Kamis, 05 November 2009

Ekonomi pendidikan

THE IMPACT OF VOCATIONAL EDUCATION ON HUMAN RESOURCE DEVELOPMENT IN CHINA

DAMPAK PENDIDIKAN KEJURUAN DALAM PENGEMBANGAN
SUMBER DAYA MANUSIA DI CHINA

Translate By :
IBM Arjana
1. Dr. Chich-Jen Shieh : Dept of International Business, Chang Jung Christian University
2. Dr. Fu-Jin Wang : Department of Tourism, Aletheia University
3. Dr. I-Ming Wang : Dept of International Business, Chang Jung Christian University
4. Dr. Jyh-Rong Chou Dean of Research and Technological Cooperation Fortune Institute of Technology, Taiwan





ABSTRACT

 Studi ini bertujuan untuk menganalisis dampak pendidikan kejuruan di Cina pada pembangunan sumber daya manusia, terutama dari aspek social, ekonomi dan pedagogi.
 Metode yang digunakan yaitu : studi kasus pada 3 wilayah yang Pendidikan Kejuruannya berpredikat baik dan 3 wilayah yang Pendidikan Kejuruannya berpredikat buruk yang tergambar dalam kesimpulan . Alasan 6 wilayah ini diambil yaitu sebagai perbandingan dalam rangka untuk menganalisis kondisi pendidikan kejuruan dan dampaknya terhadap pengembangan sumber daya manusia.
 Hasil analysis ini, Tentang dampak dari Pendidikan Kejuruan pada pembangunan sumber daya manusia di Cina akan diteliti dan hasil temuannya didiskusikan lebih lanjut.






PENDAHULUAN

 Selama periode 20 tahun kebijakan repormasi yang dianut China menyatakan bahwa pendidikan kejuruan dapat memberikan kemajuan yang significan terhadap teori maupun praktek. Dic (2002) menyatakan bahwa dengan adanya berbagai sekolah kejuruan dan program-program pelatihan telah membuat suatu perubahan yang significan. Pendidikan kejuruan menjadi komponen penting di Cina dan telah mendorong kemajuan teknologi dan perkembangan pesat ekonomi nasional
 Reformasi dan pengembangan pendidikan kejuruan yang dijalankan masih belum maksimal dan masih menghadapi kesulitan. Beberapa tempat belum menyadari pentingnya pendidikan kejuruan. Guo (2000) mengatakan bahwa sistem pemerintahan, sekolah dan kualitas pengajaran tidak dapat memenuhi tuntutan pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial. Jiang (2002) mengatakan bahwa regulasi karir belum dilaksanakan secara efektif dan hal ini telah mengakibatkan frustrasi dan kurangnya antusiasme di antara trainee. Huang (2001) mengatakan bahwa jumlah sekolah kejuruan antara perkotaan dan perdesaan tidak seimbang.
 Untuk mengatasi masalah tersebut maka Pemerintah China mengeluarkan suatu kebijakan pada bulan agustus 2002, yang dimaksudkan untuk mempromosikan pendidikan kejuruan dari semua aspek tata kelola pendidikan, termasuk anggaran keuangan dan publikasi promosinya.



Isu-Isu Relevan Pendidikan Kejuruan Di Cina

 Undang-undang kejuruan yang ditetapkan pada tahun 1996 yaitu tentang pendidikan kejuruan merupakan bagian penting dari program pendidikan nasional. Yang, Zhang . (2004) menunjukkan bahwa penting artinya untuk mempercepat pengembangan perekonomian masyarakat sekaligus meningkatkan professionalitas tenaga kerja.
 UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) tahun 1998. Dikatakan bahwa kejuruan atau pendidikan teknik bertujuan untuk membimbing siswa dalam menguasai keterampilan, pengetahuan khusus dan spesialisasi profesi atau kebutuhan perdagangan dalam area khusus.



Pengembangan Pendidikan Kejuruan Sejak Reformasi

 Aidan dan Brannick (2003) menyatakan bahwa teori Human capital, akan memberikan kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara, melalui peningkatan keterampilan dan kemampuan akan produksi dari tenaga kerja.
 Jiang (2007) menyatakan bahwa China memiliki populasi yang banyak dan ini merupakan potensi yang produktif dalam pengembangan pengetahuan ekonomi.
 Carnevale dan Desrochers (2002) menyatakan bahwa dunia pendidikan harus diarahkan kepada pendidikan kejuruan
 Xia (2005) mengatakan bahwa pendidikan kejuruan berperan aktif dan memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi dan kemajuan sosial.
 Jiao (2003) menyatakan bahwa 30% dari karyawan baru dalam perusahaan adalah lulusan sekolah menengah kejuruan.
 Yang, (2007) menyatakan bahwa menurut survei yang dilakukan oleh beberapa perusahaan, 95% lulusan sekolah kejuruan mendapat predikat memuaskan dan 65% memainkan peran yang cukup penting dalam masyarakat.
 Lee (2007) mengatakan bahwa menurut survei yang dilakukan oleh Beijing Meters and Instruments Technical School, 37,5% dari total karyawan dalam teknologi tinggi pada perusahaan di Zhongguan berasal dari Sekolah kejuruan dan 90% dari 600 karyawan Pabrik Pingdu Refrigerator, Haier Group di Provinsi Shandong, lulusan dari sekolah menengah kejuruan.















Tantangan Pendidikan Kejuruan Cina

 Tingkat pendidikan kejuruan Cina masih pada tataran junior college education level. Ini perlu ditingkatkan pada jenjang yang lebih tinggi. Karena kompetisi internasional menghendaki dan menuntut kemajuan yang lebih cepat.
 Laporan The world’s Management and Development Research Institute in Lausanne, Switzerland. menyatakan bahwa : jumlah research yang dihasilkan masih rendah dan membutuhkan para insinyur yang gualified
 Karena peristiwa-peristiwa sejarah, dimana daerah minoritas tidak memiliki akses untuk pengembangan pendidikan kejuruan. Sehingga mereka tidak mampu mendorong perkembangan masyarakat, baik ekonomi dan budayanya.




Permintaan Pendidikan Kejuruan Dari Ekonomi Pasar China

 Reformasi pendidikan
 Kerjasama internasional
 Persaingan pasar
 Membangun kesadaran pasar

 Penyesuaian struktur ekonomi, industri, perdagangan, serta sistem pendidikan.
 Zhang (2005) menyatakan bahwa dampak dari persaingan pasar memerlukan sistem pendidikan yang lebih terbuka ke pasar.
 Mengadakan kerjasama internasional dalam memenuhi pesanan pasar dalam dan luar negeri.
 Meningkatkan persaingan di bursa tenaga kerja dan sistem manajemen layanan,
 Respon cepat untuk mempersiapkan dan membangun kesadaran pasar dalam menghadapi persaingan asing dengan pembenahan lembaga pendidikan.
 Keempat item diatas merupakan misi dari reformasi pendidikan Cina.



Prospek Pengembangan Pendidikan Kejuruan Di Cina

 Pembaruan konsep pendidikan Cina, dengan jalan penyempurnaan sistem pendidikan, dan pengayaan konten pendidikan, penerapan teknik-teknik baru, peningkatan pendidikan tingkat administrasi, dan pertukaran guru.
 Dic (2002) menyatakan bahwa pendidikan kejuruan tingkat tinggi harus lebih antusias memperkenalkan kemajuan-kemajuan teknologi, referensi pelajaran, metode mengajar, dan teknologi pengajaran untuk membuka wawasan dan memperpendek kesenjangan atau jarak dari mereka, dan dengan demikian, akan mempercepat pembangunan.
 Liu (2000) menyatakan bahwa diera modern ini keprofesionalan dalam sebuah pos Sangat dibutuhkan tetapi yang lebih penting yang paling penting adalah kontribusinya terhadap pembangunan.
 Meng (2001) menyatakan bahwa untu mendapatkan pemahaman tentang tujuan pendidikan kejuruan menjadi penting, tidak hanya untuk tujuan di pos tertentu, tetapi untuk memperluas ke seluruh karier pekerjaan. Oleh karena itu hakikat pendidikan kejuruan akan berubah menjadi pendidikan seumur hidup.






METHODOLOGY

 Pembahasan ini akan mencari perbandingan pendidikan kejuruan pada daerah yang sedang berkembang dan daerah miskin atau terbelakang.
 Teknik analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif. Dimana akan mencari persamaan dan perbedaan antara daerah yang memiliki pendidikan kejuruan dan daerah yang tidak memiliki sistem pendidikan kejuruan.








Sampling

Penelitian ini mengambil sampel enam wilayah di Cina yang berbeda dari segi karakteristikya yaitu :

 Shanghai Huangpu District, sebuah daerah berkembang dengan karakteristik komersial
 Juye County Provinsi Shandong, sebuah daerah berkembang dengan pertanian sebagai industri primernya
 Changdao County Provinsi Shandong, sebuah daerah berkembang dengan nelayan sebagai industri primer
 Dongxiang County Provinsi Gansu, secara ekonomi dan sosial merupakan daerah miskin
 Zhangjiachuan County Provinsi Gansu, sebuah wilayah terbelakang dengan peternakan sebagai industri prime
 Jinzhai County Propinsi Anhui, daerah yang terbelakang dengan pertanian sebagai industri primernya






Data Collection

 Studi ini memilih beberapa objek, dengan melaksanakan studi kasus antara sekolah-sekolah kejuruan dan karyawan perusahaan yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan sekolah kejuruan.













Analysis of Data

Dalam studi ini dilakukan Langkah-langkah sebagai berikut:

 Membandingan pendidikan kejuruan antar kabupaten dengan perbandingan longitudinal dan transversal. Perbandingan Longitudinal berpusat pada analisis status quo. Perbandingan trannversal dimaksudkan untuk perbandingan antara daerah ekonomi maju dan daerah terbelakang.
 Teknik analisis yang digunakan yaitu analisis kualitatif
 Analisis ini akan menemukan metode dalam perubahan dan pengembangan pendidikan kejuruan, korelasi antara pendidikan dan ekonomi, serta saran yang konstruktif pada pengembangan pendidikan kejuruan, program pembangunan ekonomi, dan pola pertumbuhan ekonomi.





DISCUSSION AND CONCLUSIONS

 Perkembangan pendidikan kejuruan dalam hubungannya dengan pengembangan sumber daya manusia antar daerah melahirkan gaya dan pola yang berbeda dan Pengembangan sumber daya manusia melalui peningkatan pendidikan kejuruan pada tiap-tiap daerah menunjukan perbedaan significan.
 Daerah berkembang
 Perkembangan ekonomi, tingkat pembangunan, sumber daya manusia, jumlah perguruan tinggi, dan lembaga-lembaga penelitian akademis, berjalan sesuai koridor yang ditentukan serta sistem pendidikan kejuruan relative sempurna.
 Perkembangan SDM memberikan kontribusi terhadap laju perkembangan industri, pendidikan dan penelitian.
 Mempromosikan dan membimbing pengembangan ekonomi industri dan mentransformasi industri tradisional menjadi industri teknik modern.



 Daerah tertinggal
 Tidak bisa menahan laja persaingan yang ditimbulkan oleh WTO.
 Sistem pendidikan kejuruan yang terbatas
 Sarana infrastruktur
 Struktur ekonomi sangat lemah




Tantangan besar dan dampak dari perubahan struktur ekonomi, yang diwakili oleh lima aspek sebagai berikut:

1. Influence of the Industrial Structure
2. Contributions of Vocational Education to Human Resource Development
3. Impact of Labor Force Market
4. Impact of Hi-tech Industry
5. Impact of Specialized Scientific and Technical Personnel.




1. Influence of the Industrial Structure ( Pengaruh struktur ekonomi )
 Struktur industri Cina diatur dalam urutan hi-tech industri, industri jasa dan pertanian sesuai dengan proporsi GNP angkatan kerja. Pada tahun 2000, proporsi pertanian menurun dari 28,4% di tahun 1990 – 20,64% pada tahun 2000 dan diperkirakan akan penurunan lebih lanjut untuk 12,78% pada 2020. Proporsi industri hi-tech menunjukkan sedikit peningkatan dari 43.6% dari GNP di tahun 1990 - 48,80% pada tahun 2000 dengan penambahan hitungan menjadi 47,22% pada tahun 2020. Proporsi industri jasa telah meningkat pesat dari 28,0% di tahun 1990 - 30,56% pada tahun 2000 diproyeksikan untuk menjadi 40,00% pada 2020. Proporsi industri jasa di Cina akan tetap kecil sekitar 8% Namun, proporsi industri hi-tech akan mempertahankan tingkat yang sangat tinggi sekitar 10% lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi angkatan kerja






2. Contributions of Vocational Education to Human Resource Development ( kontribusi pendidikan kejuruan untuk pengembangan sumber daya mamusia )

 Pendidikan kejuruan mengubah paradigma pekerja tradisional menjadi pekerja yang lebih kompleks yang mengutamakan pengalaman dan skillnya untuk penguasaan pengetahuan dan teknologi.
 Pendidikan kejuruan memberikan pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan seseorang untuk beradaptasi lebih baik pada pengembangan sumber daya manusia. Ketika pengetahuan dan keterampilan semacam itu diterapkan dalam proses produksi, mereka dapat meningkatkan produktivitas dan mendorong pembangunan ekonomi.




3. Impact of Labor Force Market ( dampak pasar angkatan kerja )

 Kurangnya keterampilan pekerja
 Tidak menemukan posting yang ideal
 Hilangnya kesempatan baik pada pekerja
 Keahlian pekerja tidak memadai






4. Impact of Hi-tech Industry (dampak industri Hi-Tech )

Hi-tech industri China dibagi menjadi tiga yaitu :
 Pertama adalah penelitian dan pengembangan hi-tech.
 Kedua adalah industrialisasi hi-tech.
 Ketiga adalah infiltrasi dan pengembangan hi-tech ke dalam industri tradisional




5. Impact of Specialized Scientific and Technical Personnel (dampak ilmiah dan teknik khusus personil)

 Sangat mempengaruhi perkembangan Hi-Tech Industri Cina yang baru 3-4%, sedangkan jepang sudah 35%, Amerika 30% dan eropa perancis, Inggris dan Jerman 20%. Untuk membenahi laju perkembangan tesebut, maka sekolah kejuruan akan melatih para personil secara langsung sesuai dengan kondisi permintaan dan penawaran dari pasar dan permintaan dari industri hi-tech. Pekerja berkualitas tinggi yang diperlukan untuk setiap profesi. Pendidikan kejuruan menjadi saluran untuk eksploitasi sumber daya manusia.





REFERENCES

 LOOK AT THE COPY FILE





THE ENDS

 THANK YOU FOR YOUR ATTENTION

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar