosa disini mengandung makna bukan saja yang dilakukan oleh seorang wanita. Tetapi dosa manusia. Kenapa dalam sloka ini wanita digambarkan mendominasi dosa-dosa yang sangan menakutkan untuk didengan, tidak lain adalah dibalik dosa –dosa yang dituduhkan itu tersembunyi kekuatan dharma didalamnya. Karena itu itu peringatan-peringatan dalam sloka diatas dapat dijadikan ajang kompetisi bagi pikiran. Jika pikiran dewa memenagkan pergulatan itu maka kesempurnaan hidup manusia akan tercapai, sebaliknya kekuatan raksasa yang menguasai maka kesempurnaan manusia tidak akan dapat dicapai.
c. Makna
Kekuatan dewa dan kekuatan raksasa yang bersemayam dalam diri setiap manusia dipertaruhkan untuk menuju pada kesempurnaan tujuan hidup manusia. Ini terkait erat dengan hukumkarma dimana perbuatan-perbuatan manusia itu akan ditentukan oleh amal perbuatannya atau karmanya dalam melangsungkan kehidupan sekarang maupun kehidupan yang akan datang.
14. Sloka 433
Lawan ikang stri ngaranya, apuy wangba padanya, kunang ikang jalu-jalu ngaranya, pada lawan minak ika, kalinganya ikang jalu-jalu sakta aparek irika, niyata syuh drawa durbala ya, yapwan apageh ikang wwang ring sistacara, tan kawesa denikang stri, niyata nirwikara ya apageh ring hayu.



a. Arti secara leksikal
Lawan ikang stri ngaranya- yang namanya wanita, apuy wangba padanya-sipatnya seperti bara api, kunang ikang jalu-jalu ngaranya-sedangkan laki-laki, pada lawan minak ika- ibarat minyak, kalinganya ikang jalu-jalu sakta aparek irika-jika mendekat kepadanya, niyata syuh drawa durbala ya-akan hancur, yapwan apageh ikang wwang ring sistacara-jika orang itu tetap pendirian, tan kawesa denikang stri-tidak terpengaruh olehnya, niyata nirwikara ya apageh ring hayu-ia akan selalu selamat.
b. Analisis
Kata yang membangun makna dalam kalimat ini adalah kata apuy yaitu bara api dan jalu-jalu yaitu laki-laki. Ini dapat diinterpretasikan bahwa laki-laki dapat diibaratkan seperti minak yaitu minyak. Jika minyak itu mendekat pada bara api yang sedang menyala maka apinyapun akan semakin menbesar sehingga mengakibatkan niyata syuh drawa durbala ya yaitu hancurnya orang itu. Oleh karena itu hendaknya kita harus apageh yaitu tegar dan nirwikara yaitu tetap pendirian dan tidak perubah-ubah sehingga kita tidak terpengaruh tan kawasa dan mancapai keselamatan atau hayu.
c. Makna
Ketegaran buddhi atau pikran manusia akan membawa keselamatan pada diri manusia itu, karena ia tidak terpengaruh oleh hawa nafsu yang terpancar dalam obyek yang dilihatnya. Karena secara kondrati laki-laki sangatlah gampang terpengaruh dengan hal-hal yang berbau nafsu birahi. Karena kekuatan daya pimikat wanitalah yang memancar pada dirinya.
15. Sloka 437
Apan ngke ring manusaloka, ika sang pandita, wicaksana tuwi, tan hana sira tan dine kasmala, kinawasaken denya awayawaning stri, kulit sasulpitning kidang, pramananya.

a. Arti secara leksikal
Apan ngke ring manusaloka- kehidupan di dunia manusia, ika sang pandita-seperti seorang pandita, wicaksana tuwi-bijaksana, tan hana sira tan dine kasmala- tidak ada yang luput dari noda, kinawasaken denya awayawaning stri-dikuasai oleh cinta seorang wanita, kulit sasulpitning kidang-kulit jejak kijang, pramananya- ukuran besar
b. Analisis
Yang menjadi ide utama dalam sloka I ini adalah kalimat ika sang pandita suatu contoh kehidupan seoramng pandita, ia melihat semua manusia akan tergoda oleh ikatan maya tetapi jika seseorang melihat contoh kehidupan seorang pandita atau orang yang bujaksana (wicaksana) maka ia tidak akan terpengaruh oleh kekuatan daya pikat seorang wanita sekalipun. .
c. Makna
Seseorang diharapkan mencontoh kehidupan seorang pandita atau orang yang arif bijaksana, dimana ia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini dengan mengutamakan pengekangan atau pengendalian diri dari segala pengaruh maya.
16. Sloka 438
Ri tengah nikang kulit sasulpitning kidang, hana ta kani, menga tan keneng waras, pinaka hnuning mutra, lawan rah, hibekan haringet, lawan sarwa mala, ya ta angde wulangun iriking rat, muda wuta tuli ya denya.

a. Arti secara leksikal
Ri tengah nikang kulit sasulpitning kidang-ditengah kulit ada jejak kaki kidang, hana ta kani-ada luka, menga tan keneng waras-tidak pernah sembuh, pinaka hnuning mutra-menjadi saluran utama, lawan rah- saluran darah, hibekan haringet-penuh keringat, lawan sarwa mala-berbagai macam kotoran, ya ta angde wulangun iriking rat-yang membuat dunia binggung, muda wuta tuli ya denya-gila dan tuli karenanya.
b. Analisis
Perempuan dan alat kelamin di tubuhnya itu, telah berubah menjadi sesosok musuh mahakuat bagi laki-laki.Mereka tidak mampu melawan monster yang hadir lewat prasangka mereka sendiri dan mulai membuat dalil-dalil yang sama sekali tidak manusiawi sebagai legitimasi atas pilihan mereka, menjauhkan perempuan dari kehidupan mereka. Menjadi laki-laki adalah menjadi penguasa. Bersentuhan dengan perempuan adalah ketakutan untuk ditaklukkan. Pernyataan diatas bukan tujuan dari sloka. Melainkan sebagai ajang untuk intropeksi diri. Seorang wanita secara kodrati dianugrahi suatu kecantikan dan daya pikat yang sangat istimewa, sesuai dengan gambaran dalam sloka diatas, dimana alat kelamin yang paling rahasia buat wanita digambarkan dan jadikan dasar untuk kegagalan bagi kaum pria untuk menjalani kehidupan spitualnya. Ini adalah sesuatu kekeliruan,makna sloka ini tidak bertujuan untuk memarginalkan kaum perempuan, tetapi lebih mengutamakan keistimewaan yang dimilki kaum perempuan. Kaum perempuan diharapkan tidak berbangga diri atas keistimewaan itu melainkan harus tetap menjaga dan mawas diri.
c. Makna
Pengendalian dan pengekangan hawa nafsu.
17. Sloka 440
Atyanta ring bibhatsa ikang kani ling mami, ametwaken sarwa malaning sarira, kawaranan dening kala marwuduk lwat-lwat, yatikamuhara kung trsna lulut irikang rat, ascarya mata kami, tan sipi karika bancananikang loka an mangkana.

a. Arti secara leksikal
Atyanta ring bibhatsa ikang kani ling mami- luka yang sangat kotor menurut saya, ametwaken sarwa malaning sarira-mengeluarkan semua kotoran badan, kawaranan dening kala marwuduk lwat-lwat-diselubungi oleh uratyang berlemak, yatikamuhara kung trsna lulut irikang rat-yang membuat terikatnya nafsu birahi di dunia ini, ascarya mata kami-aku terheran melihatnya, tan sipi karika bancananikang loka an mangkana-tidak luput dari bencana di dunia ini.
b. Analisis
Luka wanita seorang wanita itu sangatlah kotor, ia mengeluarkan semua kotoran badan, ia juga diselubungi urat yang berlemak yang membuat bernafsu orang yang melihatnya serta membuat dunia ini tidak luput dari bencana
c. Makna
Pengendalian dan pengekangan hawa nafsu.
18. Sloka 441
Matangnyandohana juga ikang stri ngaranya, tan rengon ujarujarnya, nguniweh tan pidengarakena sabisikbisiknya, hayweningetinget rupanya, nguniweh yan pamudangliga, apan kawulatanika, karengwani sabdanika, ya amuhara pangawesaning raga.

a. Arti secara leksikal
Matangnyandohana juga ikang stri ngaranya- yang namanya wanita harus dijauhi, tan rengon ujarujarnya-jangan didengar kata-katanya, nguniweh tan pidengarakena sabisikbisiknya-tidak juga bisik-bisikannya, hayweningetinget rupanya-jangan dipandang wajahnya, nguniweh yan pamudangliga-apalagi ia telanjang, apan kawulatanika-nanti kelihatan itu, karengwani sabdanika-terdengar kata-katanya, ya amuhara pangawesaning raga- itu akan membuat nafsu birahi.
b. Analisis
Kata Matangnyandohana juga ikang stri ngaranya yaitu bukan wanita itu harus dihindari, melainkan nafsu yang ditimbulkan oleh pikiran yang melihat keadaan wanita itu yang harus dijauhi. Sedangkan kata tan rengon ujarujarnya, nguniweh tan pidengarakena sabisikbisiknya yaitu kata-kata dan bisikan-bisikan maya akan mempengaruhi seseorang, oleh sebab itu jauhi dan janganlah didengarkan. Jika seseorang terpengaruh oleh kata-kata dan bisikan-bisikan dari pengaruh maya itu , maka seseorang akan membuat dirinya menjadi ya amuhara pangawesaning raga yaitu timbulnya nafsu birahi dalam pikiran seseorang.
c. Makna
Bagi seseorang yang akan melaksanakan asrama yang ke empat yaitu sanyasin ataupun bhiksuka sebaiknya tidak lagi memikirkan hal-hal yang berbau kenikmatan duniawi. Bukan semata-mata menjauhi wanita, karena tanpa perantara atau pendamping seorang wanita pendakian spiritual seseorang tidak akan sempurna.
19. Sloka 442
Haywa tatan yatna, haywa rakwa-rakwa angucapa rwarwan ibunta, wwang sanakta, anakta kuneng, apan aglis juga pangawecanikang indriyalolya ngaranya, yadyan sang pandita tuwi kakarsana sira denya.

a. Arti secara leksikal
Haywa tatan yatna-harus berhati-hati, haywa rakwa-rakwa angucapa rwarwan ibunta-jangan bersenda gurau bercakap berdua dengan ibu, wwang sanakta-saudara anda, anakta kuneng-juga anakmu, apan aglis juga pangawecanikang indriyalolya ngaranya-karena akan cepat sekali pengaruh indria namanya, yadyan sang pandita tuwi kakarsana sira denya- walaupun sang pendeta akan tertarik olehnya.
b. Analisis
Kata yatna yang artinya hati-hati, makna kata ini adalah mengisyaratkan agar didalam semua tindakan manusia harus mengedepankan wiweka, agar pertimbangan-pertimbangan baik dan buruk agar selalu menjadi pedoman dalam bertindak, kata angucapa yang berarti bersenda gurau mempunyai makna yaitu dalam berinteraksi kepada sesama manusia harus mengedepankan dharma sebagai tolak ukur terjadinya komunikasi. Dalam sloka ini dicontohkan interaksi atau hubungan dalam keluarga terdekat yaitu kepada ibu, saudara dan anak, ini mengisyaratkan bahwa kita dituntut untuk belajar pada lingkungan terdekat. indrialolya yaitu berubahnya indria. Indrialolya yang dimaksud adalah lebih menekankan pada hawa nafsu. salah satu musuh utama manusia adalah hawa nafsu, oleh karena itu pengendalian dan pengekangan sangat diperlukan. Dikatakan pada akhir sloka ini yaitu yadyan sang pandita tuwi kakarsana sira denya yang artinya walaupun sang pendeta akan tertarik olehnya. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupan insan manusia di dunia maya ini, karena semua itu bersumber dari pikiran.
c. Makna
Kata yatna dan indrialolya adalah ide utama yang membetuk makna dalam sloka ini. Kata yatna membentuk sikap pada diri manusia dalam hal bertindak atas dasar wiweka, sehingga indrialolya dapat dikendalian.




BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut :
1. Kitab Sarasamuscara merupakan salah satu kitab suci kelompok Nibandha yang membahas tentang ajaran Susila Dharma untuk mencapai empat tujuan hidup manusia yang disebut dengan Catur Purusa Arta yang terdiri atas Dharma, Artha, Kama dan Moksa.
2. Hermeneutika merupakan bentuk pendekatan kritis dan wacana bagi tindakan solutif terjadinya dialektika antara teks dan konteks dari teks-teks suci agama serta berupaya mengaitkan penafsiran teks-teks suci agama agar lebih dekat dengan problem kemanusiaan seperti ketidakadilan terhadap kaum perempuan.
3. Penafsiran ulang secara kritis terhadap teks-teks suci dari kitab sarasamuscaya ini mengarah pada spirit dan pesan baik pembebasan maupun keadilan, termasuk kesejahteraan manusia.
4. Ide utama yang membentuk makna dalam setiap kata dari kalimat dalam sloka ini adalah mengarah pada pembentukan sikap pada diri manusia dalam hal bertindak atau berbuat atas dasar wiweka yaitu suatu pertimbangan-pertimbangan pikiran yang terimplementasi lewat tingkah laku setiap manusia.
5. Kata yang membangun kalimat dalam sloka sarasamuscaya menjelaskan peranan pikiran yang menjadi pemimpin dalam segala gerak kehidupan di dunia ini dan pikiran juga yang menjadi mobilitas kehidupan manusia yang ditransformasikan dalam tindakan demi mencapai kebahagiaan hidup.
6. Makna kitab sarasamuscaya ini adalah sebagai ajang intropeksi untuk mengaktualisasikan dan mengekpresikan perbuatan setiap manusia dalam mengarungi kehidupan didunian ini dengan selalu mengedepankan dharma.
B. Saran
Dari simpulan hasil penelitian ini, dapat diajukan beberapa saran-saran yaitu sebagai berikut :
1. Pemahaman dan penafsiran yang keliru terhadap ajaran dan teks-teks agama dalam kitab sarasamuscaya yang khusus membahas tentang perempuan akan berpotensi melahirkan kekerasan dan memarjilkan kaum perempuan. serta bias gendernya, sering dijadikan referensi oleh pihak-pihak yang melakukan tindak kekerasan terhadap perempuan berbasis penafsiran.
2. Bagi umat Hindu di dalam melaksanakan aktivitas kehidupan beragama hendaknya harus bersumber pada sastra agama. Anggapan tentang tentang kitab Sarasamusccaya adalah sebuah teks besar yang patriarkhis dan penuh inkonsistensi yang mengarah pada ketidakadilan gender, di mana perempuan sebagai the second sexes dan merupakan cerminan dari berkuasanya budaya patriarki, di mana laki-laki lebih dipentingkan daripada perempuan adalah suatu anggapan yang keliru.
3. Bagi umat Hindu khususnya ajaran agama janganlah ajaran-ajaran agama dalam teks-teks suci yang tersirat dalam sloka-aloka dijadikan sebagai batas sebatas mengukur keimanan seseorang melainkan meneruskannya pada tingkat aksi yang tercermin melalui tingkah laku
4. Kesenjangan antara realitas dengan idealitas tentu saja harus dihilangkan melalui kerja-kerja intelektual praksis yang kritis terhadap teks-teks suci agama yang dijadikan pedoman. Ini diperlukan guna menyadarkan umat beragama bahwa kemunculan ajaran-ajaran agama tidak berada dalam ruang hampa, melainkan penuh dengan kepentingan.












DAFTAR PUSTAKA
Admin. 2006. Perempuan Hindu Di Panggung Sarasamuscaya. Pontianak
Budiman, Arief, 1985. Pembagian Kerja Secara Seksual, Sebuah Pembahasan Sosiologis tentang Peran Wanita di dalam Masyarakat. Jakarta, Gramedia.
Fakih, Mansour. 1997. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fatah, Abdul. 2002. Pedoman Pemberdayaan Rekonsiliasi Umat Beragama. Jakarta. Depag RI
Kajeng, I Nyoman. 2005. Sarasamuscaya . Surabaya. Paramita
Illich, Ivan.1998. Matinya Gender. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Mosse, Julia Cleves. 1996. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta. Rifka Annisa Women’s Crisis Center dan Pustaka Pelajar.
Moleong, J Lexy, 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung. Remaja Rosdakarya.
Ngurah,I Gusti Made dkk, 1999. Pedoman Pendidikan Agama Hindu. Surabaya. Paramita.
Nasir, Moh, 2003. Metode Penelitian. Jakarta. Ghalia Indonesia.
Saptari, Ratna dan Brigitte Holzner. 1997. Perempuan Kerja dan Perubahan Sosial. Sebuah Pengantar Studi Perempuan. Jakarta. Pustaka Utama Grafiti.
Soelaeman, M. Munandar.1998. Ilmu Sosial Dasar, Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung. Refika Aditama.
Suratmo. 2006. Hermeneutika dan Perempuan. Jakarta. Jurnal Univ.Paramadina.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar